<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349</id><updated>2011-12-27T18:06:57.535-08:00</updated><title type='text'>perumong budak beng Aek Silep</title><subtitle type='html'>"bunga rampai carut marut dunia pendidikan"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-4999756157058961476</id><published>2011-11-18T20:47:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T20:47:31.864-08:00</updated><title type='text'>PUASA atau kePUASAn?</title><content type='html'>Kata “puasa” dalam berbagai derivasinya, disebut 13 kali dalam al-Qur'an, dengan rincian 12 kali dengan kata shiam, namun hanya satu kali dengan kata shaum. Jelas terdapat diferensiasi antara shiam (merujuk kepada puasa yang seperti sekarang kita lakukan) dan shaum. &lt;br /&gt;Satu-satunya kata shaum dalam alquran berkaitan dengan seorang perempuan suci yang telah melahirkan Nabi Isa as, ia adalah Maryam. Setelah mengalirkan sungai di bawah kaki Maryam dan menjatuhkan kurma yang segar, Allah swt. berkata kepada Maryam yang mengalami rasa sakit karena akan melahirkan anak: “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." (QS. Maryam [19]: 26).&lt;br /&gt;Sayyid Haidar Amuli dalam Inner Secret of the Path berkata,” kita bergerak lebih jauh lagi dalam puasa kita. Kita berusaha mengendalikan diri kita lahir batin”. Secara lahir, kita mengendalikan indera lahiriah kita; seperti lidah dengan puasa bicara, telingan dengan puasa mendengar, mata dengan puasa melihat. Secara batin, kita berusaha mengendalikan fakultas batiniah kita, seperti pikiran dan imajinasi.&lt;br /&gt;Ketika Maryam puasa bicara, Allah menjadikan bayi dalam buaiannya berbicara dengan sangat jelas, menjawab hujatan banyak orang ketika Maryam kembali dari Mihrab dengan menggendong anaknya. Hikmah yang dapat ditangkap adalah ketika kita puasa bicara, Allah akan memperdengarkan kepada kita dengan sangat jernih suara hati nurani. Lewat hati, yang merupakan taman ilahi dalam diri, Allah berbicara. Dan ketika kita terlalu banyak bicara, kita tidak lagi sanggup mendengar suara Ilahi dalam hati nurani kita. Kita menjadi tuli karena kita terlalu bising.&lt;br /&gt;Jika ditarik dalam kehidupan kontemporer, maka dengan dengan mudah dapat ditemukan skenario-skenario yang relevan. Di dalam rumah tangga, konflik sering terjadi karena antara suami dan istri hanya ingin bicara tanpa ada pihak yang ingin mendengarkan. dalam skala yang lebih komunal, misalnya dalam suatu organisasi, kebisingan muncul karena para petinggi, pemangku jabatan, atau penentu kebijakan belajar berbicara tetapi tidak belajar mendengarkan. jika mau ditarik lagi dalam skala kosmos, maka bumi akan penuh kebisingan akibat semua orang berbicara tanpa ada yang mendengarkan. betapa akutnya bila orang berbicara tanpa adanya kemampuan bahkan keinginan untuk belajar mendengarkan dengan baik. Bumi (jika didengarkan dari langit), bagaikan stasiun radio yang overload pada channel.&lt;br /&gt;Nah, dalam konteks ramadhan kali ini, tepat sekali jika puasa untuk melatih “tidak”, karena kita cenderung melampiaskan “ya”. Mental manusia lebih berpihak pada “melampiaskan” daripada “mengendalikan”. Kita tidak hanya dilatih untuk “tidak” makan, “tidak” minum, “tidak” ribut-ribut, “tidak” bohong, “tidak” janji gombal, tetapi juga untuk “tidak” mengebiri amanat serta kepentingan orang banyak, apalagi orang-orang di bawah kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berminat membuat skrip skenario percakapan setan dalam bulan ramadhan kali ini, semoga ada yang mau mempertunjukkannya dalam panggung drama! Begini skenarionya: &lt;br /&gt;Berhubung cuti kerjaan, komunitas setan ngumpul di warung sambil tertawa terkekeh-kekeh terguncang-guncang sampai basah seluruh badannya oleh lelehan air matanya. Mereka mentertawakan hasil evaluasi Ramadhan pada seminggu pertama bulan Ramadhan kali ini. &lt;br /&gt;Setan belang ngomong, ”Puasa kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa. Anggaran belanja makanan dan minuman keluarga para pelaku puasa kok meningkat. Puasa kok meningkat cengengesannya, ribut jualan kue puasa, jajan puasa, kado puasa, lawakan puasa, ustadz puasa, album puasa, baju puasa .......... sampai politisasi puasa!”.&lt;br /&gt;Setan lain bereaksi, “bukankah itu mencerminkan suksesnya misi kita?”&lt;br /&gt;Setan yang pertama menjawab, “untuk melakukan keributan-keributan di bulan Ramadhan manusia tidak memerlukan pengaruh atau provokasi kita. Mohon diakui dengan kebesaran jiwa, bahwa kecerdasan manusia untuk mengotori hidupnya sendiri sudah jauh melebihi target maksimal nenek moyang kita para setan dahulu kala untuk merusak hidup manusia”.&lt;br /&gt;Setan lain menimpali, “Manusia itu tolol, untuk tidak mencuri saja mereka butuh kitab suci Allah, tak bisa mereka temukan sendiri dengan hati nurani dan akal sehatnya. Untuk tidak korupsi, orientasi target pribadi diatas kepentingan orang banyak dan menindas orang lemah saja mereka butuh konstitusi dan hukum formal. Itu pun tidak mereka patuhi. Jadi, untuk menghancurkan peradaban manusia, sama sekali tidak diperlukan setan iblis. Mereka sudah matang dan canggih menjalankan sistem budaya penghancur kehidupan anak cucu mereka sendiri”.&lt;br /&gt;Tak mau kalah, Setan belang menyahut lagi, “benar kawan, untuk tabungan hari tua saja mereka mengeruk dari kantong-kantong yang bukan miliknya, manipulasi administrasi, mark up anggaran, merancukan manajemen dan saling mencari kambing hitam.”&lt;br /&gt;Dengan mimik sedih dan menyesal, setan belang melanjutkan, “Saya sedih, anak cucu kita para setan di masa depan tidak punya pekerjaan lagi!”&lt;br /&gt;Skenario di atas, paling tidak mengingatkan kita untuk melatih “tidak” daripada “ya”. Hendaknya Ramadhan benar-benar untuk “PUASA”, bukan untuk melampiaskan “kePUASAn”. Mudah bukan mengucapkan “tidak” daripada “ya”? tapi mungkin sulit mengaktualisasikannya? Tertarik hati saya untuk menawarkan judul di atas: PUASA atau kePUASAn? Kita tinggal memilih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-4999756157058961476?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/4999756157058961476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2011/11/puasa-atau-kepuasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4999756157058961476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4999756157058961476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2011/11/puasa-atau-kepuasan.html' title='PUASA atau kePUASAn?'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-1050068929597170838</id><published>2011-11-18T20:40:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T20:40:33.042-08:00</updated><title type='text'>Memaknai Internet Sebagai Fenomena Sosial Generasi muda di Bangka</title><content type='html'>Prolog&lt;br /&gt;Dinas pendidikan Kabupaten Bangka meluncurkan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) di sekolah-sekolah di Kabupaten Bangka. Jardiknas merupakan jaringan internet gratis di sekolah-sekolah. Dengan jardiknas ini, para pelajar dapat mengakses internet melalui layanan hotspot tanpa mengeluarkan biaya. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka menyadari bahwa dalam dunia pendidikan tidak terlepas dari pemanfaatan internet untuk membantu memudahkan siswa maupun guru dalam mendapatkan informasi. &lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan perhatian pemerintah yang lebih concern untuk memajukan dunia pendidikan dengan memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Diharapkan dengan adanya program ini, peningkatan mutu pendidikan khususnya di Kabupaten Bangka dapat mengalami kemajuan yang progresif dan signifikan. &lt;br /&gt;Di lain pihak, fenomena internet akhir-akhir ini memang telah menjadi primadona di berbagai kalangan, khususnya para pelajar. Dari pelajar SD hingga mahasiswa. Penggunaan untuk keperluan beragam pun dengan mudah kita jumpai. Dari aktivitas mencari informasi, tren jejaring sosial (social networking), hingga game online dengan berbagai varian. Sangat mudah melacak keberadaan para pelajar di tempat-tempat yang menyediakan jasa layanan internet dan game online. Apalagi internet dapat diakses dengan berbagai fix gadget mulai dari Dekstop PC, hingga portable gadget seperti notebook, PSP (Playstation Portable), I-Pad, ponsel, dan hampir segala macam produk dilengkapi dengan web browser. Singkat kata, Internet seolah-olah menjadi kebutuhan sekunder yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet sebagai “Penyampai Informasi”&lt;br /&gt;Dari deskripsi fakta di atas, harus disadari bahwa hubungan para pelajar -lebih luas lagi masyarakat- dengan internet telah mengubah kehidupan sosial masyarakat, khususnya pelajar, terlepas dari dampak positif dan negatif yang dapat dilihat langsung di kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;Tidak dipungkiri bahwa pemanfaatan internet sebagai media pendidikan sangat membantu dalam peningkatan mutu pendidikan. Baik terhadap pelajar, guru, sistem administrasi, sistem pembelajaran, dan sebagainya. Keterbatasan informasi yang selama ini hanya didapatkan dari buku, dapat terakomodasi secara tepat dengan kehadiran internet ke sekolah-sekolah. &lt;br /&gt;Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk membantu memecahkan masalah-masalah pendidikan. Secara umum aplikasi teknologi dalam pendidikan akan mampu: &lt;br /&gt;1. menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan cepat&lt;br /&gt;2. membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru&lt;br /&gt;3. dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik secara langsung maupun sebagai produk sampingan&lt;br /&gt;4. menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat&lt;br /&gt;5. menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan belajar&lt;br /&gt;6. menambah daya tarik untuk belajar&lt;br /&gt;7. membantu mengubah sikap pemakai&lt;br /&gt;8. mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan sistem tradisional. &lt;br /&gt;Singkat kata, Jardiknas merupakan salah satu program untuk memanfaatkan internet secara maksimal dalam pendidikan. &lt;br /&gt;Namun yang perlu disadari, dengan peluncuran program Jardiknas ini bukan berarti kita lantas menunggu hasilnya. Harus ada regulasi ketat dan terus-menerus. Koordinasi antara orang tua, sekolah, dan pengelola program sendiri hendaknya dilakukan dengan baik. Hal ini bukan tanpa alasan. Karena faktanya, internet sebagai pusat informasi menyediakan beraneka ragam informasi. Kemampuan memilih informasi yang dibutuhkan menjadi keharusan, terutama di kalangan di pelajar. Penulis tertarik dengan pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka yang menyebutkan bahwa situs-situs yang tidak berhubungan dengan dunia pendidikan akan diblokir langsung oleh Jardiknas yang kontrolnya berada di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka (Bangka pos, edisi Selasa, 21 Desember 2010). Harus ada kejelasan sistem dan metode web sortir yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka mengingat Internet menyediakan jutaan halaman web. Evaluasi yang dilakukan hendaknya tidak hanya murni evaluasi teknologi, akan tetapi melibatkan faktor sosial dan kultural. Karena main idea internet bukanlah teknologinya, tetapi “How connecting people around the world”. Menurut penulis sendiri, penggunaan internet hanyalah salah satu esensi dari proses pendidikan yang tidak lain adalah penyajian informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet sebagai fenomena sosial&lt;br /&gt;Kondisi modern jelas mempengaruhi kepribadian manusia. Pengaruh modernitas terhadap manusia tercermin dari urbanisme, industrialisme, mobilitas, dan komunikasi massa. &lt;br /&gt;Berangkat dari pijakan di atas, fenomena internet bukan hanya dipandang sebagai suatu hal yang benar-benar bergerak di bawah panji teknologi. Hal yang sering dilupakan bahwa ekologi teknologi (internet) yaitu menghubungkan orang-orang dengan menembus dimensi ruang dan waktu. Fenomena  internet merupakan fenomena sosial. Karena manusia sebagai user memiliki peran menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung dari fenomena tersebut. Bagaimanapun juga sebuah produk dari teknologi bagaikan dua sisi mata uang. Ada dampak positif dan ada dampak negatif. Tergantung sisi mana yang lebih dominan dalam perkembangannya. Dalam hal ini perlu ketelitian dan penelitian terus-menerus dari berbagai pihak agar program Jardiknas ini mampu mengakomodasi segala perubahan positif.&lt;br /&gt;Toffler menyebutkan bahwa perubahan kehidupan manusia terbagi ke dalam tiga gelombang besar. First wave: gelombang pertanian, second wave: gelombang industri, dan third wave: gelombang teknologi informatika. Jelas sekali bahwa Internet sebagai salah satu produk teknologi informatika dapat membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia. &lt;br /&gt;Hal ini sejalan dengan ungkapan Seorang futuris, John Naisbitt. Ia mengemukakan bahwa “Kemajuan teknologi menghasilkan perubahan sosial” . Asumsi ini sangat rasional, karena perbedaan saat ini adalah tingkat percepatan perubahan teknologi sedemikian cepat sampai-sampai akomodasi sosial terhadap teknologi baru semakin tertinggal. Evolusi teknologi berlari jauh di depan evolusi budaya, dan kesenjangan antara keduanya semakin melebar .&lt;br /&gt;Yang terjadi saat ini adalah kurang adanya kesadaran mengenai perubahan yang ditimbulkan internet terhadap habitat/ komunitas (pelajar, mahasiswa, dll) dan hubungan-hubungan di dalamnya. Terlepas dari berbagai aspek, konsekuensi hubungan kita dengan internet tidak banyak dipertimbangkan. Sangat sedikit sekali orang memperhatikan hal ini. Kebanyakan orang melahap total apa yang disajikan internet. Bagaimana pola komunikasi kita, pola ketergantungan kita, sikap kita, apa saja yang tergantikan oleh peran internet. Dengan internet, sebaiknya kita bertanya: apa yang akan menjadi lebih baik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alienasi Dan Reduksi Karakter Generasi muda&lt;br /&gt;Zbigniew Brzezinski memperkenalkan istilah masyarakat technetronic , yaitu Peningkatan teknologi intelektual baru (kemudian mengacu pada Hi-Tech) yang lebih dibutuhkan untuk memproses informasi ketimbang memproses segenap kemampuan sumber daya manusia. Kenyataan yang dikemukakan Brzezinki benar adanya jika melihat kepada fakta  saat ini. Hal ini merupakan sikap salah kaprah terhadap kemajuan teknologi informasi, khususnya dalam pemanfaatan internet. &lt;br /&gt;Peristiwa ini dapat dilihat pada kenyataan saat ini. Para pengguna internet khususnya di Bangka-dalam hal ini pelajar, mahasiswa, dll- lebih banyak mengumpulkan informasi daripada mengeksplorasi diri dan mengembangkan ide. Kalau tidak percaya, silahkan lakukan riset! Berapa persen dari pelajar kita yang menjadi bloger, netizen, citizen journalist, unjuk bakat, gali potensi, dan berbagai pengembangan diri lainnya. Paling jauh yang dilakukan hanyalah promosi pribadi atau komunitas melalui jejaring sosial (facebook, twitter, dll). Sangat sedikit sekali pelajar kita di Bangka yang membangun pengetahuan dan inspirasi dengan menggunakan internet. Yang dilakukan pelajar kita adalah membuat kuburan informasi. Ketika berbicara konsumsi intelektualitas, sering kali yang dilakukan adalah berada pada kumpulan-kumpulan informasi yang memukau kita dan membuat sulit memilih informasi mana yang kita butuhkan. Karena yang kita lakukan adalah mengubur banyak-banyak informasi dalam memori kita. Bukan membuat suatu kerangka pengetahuan dengan menghubungkan informasi yang relevan.&lt;br /&gt;Selain itu, penggunaan internet lebih memanfaatkan internet sebagai pengisi waktu santai yang kebablasan. Keterlibatan dengan internet pada awalnya hanya untuk iseng, menghilangkan bosan, stress, refreshing, hingga akhirnya menjadi ketagihan. Motif ketergantungan ini dapat dijadikan indikator bahwa keterlibatan para user dengan internet seperti layaknya “seorang mabuk yang mencari bar dan hiburan malam”. Memang, analogi ini mungkin kurang tepat. Namun tendensi dan esensinya sama, yaitu mencari kesenangan sesaat untuk melupakan dan menghindari masalah, terjebak dalam kerumunan (menggunakan internet hanya untuk ikut-ikutan) sehingga kehilangan kreatifitas dan jati diri, dan terjebak rutinitas. Dalam studi sosiologi, inilah yang dimaksud dengan cultural shock, ketimpangan antara ritme kemajuan teknologi dan irama mentalitas manusia.&lt;br /&gt;Indikasi ini mengarah kepada gejala alienasi yang menjadi tema sentral dari pandangan para ilmuan terhadap manusia modern. Tema ini telah ada sejak kritik Karl Mark terhadap sistem kapitalistik. Perhatikan kutipan Mark dan Engels berikut ini: ia menyangkal dirinya sendiri, merasa lebih sengsara ketimbang bahagia, tak mampu mengembangkan kemampuan fisik dan intelektualnya secara bebas tetapi mempermalukan dirinya dan merusak pikirannya.  &lt;br /&gt;Alienasi berarti kehilangan dorongan hati untuk bergaul (motif egoisme, atomisasi), kehilangan kreatifitas (motif monoton, kerutinan), dan kehilangan kontrol terhadap tindakan (motif pasivisme), kehilangan otonomi (motif pemujaan komoditi yang merasuki semua orang), dan singkatnya menghancurkan “potensi kemanusiaan”. &lt;br /&gt;Adapun gagasan mengenai kerumunan (sikap ikut-ikutan) memang secara hakiki bertentangan dengan ide mengenai keunikan pribadi. Dalam sikap yang ikut-ikutan ini, kita tidak dikenal sebagai pribadi satu demi satu, melainkan kelompok. Identitas pribadi kita hilang karena larut dalam kelompok yang berkumpul. Yang ada hanyalah kerumunan dengan sifat anonimitasnya. Mengenai terjebaknya manusia dalam kerumunan komunitas (crowd), Soren Kierkegaard mengungkapkan bahwa:&lt;br /&gt;“Pernahkah Anda melihat sebuah perahu yang terjebak dalam lumpur? Perahu itu hampir tidak mungkin berlayar lagi karena tidak bisa didayung lagi… Dayung pun tidak dapat mencapai dasar sungai sehingga tidak ada tumpuan untuk menggerakkan perahu. Demikianlah seluruh generasi terjebak di pinggiran akal-budi yang berlumpur” &lt;br /&gt;Gejala lain dari alienasi dikemukakan oleh Martin Heidegger dalam karyanya Sein und Zeit yang dengan cerdas menggambarkan bagaimana hubungan manusia (Dasein) dengan  media/ alat (Zuhandenes ) secara filosofis. Menurut Heidegger, kita begitu kerasan bermukim dalam dunia alat-alat sehingga tidak menyadari lagi ketergantungan kepada teknik itu. Kesinambungan argumen Heidegger di sini dengan kritiknya atas teknik cukup jelas: dalam ketergantungan kita terhadap internet, sudah menentukan kita sebagai bingkai. Sebagai manusia (yang dianggap modern) berarti menjadi diri sendiri dengan perpanjangan melalui piranti-piranti. Seolah-olah hal tersebut menjadi bagian dari diri kita. Hal ini dapat dilihat pada sebagian orang. Bagaimana seseorang merasa tidak percaya diri ketika ponsel lupa dibawa, bagaimana seseorang mati gaya ketika jaringan internet down, seolah-olah semangat untuk berkreatifitas juga menjadi down. &lt;br /&gt;Hal ini sejalan dengan gambaran Lewis Yosblonsky dalam bukunya Robopath tentang peristiwa di akhir tahun 70-an tentang prajurit Amerika yang notabene berpendidikan menyerang sebuah kampung di Vietnam dengan sadis. Ketika seorang prajurit Amerika itu ditanya apa yang dipikirkannya ketika menembaki orang-orang yang tidak bersalah, ia berkata:&lt;br /&gt;“I did not down and think in terms of men, women, and children. They were all classified the same, and that was the classification we dealt withjust so many enemy soldiers. I felt then, and still do, that I acted just was directed, and I carried out the orders that I was green, and I do not fell wrong in doing so…” &lt;br /&gt;Lokus Kutipan di atas bukanlah pada tindakan yang mereka lakukan. Namun bagaimana pembentukan psikologis yang mereka (prajurit Amerika) yang dimulai dari suatu pembentukan mesin-mesin mekanis dari pada pembentukan pribadi manusia. Meminjam istilah Yosblonsky, potongan pengakuan di atas menyiratkan bahwa kebanyakan manusia-manusia modern (Era teknologi informasi) sudah menjadi robopath, yaitu makhluk yang lahir dalam masyarakat yang memuja efisiensi, keteraturan yang ketat, prediktibilitas, yang semuanya mekanis. Hal inilah yang mesti disadari oleh kita semua.&lt;br /&gt;Tahap pengkerdilan inti manusia ini tidak hanya sampai di sini, jika hal dianggap sebagai ketakutan yang berlebihan, dan bila tidak disikapi, bukan tidak mungkin robopath ini mengalami metamorphosis menjadi zombie . Karakter zombie merupakan penggambaran yang tepat terhadap tahap alienasi.&lt;br /&gt;Selain zombie, C. Wright Mills menyebut istilah Cheerful Robot, yaitu manusia yang berusaha mengatasi kecemasan eksistensial mereka dalam hiburan, kenikmatan sensual (dan terutama sekali, seksual).  Dalam keadaan ini, manusia yang melarikan diri dari kegelisahan jiwanya dengan mengonsumsi produk-produk (berupa barang dan jasa) yang mewah, atau melakukan wisata ke tempat-tempat yang menyenangkan, atau melakukan berbagai macam permainan, atau menenggelamkan diri dalam kenikmatan sensual (dan seksual). Semuanya dilakukan tanpa kesadaran psikologis (psychological conscious) dan tunduk pada rekayasa psikologis berupa kesenangan-kesenangan sesaat. &lt;br /&gt;Dengan deskripsi di atas, silahkan analisis dan bandingkan sendiri dengan berbagai kasus misalnya: masalah pelecehan seksual antar pelajar, kehamilan di luar nikah, pornografi di kalangan generasi muda kita. Masalah ini dimulai dan diketahui melalui informasi awal yang diterima oleh mereka melalui berbagai media, salah satunya adalah internet sebagai pusat informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;Pembahasan di atas mungkin dianggap terlalu ekstrem dan berlebihan. Namun hal inilah yang dimaksudkan penulis, mengingat selama ini tulisan-tulisan mengenai teknologi (khususnya internet) lebih dipandang sebagai fenomena teknologi sendiri. Padahal, ketika teknologi sampai di tangan manusia, maka ia bukan hanya sekedar kajian teknologi murni. Kebanyakan tulisan memandang teknologi sebagai prioritas kajian, sehingga yang tampak kadang-kadang hanya keunggulan serta kelemahan fitur dari suatu teknologi, dalam hal ini internet. Tulisan ini hanya sebuah awal dari berbagai kemungkinan, yang memerlukan tindak lanjut dari berbagai pihak.&lt;br /&gt;Hal yang sering dilupakan oleh kebanyakan kita adalah ekologi teknologi, yaitu bagaimana ketika internet digunakan oleh suatu habitat (dalam hal ini generasi muda) yang tentu saja mempunyai kultur dan kualitas kemanusiaan yang berbeda baik dipengaruhi oleh faktor geografis, sosial, budaya, psikologis. Bagaimana sikap terhadap internet di kalangan pelajar kita di tengah hiruk pikuk modernitas? Bagaimana kesiapan kondisi intelektual, emosional, dan spiritual generasi muda kita di tengah dunia dimana manusia bukan lagi sebagai makhluk innosen yang lahir untuk mendambakan kebahagiaan dan ketentraman jiwa dalam arti yang sederhana? Seberapa besar kontribusi internet dalam pengembangan diri generasi muda di saat manusia bekerja sangat keras untuk menghidupi gaya, beban psikologi artifisial, beban ekonomi? Adakah nilai-nilai yang hilang dan tergantikan di tengah-tengah arus komunikasi informasi global yang lebih cepat dari hitungan detik jarum jam? &lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya menuntut sikap partisipatif-proaktif bagi segenap kalangan yang peduli terhadap generasi muda kita. Kita tidak boleh merasa “cukup aman” hanya dengan “memblokir situs-situs yang tidak berhubungan dengan pendidikan”. Penulis tergelitik untuk kembali mengajukan pertanyaan di awal, Apa yang menjadi lebih baik?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rujukan&lt;br /&gt;Miarso, Yusuf Hadi, 1981. Penerapan Teknologi Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Universitas Terbuka. &lt;br /&gt;Sztompka, Piotr, 2010. The Sociology of Social Change, Terj: Alimandan, Jakarta: Prenada Media Group. &lt;br /&gt;Naisbitt, John, 2007. Mind Set, Jakarta: Daras books. &lt;br /&gt;Nadjib, Emha Ainun, 2007. Tidak. Jibril Tidak Pensiun, Yogyakarta: Progress.&lt;br /&gt;Tjaya, Thomas Hidya, 2010. Kierkeegard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, Jakarta: KPG.&lt;br /&gt;Hardiman, Frans Budi, 2008. Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit,  Jakarta: KPG. &lt;br /&gt; Rakhmat, Jalaluddin, 2006. Islam dan Pluralisme, Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan, Jakarta: Serambi.&lt;br /&gt;Bangka Pos, edisi Selasa, 21 Desember 2010, Tribun Bangka,  Dinas Pendidikan Luncurkan Jardiknas, Jaringan Internet Gratis di Sekolah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-1050068929597170838?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/1050068929597170838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2011/11/memaknai-internet-sebagai-fenomena.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/1050068929597170838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/1050068929597170838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2011/11/memaknai-internet-sebagai-fenomena.html' title='Memaknai Internet Sebagai Fenomena Sosial Generasi muda di Bangka'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-4580236317541413104</id><published>2010-12-16T07:22:00.001-08:00</published><updated>2010-12-16T07:22:25.999-08:00</updated><title type='text'>PETA PEMIKIRAN TOKOH: K.H. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR)</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Salah satu jenis penelitian sejarah adalah penelitian biografis, yaitu penelitian terhadap kehidupan seorang tokoh dalam hubungannya dengan masyarakat; sifat, watak, pengaruh pemikiran dan idenya, serta pembentukan watak tokoh tersebut selama hayatnya. &lt;br /&gt;Dalam kajian studi Islam, wilayah garapan studi tokoh merupakan salah satu bidang yang sangat memberikan pengaruh, baik terhadap interpretasi terhadap pemikiran tokoh tersebut maupun implikasi pemikirannya untuk dijadikan acuan dalam pengembangan studi berikutnya.&lt;br /&gt;Di Indonesia, nama K.H. Abdurrahman Wahid (selanjutnya dipanggil Gus Dur ) sudah tidak asing lagi. Baik sebagai intelektual muslim, mantan presiden ke-4 RI,  tokoh pluralis, HAM, budayawan, dan masih banyak lagi predikat yang disandang oleh tokoh ini. Banyak orang khususnya masyarakat di Indonesia pada umumnya- mengenal tokoh ini sebagai mantan presiden RI, sedangkan di dunia internasional, Gus Dur dikenal karena diakui sebagai tokoh pemikir Islam yang cukup berpengaruh. Kesuksesan dan kebesaran tokoh ini tak bisa dilepaskan dari dua lingkungan, pesantren dan Nahdlatul Ulama. Kedua lingkungan inilah yang kemudian kelak memberikan warna tersendiri terhadap pandangan-pandangannya tentang keislaman, budaya, sosial, ekonomi dan politik yang mendorong kontribusi Islam pada pluralisme, keadilan sosial, dan demokrasi, HAM, dan lain-lain. Pandangannya tentang pentingnya watak kosmopolitan dalam peradaban Islam banyak dipengaruhi oleh literatur keilmuan klasik. Hal ini tentunya mengisyaratkan bahwa wawasan keilmuannya tidak diragukan lagi.&lt;br /&gt;Pada sisi pemikiran, sejak terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidhiyyah PBNU pada tahun 1984, Gus Dur telah menjadi salah seorang intelektual muslim Indonesia yang sangat berpengaruh dan diperhitungkan. Hal ini bukan saja didukung oleh posisinya di NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, melainkan juga karena percikan-percikan pemikirannya yang progresif tentang Islam, pluralisme, Pancasila, dan demokrasi. Douglas E Ramage, Greg Barton, Adam Schwarz, Mitsuo Nakamura, dan Einar M. Sitompul, secara umum—meskipun tersirat—sepakat menyebutnya sebagai salah seorang intelektual Indonesia yang paling berpengaruh dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer dengan corak pemikiran Islam yang kritis dan progresif. &lt;br /&gt;Bagi saya, Gus Dur adalah sesuatu yang menarik dan sangat berarti bagi pengayaan intelektualisme Indonesia dan catatan biografi sosio-politiko-intelektual seorang pemikir dan pejuang demokrasi di Indonesia. Hipotesis bahwa Gus Dur adalah tokoh multidimensi—sebagai agamawan, politikus, politisi, budayawan, feminis, dan sufi—hanya bisa diungkap dalam keseluruhan peta pemikiran dan gerakan sosial di Indonesia.&lt;br /&gt;Signifikansi di atas, cukup memberikan alasan yang reasonable bahwa tokoh ini layak diangkat dalam studi pemikiran Islam, terutama dalam pembahasan pemikiran modern dalam Islam. Tentunya, dari sini akan menjadi jelas mana dimensi ontologis dan epistemologis pemikiran Gus Dur—yang oleh beberapa ahli filsafat ilmu bisa bebas nilai—dan mana dimensi aksiologisnya yang tidak bisa mengabaikan sistem nilai di mana pemikiran itu hendak diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Dari latar belakang di atas, dapat diajukan beberapa pertanyaan sebagai rumusan masalah, yakni:&lt;br /&gt;1. Bagaimana latar belakang kehidupan Gus Dur?&lt;br /&gt;2. Apa tema pokok pemikiran Gus Dur?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;LATAR BELAKANG INTELEKTUAL K.H ABDURRAHMAN WAHID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sketsa Sosiobiografi Gus Dur&lt;br /&gt;All religions insist on peace. From this we might think that the religious struggle for peace is simple … but it is not.  The deep problem is that people use religion wrongly in pursuit of victory and triumph. This sad fact then leads to conflict with people who have different beliefs. &lt;br /&gt; -KH Abdurrahman Wahid- &lt;br /&gt;Ungkapan di atas menampilkan wajah Gus Dur yang pluralis demi menjaga kedamaian dan kerukunan antar sesama manusia. Untuk memahami pemikiran beliau yang penulis rasa tidak mudah, ada baiknya memahami latar belakang kehidupannya dan jalur keilmuannya. &lt;br /&gt;Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940 . Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Berdasarkan silsilah keluarga, Gus Dur mengaku memiliki darah Tionghoa yakni dari keturunan Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V. &lt;br /&gt;Pada tahun 1957, setelah lulus SMEP Yogyakarta ia pindah ke Magelang untuk memulai pendidikan Islam di Pondok Pesantren Tegalrejo. Ia menyelesaikan pendidikannya dalam waktu dua tahun dari yang semestinya, yaitu empat tahun. Tahun 1959, ia pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan kemudian nyantri lagi di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Di Tambakberas, ia sempat menjadi guru dan menjadi kepala madrasah dan pada saat yang sama mengasah bakatnya sebagai penulis untuk majalah sastra “Horizon” dan majalah kebudayaan “Budaya Jawa”. &lt;br /&gt;Tahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama RI untuk belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir pada Department of Higher Islamic and Arabic Studies. Di Mesir, ia terlibat aktif di Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi penulis untuk majalah asosiasi tersebut. Selain itu, ia juga sempat dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia di Mesir. Pembelajaran Bahasa Arab di Mesir membuatnya tidak nyaman. Menurutnya, materi yang diberikan sudah  banyak ia pelajari dan ia melakukan kritik serta menolak metode belajar yang digunakan oleh pihak universitas.   &lt;br /&gt;Hal di atas yang mungkin menyebabkan kegagalannya di Universitas Al-Azhar. Pihak universitas memberitahu dirinya untuk mengulang pelajaran. Namun, pada saat bersamaan ia menerima beasiswa dari Universitas Baghdad, Irak. Ia pun pindah ke Irak dan masuk fakultas Sastra dan Kebudayaan Arab. Universitas inilah yang menyelamatkan pendidikan pasca sarjananya, apalagi ia sangat menikmati lingkungan barunya dan giat belajar. Sehingga pendidikannya di Universitas Baghdad selesai tahun 1970. Ia kemudian pergi ke Belanda untuk belajar di Universitas Leiden. Namun sayang, ia harus merasa kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di Leiden. Ia kemudian pergi ke Jerman dan Perancis sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1971. &lt;br /&gt;Selesai masa studinya, Gus Dur pun pulang ke Indonesia dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Gus Dur terjun dalam dunia jurnalistik sebagai kaum ‘cendekiawan’ muslim yang progresif yang berjiwa sosial demokrat. Pada masa yang sama, Gus Dur terpanggil untuk berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Hal ini dilakukan demi menjaga agar nilai-nilai tradisional pesantren tidak tergerus, pada saat yang sama mengembangkan pesantren. Hal ini disebabkan pada saat itu, pesantren berusaha mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Karir KH Abdurrahman Wahid terus merangkak dan menjadi penulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya. Meskipun memiliki karir yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis Es Lilin istrinya. &lt;br /&gt;Baru pada tahun 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan sebagai guru di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Setahun kemudian ia menambah pekerjaannya dengan menjadi guru kitab Al-Hikam. Tahun 1977, Gus Dur bergabung dengan Universitas Hasyim Asyari dan menjadi Dekan pada Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam. Di universitas ini, ia mengajar mata kuliah tambahan seperti pedagogie, syariat Islam, dan misiologi.  Hal ini mungkin menyebabkan ketidak senangan beberapa pihak di kalangan universitas, sehingga ia mendapat rintangan dalam mengajar mata kuliah tersebut. Namun ia tidak pantang menyerah. Hal ini terbukti hingga sampai akhir hayatnya terus berjuang sesuai dengan apa yang ia yakini kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Terjun ke Nahdlatul Ulama (NU)&lt;br /&gt;Pada awal  1980-an, tepatnya tahun 1979,  Gus Dur terjun mengurus Nahdlatul Ulama (NU) setelah tiga kali ditawarin oleh kakeknya. Dalam beberapa tahun, Gus Dur berhasil mereformasi tubuh NU sehingga membuat namanya semakin populer di kalangan NU. Pada Musyawarah Nasional 1984, Gus Dur didaulat sebagai Ketua Umum NU. Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.&lt;br /&gt;Selama memimpin organisasi massa NU, Gus Dur dikenal kritis terhadap pemerintahan Soeharto.  Pada Maret 1992 , Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila. Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Presiden RI ke-4&lt;br /&gt;Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangkan 12% suara dengan PDI-P memenangkan 33% suara . Dengan kemenangan partainya, Megawati memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun, PDI-P tidak memiliki mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai Muslim. Poros Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah. Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggung jawaban Habibie dan ia mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara. &lt;br /&gt;Pasca kejatuhan rezim Orde Baru pada 1998, Indonesia mengalami ancaman disintegrasi kedaulatan negara. Konflik meletus dibeberapa daerah dan ancaman separatis semakin nyata. Menghadapi hal itu, Gus Dur melakukan pendekatan yang lunak terhadap daerah-daerah yang berkecamuk. Terhadap Aceh, Gus Dur memberikan opsi  referendum otonomi dan bukan kemerdekaan seperti referendum Timor Timur.  Pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh dilakukan Gus Dur dengan mengurangi jumlah personel militer di Negeri Serambi Mekkah tersebut.  Netralisasi  Irian Jaya, dilakukan Gus Dur pada 30 Desember 1999 dengan mengunjungi ibukota Irian Jaya. Selama kunjungannya, Presiden Abdurrahman Wahid berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Doktor kehormatan dan Penghargaan Lain&lt;br /&gt;Dikancah internasional, Gus Dur banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dibidang humanitarian, pluralisme, perdamaian dan demokrasi  dari berbagai lembaga pendidikan diantaranya : Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000), Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000), Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000), Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000), Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000), Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000), Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002), Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003), Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003), Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003). Penghargaan-penghargaan lain : Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991), Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993), Bapak Tionghoa Indonesia (2004). Pejuang Kebebasan Pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Gus Dur Wafat &lt;br /&gt;Gus Dur wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, terutama gangguan ginjal, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur. Gus Dur di makamkan di Jombang Jawa Timur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;TEMA-TEMA POKOK PEMIKIRAN GUS DUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pribumisasi Islam&lt;br /&gt;Dalam soal Islam dan kaitannya dengan masalah sosial budaya, menarik kiranya untuk dikemukakan kritik Gus Dur terhadap gejala yang ia sebut sebagai “Arabisasi”. Kecenderungan semacam itu nampak, misalnya, dengan penamaan terhadap aktivitas keagamaan dengan menggunakan bahasa Arab. Itu terlihat misalnya dengan kebanggaan orang untuk menggunakan kata-kata atau kalimat bahasa Arab untuk sesuatu yang sebenarnya sudah lazim dikenal. &lt;br /&gt;Latar belakang dari konsep pribumisasi Islam didasari oleh kecenderungan untuk memanifestasikan kebudayaan Islam dalam kehidupan bangsa. Kecenderungan ini menurut Gus Dur secara umum dibagi menjadi dua, yaitu kecenderungan untuk formalisasi ajaran Islam dalam seluruh manifestasi kebudayaan bangsa dan kecenderungan untuk menjauhi sedapat mungkin menjauhi formalisasi ajaran Islam tersebut. Pribumisasi Islam merupakan bentuk kontekstualisasi ajaran Islam secara substantif dengan menghayati nilai-nilai universal ajarannya sehingga Islam senantiasa mampu berperan dan tidak kehilangan relevansinya dalam kehidupan manusia saat ini dan dalam menyikapi kebudayaan lain sehingga Islam tidak kehilangan jati dirinya. &lt;br /&gt;Hal yang perlu dipahami dari konsep ini bahwa pribumisasi Islam yang disuarakan oleh Gus Dur bukan sebagai kebudayaan baru yang merupakan alternatif bagi kita saat ini. Namun konsep pribumisasi Islam merupakan internalisasi ajaran Islam sesuai dengan perkembangan budaya Indonesia yang khas. Menurut penulis sendiri, upaya ini merupakan kerangka dialogis untuk  meminimalisir ketegangan antara agama dan budaya yang sampai saat ini tidak begitu sulit untuk kita lacak di kehidupan masyarakat Indonesia. Mengenai hal ini ditegaskan oleh Gus Dur bahwa:&lt;br /&gt;Pribumisasi Islam bukan sebuah upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan budaya-budaya setempat, akan tetapi justru agar budaya tidak hilang. Pribumisasi Islam adalah kebutuhan kebutuhan bukan untuk menghindarkan polarisasi antara agama dan budaya, sebab polarisasi demikian memang tak terhindarkan. Lebih dari itu, pribumisasi mencoba menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan  ….. bahwa ketika Islam berkembang ia sesungguhnya tidak akan pernah betul-betul sama dari satu tempat ke tempat yang lain dari waktu ke waktu. Islam akan membentuk sebuah tradisi kultural tersendiri dimana ia tumbuh dan berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini memiliki benang merah dengan statement brilian dan berani dari seorang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang membedakan antara “Muhammad yang Nabi” dan “Muhammad yang Arab” dalam karyanya “al-mankhul min Ta’liqat al-Usul”, sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;Jika aktivitas Nabi Muhammad SAW tersebut masih dalam batas-batas aktivitas kebiasaan budaya seperti makan, minum, berdiri, duduk, bersandar dan tidur miring ke kanan, maka sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan hukum. Sebagian pakar hadits berpendapat bahwa mengikuti Nabi secara total adalah sunnah, dan pendapat inilaih yang merupakan kesalahan berpikir. &lt;br /&gt;Pemetaan ini sangatlah penting, sehingga Imam Ghazali, seorang pengarang prolific, telah sejak dini melakukan pemisahan antara sabda Nabi yang bersifat budaya kultural dan pesan Nabi sebagai advise keagamaan yang harus diikuti dan bersifat mengikat. Ghazali adalah ulama yang pertama kali berani membuat garis demarkasi antara mana yang “Arabis” dan mana yang “Islamis”. Hal ini sejalan dengan style pemahaman Gus Dur untuk menarik garis demarkasi antara mana yang “pure Islam” dan mana yang “bias kultur Arab”.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Gus Dur menunjuk penyebutan Fakultas Keputrian dengan sebutan kulliyatul bannat di UIN. Juga ketidakpuasan orang awam jika tidak menggunakan kata “ahad” untuk menggantikan kata “minggu” , Padahal kata Minggu, sebenarnya berasal dari bahasa Portugis, “jour dominggo”, yang berarti hari Tuhan.dan sebagainya. Seolah- olah kalau tidak menggunakan kata-kata berbahasa Arab tersebut, akan menjadi “tidak Islami” atau ke-Islaman seseorang akan berkurang karenanya. Formalisasi seperti ini, menurut Gus Dur, merupakan akibat dari rasa kurang percaya diri ketika menghadapi “kemajuan Barat” yang sekuler. Maka jalan satu-satunya adalah dengan mensubordinasikan diri ke dalam konstruk Arabisasi yang diyakini sebagai langkah ke arah Islamisasi. &lt;br /&gt;Dengan contoh di atas, Arabisasi telah berkembang menjadi Islamisasi -dengan segala konsekuensinya. Hal ini pula yang membuat banyak aspek dari kehidupan kaum muslimin yang dinyatakan dalam simbolisme Arab. Atau dalam bahasa tersebut, simbolisasi itu bahkan sudah begitu merasuk ke dalam kehidupan bangsa-bangsa muslim, sehingga secara tidak terasa Arabisasi disamakan dengan Islamisasi. Padahal Arabisasi bukanlah Islamisasi. Gus menerangkan bahwa: &lt;br /&gt;Dua istilah ini memiliki implikasi yang berbeda, meski bermula pada pemahaman teks-teks keislaman, al-Qur’an dan Hadis. Namun demikian, ketika mendekati teks-teks tersebut senantiasa meniscayakan adanya korelasi dan hubungan erat dengan kondisi historis dan sosial yang ada di sekitarnya. Dalam konteks ini pula lah, sebuah hadis harus dipahami secara cermat dalam kapasitas apakah Muhammad sebagai salah satu orang Arab dengan segala setting kulturalnya, atau apakah Muhammad sebagai Rasul yang membawa pesan-pesan Ketuhanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat kenyataan di atas, Gus Dur mempunyai persangkaan bahwa kaum muslimin di Indonesia, sekarang justru sedang asyik bagaimana mewujudkan berbagai keagamaan mereka dengan bentuk dan nama yang diambilkan dari Bahasa Arab. Formalisasi ini, tidak lain adalah kompensasi dari rasa kurang percaya diri terhadap kemampuan bertahan dalam hadapi “kemajuan Barat”. Seolah-olah Islam akan kalah dari peradaban Barat yang sekuler, jika tidak digunakan kata-kata berbahasa Arab. Tentu saja rasa kurang percaya diri ini juga dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin sekarang di seluruh dunia. &lt;br /&gt;Sebenarnya kritik Gus Dur terhadap “Arabisasi” itu sudah diungkapkan pada tahun 1980-an, yakni ketika ia mengungkapkan gagasannya tentang “pribumisasi Islam”. Ia meminta agar wahyu Tuhan dipahami dengan mempertimbangkan faktor–faktor kontekstual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilannya. Sehubungan dengan hal ini, ia melansir apa yang disebutnya dengan “pribumisasi Islam” sebagai upaya melakukan “rekonsiliasi” Islam dengan kekuatan–kekuatan budaya setempat, agar budaya lokal itu tidak hilang. Di sini pribumisasi dilihat sebagai kebutuhan, bukannya sebagai upaya menghindari polarisasi antara agama dengan budaya setempat. &lt;br /&gt;Pribumisasi juga bukan sebuah upaya mensubordinasikan Islam dengan budaya lokal, karena dalam pribumisasi Islam harus tetap pada sifat Islamnya. Pribumisasi Islam juga bukan semacam “jawanisasi” atau sinkretisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa merubah hukum itu sendiri. Juga bukannya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan–kebutuhan dari budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman nash, dengan tetap memberikan peranan kepada ushul fiqh dan qâidah fiqh. Sedangkan sinkretisme adalah usaha memadukan teologi atau sistem kepercayaan lama, tentang sekian banyak hal yang diyakini sebagai kekuatan gaib berikut dimensi eskatologisnya dengan Islam, yang lalu membentuk panteisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pandangan Tentang Negara Islam dan Pancasila&lt;br /&gt;Benang merah yang sangat penting dari pemikiran Gus Dur adalah penolakannya terhadap formalisasi, ideologisasi, dan syari’atisasi Islam. Sebaliknya, Gus Dur melihat bahwa kejayaan Islam justru terletak pada kemampuan agama ini untuk berkembang secara kultural. Dengan kata lain, Gus Dur lebih memberikan apresiasi kepada upaya kulturalisasi (culturalization).&lt;br /&gt;Ketidaksetujuan Gus Dur terhadap formalisasi Islam itu terlihat, misalnya terhadap tafsiran ayat Al Qur’an yang berbunyi “udhkuluu fi al silmi kaffah”, yang seringkali ditafsirkan secara literal oleh para pendukung Islam formalis. Jika kelompok Islam formalis yang menafsirkan kata “al silmi” dengan kata “Islami”, Gus Dur menafsirkan kata tersebut dengan  perdamaian”. &lt;br /&gt;Menurut Gus Dur, Bermula dari ayat inilah muncul istilah yang sebenarnya masuk dalam kategori al-aktha’ asy-sya’iah (kesalahan-kesalahan yang populer) yaitu idiom “Islam Kaffah” yang hanya dikenal dalam komunitas muslim Indonesia yang tidak begitu akrab dengan kaidah-kaidah gramatikal Arab. Istilah “Islam Kaffah” tidak hanya merupakan tindakan subversif gramatikal tetapi juga pemaksaan istilah yang kebablasan. Kalangan fundamentalis sering merujuk “Islam Kaffah” ini sebagai doktrin teologis. Doktrin ini di tangan mereka mengalami pergeseran, yakni ke arah ideologisasi dengan mendasarkan pada ayat ini. Idiom “Islam Kaffah” ini sangat sulit difahami sebagai sebuah bentuk kalimat ‘sifat dan mausuf (yang disifati), belum lagi diajukan pertanyaan apakah kata ‘Kaffah’ dalam ayat tersebut sebagai keterangan dari kata ganti yang ada dalam “udkhulu” yaitu dlamir “antum” atau keterangan dari “as-silmi”. &lt;br /&gt;Konsekuensi dari penafsiran tersebut mempunyai implikasi luas. Mereka yang terbiasa dengan formalisasi, akan terikat kepada upaya-upaya untuk mewujudkan “sistem islami” secara fundamental dengan mengabaikan pluralitas masyarakat. Akibatnya, pemahaman seperti ini akan menjadikan warga negara non-Muslim menjadi warga Negara kelas dua. Bagi Gus Dur, untuk menjadi Muslim yang baik, seorang Muslim kiranya perlu menerima prinsip-prinsip keimanan, menjalankan ajaran (rukun) Islam secara utuh, menolong mereka yang memerlukan pertolongan, menegakkan profesionalisme, dan bersikap sabar ketika menghadapi cobaan dan ujian. Konsekuensinya, mewujudkan sistem Islami atau formalisasi tidaklah menjadi syarat bagi seseorang untuk diberi predikat sebagai muslim yang taat.&lt;br /&gt;Masih dalam konteks formalisasi, Gus Dur juga menolak ideologisasi Islam. Bagi Gus Dur, ideologisasi Islam tidak sesuai dengan perkembangan Islam di Indonesia, yang dikenal dengan “negerinya kaum Muslim moderat”. Islam di Indonesia, menurut Gus Dur, muncul dalam keseharian kultural yang tidak berbaju ideologis. Di sisi lain, Gus Dur melihat bahwa ideologisasi Islam mudah mendorong umat Islam kepada upaya-upaya politis yang mengarah pada penafsiran tekstual dan radikal terhadap teks-teks keagamaan. Implikasi paling nyata dari ideologisasi Islam adalah upaya-upaya sejumlah kalangan untuk menjadikan Islam sebagai ideologi alternatif terhadap Pancasila, serta keinginan sejumlah kelompok untuk memperjuangkan kembalinya Piagam Jakarta. Juga langkah-langkah sejumlah pemerintah daerah dan DPRD yang mengeluarkan peraturan daerah berdasarkan “Syari’at Islam”. Menurut Gus Dur, upaya-upaya untuk “meng-Islamkan” dasar negara dan “men-syari’atkan” peraturan-peraturan daerah itu bukan saja a-historis, tetapi juga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;br /&gt;Gus Dur memberikan tela’ah mengenai adanya keinginan kelompok tertentu untuk menjadikan Islam sebagai ideologi negara, yaitu sebagai pengganti Pancasila. Menurut pandangan Gus Dur, hal itu terjadi sebagai:&lt;br /&gt;Akibat terjadi penyempitan pandangan mengenai Pancasila itu sendiri, yaitu pengertian Pancasila hanya menurut mereka yang berkuasa. Ini berarti pemahaman Pancasila melalui satu jurusan belaka, yaitu jurusan melestarikan kekuasan. Pandangan lain yang menyatakan Pancasila harus dipahami lebih longgar, dilarang sama sekali. Dengan demikian, sebenarnya yang terjadi bukanlah pertentangan mengenai Pancasila itu sendiri, melainkan soal pengertian Pancasila tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah menurut Gus Dur, dengan uraian di atas, bahwa penghadapan Islam kepada Pancasila adalah sesuatu yang tidak dapat dibenarkan, karena menghadapkan sesuatu yang bersifat umum kepada pandangan yang bersifat khusus. Kalau itu diteruskan, berarti rasionalitas telah ditinggalkan, dan hanya emosi yang mengendalikan pandangan hidup kita. Tentu kita lebih mementingkan sesuatu yang rasional, bila dibandingkan dengan sesuatu yang emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pluralistik dan kosmopolitanisme Islam &lt;br /&gt;“Hari ini telah Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian, Ku-tuntaskan bagi kalian pemberian nikmat-Ku dan Ku-relakan bagi kalian Islam sebagai agama” (QS al-Maidah: 3)&lt;br /&gt;Firman Tuhan ini sering dijadikan dasar oleh sebagian kelompok sebagai eksklusifitas Islam. Jelas sekali Islam sebagai agama yang sempurna. Namun pernyataan teks al-Qur'an ini sering disalahgunakan dengan mengkafirkan kelompok lain yang berakibat terjadi disharmonisasi antar pemeluk lintas agama. Jika dibawa ke konteks nasional, maka jelas hal ini akan mengancam keutuhan bangsa sebagai bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;Di sinilah urgensi dari konsep kosmopolitanisme Gus Dur yang secara praktis dapat menghilangkan batasan etnis, kuatnya pluralitas budaya dan heterogenitas politik. Konsep kosmopolitanisme Gus Dur ini dibaca sebagai pandangan kebudayaan dan keilmuan. Perspektif budaya misalnya diajukan Gus Dur sebagai perspektif untuk memperkaya proses dialog antar peradaban. &lt;br /&gt;Watak ini-menurut Gus Dur- telah tampak sejak awal pemunculannya, yang dimulai dengan cara Nabi Muhammad SAW dalam mengatur mengorganisasikan masyarakat Madinah sehingga munculnya para ensiklopedis Islam awal pada abad ketiga hijriyah dan berbagai keberhasilan peradaban lainnya. Kosmopolitan ini bekerja dengan memantulkan proses saling menyerap dengan peradaban-peradaban lain di sekitar dunia Islam waktu itu, yaitu mulai dari sisa-sisa peradaban Yunani kuno yang berupa hellenisme hingga peradaban anak benua India. Kosmopolitanisme bahkan menurut Gus Dur menampakkan diri dalam unsur dominan yang menakjubkan, yaitu kehidupan beragama yang eklektik selama berabad-abad. &lt;br /&gt;Berikut ini kutipan penulis terhadap konsep pluralisme dan kosmopolitanisme Islam yang dimaksudkan oleh Gus Dur:&lt;br /&gt;Dengan demikian, “kesempurnaan sistem” Islam sebagai agama, tidak didasarkan pada kekuatan atau wewenang lembaga tertentu, melainkan pada kemampuan akal manusia untuk melakukan perbandingan sendiri-sendiri. Dalam pandangan penulis, kesadaran pluralistik seperti inilah yang harus kita pelihara dan bukannya lembaga tertentu seperti negara yang harus kita sandari. Bukankah ini sesuai dengan pernyataan Tuhan –sebagaimana yang disebutkan di atas, tentang diutusnya Nabi kita Muhammad Saw, untuk membawakan persaudaraan di antara sesama manusia? Pengertian berangkai yang penulis ajukan ini, tentulah terkait sepenuhnya dengan pernyataan Tuhan: “Barang siapa mengambil selain Islam sebagai agama, tiada diterima (amal)-nya dan ia akan termasuk di akhirat “kelak” sebagai orang yang merugi (wa man yabtaghi ghaira al-Islâma dînan falan yuqbala minhu wa hua fî al-âkhirati min al-khâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85). Pernyataan ini menunjukkan hak tiap orang untuk merasa benar, walaupun Islam meyakini kebenarannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan masyarakat Islam “kenyataan” seperti ini harus terus-menerus kita sadari dalam sebuah kehidupan bersama. Ini adalah pelaksanaan dari adagium “perbedaan pendapat dari para pemimpin, adalah rahmat bagi umat (ikhtilâf al-a’immah rahmat al-ummah).” &lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-4580236317541413104?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/4580236317541413104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/12/peta-pemikiran-tokoh-kh-abdurrahman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4580236317541413104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4580236317541413104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/12/peta-pemikiran-tokoh-kh-abdurrahman.html' title='PETA PEMIKIRAN TOKOH: K.H. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR)'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-3663680301696079838</id><published>2010-07-29T09:36:00.001-07:00</published><updated>2010-07-29T09:36:25.220-07:00</updated><title type='text'>Kelemahan Pendidikan Madrasah</title><content type='html'>a. Aspek paradigma pendidikan madrasah&lt;br /&gt;Salah satu aspek kelemahan pendidikan madrasah adalah paradigma pendidikan madrasah yang masih konvensional. Paradigma pendidikan madrasah cenderung ekslusif bukannya inklusif. Dari ekslusivitas ini, maka dihasilkan sistem pendidikan yang cenderung dikotomis dan eskapatis. Paradigma bahwa pendidikan agama di atas segala-galanya tidaklah salah. Namun, seorang manusia dapat hidup di dunia dengan survive dengan adanya lifeskill atau keterampilan. Pemusatan pada sentral dasar-dasar agama tidak harus mengenyampingkan ilmu-ilmu umum. Agama Islam memang agama wahyu dan memang membuka ruang multi interpretation. Pemahaman hubungan vertikal seringkali dipisahkan dengan pemahaman horizontal. Padahal menurut penulis, horizontal itu juga vertikal dalam pemahaman agama. Yang vertikal menjadi dalam dengan meluasnya garis horizontal, yang horizontal menjadi luas dengan mendalamnya garis verikal. Artinya tidak ada dikotomis antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Nilai-nilai agama konvensional ditransformasikan ke dalam paradigma yang lebih dinamis, yang lebih rasional dan proaktif sehingga dihasilkan sumber daya manusia yang dinamis, aktif, mengamalkan nilai-nilai agama namun tetap concern dan kontributif dalam perkembangan sosial-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan menjadi manusia parsial dan fakultatif. Maka langkah strategis yang dilakukan adalah reorientasi paradigma pendidikan Islam.&lt;br /&gt;b. Aspek perencanaan organisasi madrasah&lt;br /&gt;Kelemahan lain dari pendidikan madrasah adalah kurangnya perencanaan organisasi madrasah. Diawali dari perencanaan pendirian madrasah. Sebagian besar lembaga madrasah didirikan oleh yayasan atau lembaga keagamaan, motivasi terbesarnya adalah melaksanakan dakwah Islamiah yang dapat menghasilkan peserta didik yang berilmu dan mengamalkan ilmu-ilmu agama untuk bekal di akherat nanti. Hal ini paralel dengan motivasi utama para orang tua memasukkan anaknya ke madrasah. Motivasi ibadah ini kurang disertai dengan rasionalisasi yang tepat sehingga (sebagian besar) pendirian madrasah tanpa disertai dengan persiapan yang mantap, baik dari segi regulasi, administrasi, tenaga pendidik, sarana, fasilitas, dan finansial. Selain itu, tata letak madrasah kadang terasa kurang strategis. Selain itu, kualifikasi pendidik baik secara kuantitas maupun kualitas sangat minim. Hal ini diperparah dengan kurangnya perhatian para santri terhadap ilmu-ilmu umum. Namun, sekarang ini antara Ilmu agama dan ilmu umum telah terjadi keseimbangan mengenai perhatian.&lt;br /&gt;c. Aspek metodologi pembelajaran (realitas operasional) madrasah&lt;br /&gt;Pembelajaran saat ini, baik di madrasah maupun sekolah umum masih cenderung doktriner. Akibat yang terjadi adalah lebih mementingkan materi di atas metodologi (manhaj), mementingkan memori di atas analisis dan dialogis. Artinya pembelajaran masih terasa tekstual dan tidak kontekstual, pembelajaran masih didominasi oleh pengetahuan kognitif dan belum begitu menyentuh ke wilayah psikomotorik. Padahal dalam Islam sendiri adanya keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Selain itu, pendidikan madrasah mementingkan pikiran vertikal di atas literal. Maksudnya, pendidikan Islam hanya menyentuh aspek-aspek normatif saja, ajaran-ajaran agama diterima secara take for granted dan tidak dipermasalahkan lagi. Sehingga yang terjadi adalah pembekuan nalar kritis peserta didik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-3663680301696079838?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/3663680301696079838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/kelemahan-pendidikan-madrasah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3663680301696079838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3663680301696079838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/kelemahan-pendidikan-madrasah.html' title='Kelemahan Pendidikan Madrasah'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-4733851823509602791</id><published>2010-07-29T09:35:00.001-07:00</published><updated>2010-07-29T09:35:34.322-07:00</updated><title type='text'>“Pendidikan Islam berwatak dinamis dan bagian integral dari konsep tentang kehidupan yang lahir dari risalah Islam”</title><content type='html'>Upaya besar membangun pendidikan Islam di era global tercermin dengan salah satu langkah strategis “Pendidikan Islam berwatak dinamis dan bagian integral dari konsep tentang kehidupan yang lahir dari risalah Islam”. Sebelum menentukan langkah alternatif dari langkah strategis di atas, ada baiknya penulis menghadirkan potret pendidikan Islam saat ini. &lt;br /&gt;Pendidikan agama selama ini mengharuskan peserta didiknya tidak boleh ada kesalahan. Padahal, seorang pribadi itu tunduk ketika ada pengalaman salah. Akibatnya, pendidikan agama cenderung melahirkan mental hetenomi. Artinya, kebaikan tidak tumbuh secara autentik dari dalam, tetapi kebaikan itu ditandai dengan ketundukan. Hal semacam ini tidak memberi peluang kepada peserta didik untuk melakukan trial and error.  Pendidikan Islam saat ini lebih bersifat verbalistis yang menekankan pada aspek indoktrinasi dan penanaman nilai ala kadarnya daripada penumbuhan daya kritis dan pengembangan intelektualisme. Karena sifatnya yang doktriner, maka “perbuatan salah” dianggap sebagai suatu “dosa”. Pendidikan semacam ini, di satu sisi memang dapat mendorong anak untuk menjadi orang yang santun, tunduk pada perintah dan bertingkah laku mulia. Namun di sisi lain, penumbuhan daya kritis dan pengembangan kreativitas berpikir anak akan menjadi terabaikan. Pendidikan Islam yang seperti ini akan melahirkan sosok peserta didik yang parsial, yaitu:&lt;br /&gt;a. Tidak memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual karna yang ada di depan mata hanya berupa aturan-aturan rigid yang mengikat, sehingga daya gerak intelektualnya menjadi terbatas. Dalam situasi demikian, pendidikan Islam  menjadi jauh dari pergulatan intelektual. Sebaliknya, ia hanya menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai yang hasilnya juga masih diragukan.&lt;br /&gt;b. Tidak memiliki pemahaman keagamaan yang terbuka, toleran, dan inklusif. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari model pengajaran doktriner. Sifat dari pengajaran doktriner adalah penumbuhan kesetiaan secara taken for granted atas agama, karenanya konservatisme menjadi tak terhindarkan, bahkan jiwa integral  dan kritis menjadi jauh.&lt;br /&gt;Menghindari dari output seperti yang disebutkan di atas, maka pendidikan Islam yang berwatak dinamis dan bagian integral dari konsep tentang kehidupan yang lahir dari risalah Islam di era modern sebagaimana saat ini, dalam dimensi horizontal umat beragama harus “memberanikan diri” untuk berdialog dan bertukar pikiran dalam persoalan horizontal dengan siapa saja. Dengan membuka diri terhadap kultur yang dibangun oleh pemeluk lintas agama dan tetap mempertahankan substansi ajaran agama yang diyakini, seseorang akan tetap menjadi kritis baik dalam filsafat, membangun budaya, dan lain-lainnya. Pemahaman ini penting untuk membangun integralisasi, dan dinamika kemanusiaan, bahkan membangun kebersamaan dan keharmonisan kehidupan umat beragama di muka bumi. Namun, kebebasan berpikir dalam rangka pendidikan Islam yang dinamis ini tetap mengacu pada kaidah ajaran Islam, bukannya berpikir dan berkarya yang apologi atau bahkan kebablasan. Jelas sekali bahwa pendidikan Islam yang progress secara horizontal sangat urgen. Dalam hal ini, pemahaman positif terhadap wacana ini merupakan suatu keharusan, bukan saja karena tuntutan objektif dari realitas kehidupan modern, karena pendidikan Islam yang berwatak dinamis ini merupakan manifestasi dari risalah Islam sebagai pembawa nilai-nilai rahmatan lil’alamin. Hanya saja dinamisasi pendidikan Islam perlu dibatasi hanya menyangkut persoalan peradaban umat manusia dan kehidupan sosial (human relation) antar umat yang tidak bertentangan dengan “titah” Allah sesuai dengan pesan yang terkandung dalam surah Al-Kafirun 1-6.&lt;br /&gt;Pendidikan Islam yang doktriner dan parsial sangat kontradiktif dengan konsep pendidikan Islam yang integral, sebagai instrument strategis bagi upaya pengembangan potensi kemanusiaan, maka dalam batasan ideal, pendidikan merupakan sebuah proses pembebasan manusia dari segala bentuk belenggu, sesuai dengan batas-batas yang diberikan Allah untuk ruang jelajahnya. Oleh karena itu, pendidikan Islam yang doktriner merupakan proses penciptaan belenggu yang cukup fatal bagi tumbuhnya dinamika Intelektual, emosional, dan spiritual seorang peserta didik. Integralisasi pendidikan Islam dapat dilakukan dari tahap yang paling fundamental, yaitu transformasi nilai-nilai teologi yang biasa bersifat normatif menjadi nilai-nilai kehidupan yang proaktif, dinamis, rasionalisasi nilai-nilai tersebut dalam setiap kehidupan sebagai manifestasi risalah Islam. Akhirnya, Langkah-langkah alternatif yang dapat dilakukan dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang berwatak dinamis dan dan bagian integral dari konsep tentang kehidupan yang lahir dari risalah Islam diantaranya : pertama, Menata kembali sistem pendidikan Islam yang tidak parsial. Jalan yang dapat ditempuh adalah pada saat proses pembelajaran dilakukan. Tatkala proses pembelajaran dilaksanakan, harus dikaitkan juga dengan dimensi religius peserta didik. Kedua, pembinaan dan peningkatan kompetensi pendidik secara simultan melalui proses yang baik. Ketiga, melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi ulang sistem pendidikan dengan roh ajaran Islam, baik dalam tatanan teoritis, historis, maupun praktis.&lt;br /&gt;Oleh karena itu jelaslah bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam yang berwatak dinamis dan bagian integral dari konsep kehidupan yang lahir dari risalah Islam di sini bukanlah dalam arti pendidikan ilmu-ilmu agama Islam yang pada gilirannya mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan Islam semacam madrasah, pesantren atau UIN. Akan tetapi yang dimaksud dengan pendidikan Islam di sini adalah menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-4733851823509602791?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/4733851823509602791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/pendidikan-islam-berwatak-dinamis-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4733851823509602791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4733851823509602791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/pendidikan-islam-berwatak-dinamis-dan.html' title='“Pendidikan Islam berwatak dinamis dan bagian integral dari konsep tentang kehidupan yang lahir dari risalah Islam”'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-3353489629613616199</id><published>2010-07-29T09:29:00.001-07:00</published><updated>2010-07-29T09:29:45.608-07:00</updated><title type='text'>Tantangan Lembaga Pendidikan Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspek</title><content type='html'>a. Politik&lt;br /&gt;Perubahan dan dinamika politik di Indonesia merupakan salah satu warna lain dalam pendidikan Islam. Wacana di bidang politik ikut mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan lembaga atau institusi pendidikan Islam. Persepsi positifnya adalah bila kebijakan-kebijakan tersebut mempunyai pengaruh yang bersifat rekonstruktif terhadap lembaga pendidikan Islam, maka “angin segar” menuju pembangunan pendidikan Islam yang dinamis dan progress dapat diharapkan. Namun, implikasi negatifnya adalah jika kebijakan-kebijakan dari para elit politik tersebut terkesan mengebiri vitalitas pendidikan Islam, maka konsekuensi logis yang diterima pendidikan Islam adalah keterkungkungan dalam kejumudan (stagnant). Karena Kebijakan di bidang politik ini juga berdampak pada pengalokasian dana terhadap lembaga pendidikan serta implementasi dari kurikulum sebagai panduan dalam pengembangan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Selain itu, top rating sebagai institusi pendidikan Islam ikut memberikan pengaruh politik yang cukup signifikan. Tataran ekstremnya begini, jika para elit politik “mengendarai” nama besar institusi pendidikan Islam sebagai tunggangan politiknya, dan setelah hasrat politiknya terpenuhi dan keadaan lembaga pendidikan Islam tersebut tidak mengalami perubahan yang progresif, maka persepsi publik akan penuh dengan negatifitas terhadap lembaga tersebut. Realitas seperti ini dikhawatirkan memandulkan gerak pendidikan agama. Karena nalar kritis pendidikan agama didominasi oleh kepentingan politik yang tidak mempunyai positive influence terhadap lembaga pendidikan tersebut. Visi pendidikan Islam akhirnya sulit berubah.&lt;br /&gt;b. Kebudayaan&lt;br /&gt;Quo vadis lembaga pendidikan Islam di Indonesia di bidang kebudayaan adalah tingkat konservatif yang tinggi dan masih cenderung ekslusif. Padahal kita ketahui sendiri bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, bangsa dan agama. Konservatif memang diperlukan dalam menjaga internalisasi akidah Islam ke dalam jiwa insan. Namun, dalam hal ini penulis setuju dengan pemikiran Muhammad Arkoun bahwa konservatif yang negatif adalah sebuah apologia  atau kebablasan. Tantangan di bidang kebudayaan adalah bahwa pendidikan saat ini belum inklusif, toleran, dan terbuka. Dalam kebudayaan, tantangan juga terletak pada mainstream kebudayaan kita yang cenderung rigid sehingga menciptakan output yang parsial, yaitu: pertama, memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai poin-poin penting namun kurang mampu menghayati nilai-nilai agama. Akibatnya, seringkali berbagai hasil olah keterampilannya kurang memperhatikan nilai-nilai moralitas bahkan terkesan untuk memperkaya pribadi atau golongan tertentu. Kedua, memiliki kemampuan intelektual dan mampu menghayati nilai-nilai ajaran agama namun kurang mampu menguasai aspek-aspek kebudayaan. Ketiga, memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai ajaran agama, akan tetapi tidak mampu menghayati nilai-nilai luhur sebagai substansi ajaran Islam. Akibatnya, muncul para “ulama” secara keilmuan, tetapi “menggadaikan” agama dalam praktik budaya dan kurang mampu melakukan rekonstruksi nilai-nilai budaya sesuai dengan ajaran Islam. Alhasil, seringkali terjadi pertentangan antara kebudayaan dan agama. Budaya dan agama terjadi tumpang tindah dan kontradiksi. Kurangnya sinergi yang baik antara kedua hal ini membuat pendidikan Islam tidak memberikan roh dalam kebudayaan bahkan terkesan sebagai justifikasi terhadap kebudayaan. Sedangkan kita tahu sendiri bahwa kebudayaan merupakan suatu hal yang paling melekat dalam kehidupan sehari-hari. Orientasi dari sekedar mendidik mereka untuk memahami ilmu (pengetahuan) agama an sich haruslah diubah menjadi paham terhadap ilmu agama sekaligus ilmu sosial, ilmu humaniora dan ilmu alam. Ilmu agama dan “ilmu duniawi” harus konvergen. Sayangnya lembaga pendidikan Islam terlalu lambat menyadari ketertinggalan ini. Tokoh pendidikan kita terlalu berpikir konservatif dan masih terjebak pada dikotomi antara pendidikan agama-pendidikan umum. Padahal dikotomi itu justru mematikan kreatifitas. Untunglah, dalam batas tertentu sebagian kecil yang berlatar pendidikan “sekuler” relatif lebih cepat menyadari kejumudan. Tidak heran, dewasa ini di perguruan tinggi umum diajarkan pula ekonomi Islam, sosiologi agama (Islam), psikologi Islam, antropologi agama (Islam) dan lainnya. &lt;br /&gt;c. IPTEK&lt;br /&gt;Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan, melalui berbagai perangkat multimedia. Toffler dalam The Thirth Wave, menyebutkan perkembangan arus teknologi dan ilmu pengetahuan sebaga salah satu gerbang menuju perkembangan umat. Contoh konkritnya adalah televisi, dapat dijadikan alat yang sangat ampuh di tangan sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau, sebaliknya, merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol mindset seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Titik persoalannya adalah terletak pada siapa yang menguasai teknologi dan komunikasi global tersebut. Prediksi positifnya, jika alat-alat teknologi dan komunikasi global tersebut dikuasai oleh orang-orang muslim yang selalu menjaga nilai-nilai Islam, maka teknologi akan berdampak positif bagi perkembangan pendidikan Islam ke depan. Prediksi negatifnya, jika alat-alat teknologi dan komunikasi global serta ilmu pengetahuan berada di genggaman orang-orang yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka akan terjadi distorsi dan blur antara baik dan buruk, kebenaran sejati maupun yang bersifat artifisial atau fasiq.&lt;br /&gt;Selain itu, saat ini sangat identik dengan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi yang pengkajiannya dilakukan dengan riset dan penelitian yang terus-menerus. Dengan jiwa keilmuan ini tentu saja para ilmuan telah memberikan kontribusi kepada seluruh dunia dengan harapan memberikan kebenaran dan membawa kemashlahatan. Namun, yang perlu dikaji ulang adalah kebenaran yang bagaimana jika dihasilkan dari orang-orang yang kadang terdapat diferensiasi ekstrem secara prospektif terhadap batasan-batasan etika, moral, dan internalisasi akhlak.&lt;br /&gt;d.  Ekonomi&lt;br /&gt;Perkembangan di bidang ekonomi, secara makro tentu saja berkaitan dengan globalisasi. Sebagai dampak ketidak siapan menghadapi globalisasi di bidang ekonomi, Dunia sekolah yang semestinya mampu menjawab tantangan global, justru ikut-ikutan terpuruk. Sebagai laporan: Survei Angkatan Kerja Nasional menunjukkan, dari 10 juta penganggur usia kerja, 55 persen berpendidikan sekolah menengah (BPS, 2008). Rendahnya daya adaptsi lulusan sekolah memenuhi tuntutan pasar kerja kian menjadi persoalan mengatasi pengangguran. Data di atas merupakan gambaran ekonomi Indonesia dalam hal pendidikan. Dalam ruang lingkup pendidikan Islam, setidaknya ada dua perspektif yang penulis ajukan tentang tantangan pendidikan Islam di bidang ekonomi. &lt;br /&gt;Pertama, dari perspektif pemerintah. Sektor ekonomi suatu negara tentunya digunakan sebagai backbone support bagi pengembangan segala sektor termasuk pendidikan. Rendahnya tingkat ekonomi suatu negara tentu akan berakibat kepada anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan mempunyai hubungan paralel dengan kualitas pendidikan, khususnya dalam hal ini adalah pendidikan Islam. Jika anggaran besar maka kualitas meningkat. Ini silogisme yang dihasilkan. Dewasa inipun anggaran negara yang dicangkan untuk program pendidikan di negara-negara Islam relatif sangat rendah sehingga infrastruktur pendidikan yang mutlak diperlukan tidak atau jarang tersedia. Perbandingan dengan negara tetangga kita Malaysia, negara Islam yang relatif maju program pendidikannya ini, menurut UNESCO (1996) hanya mengalokasikan dana 82 $ US perkapita, sementara Indonesia sendiri hanya mengalokasikan 6 $ US perkapita.  Hal ini menimbulkan dampak-dampak yang tidak efektif, seperti:&lt;br /&gt;a.  Pelajar yang hendak memperdalam ilmunya terpaksa harus pergi ke luar negeri yang biayanya relatif lebih mahal apalagi kalau tujuan belajarnya di negara-negara maju. Sementara kecenderungan belajar ke luar negeri ini menimbulkan persoalan tersendiri khususnya bagi mereka yang secara ekonomis kurang mampu.&lt;br /&gt;b. Kurangnya anggaran untuk regulasi, administrasi, operasional, dan lain-lain akan sangat mempengaruhi kinerja pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Kedua, dari perspektif peserta didik dan orang tua. Lemahnya ekonomi orang tua tentu saja akan menjadi penghambat bagi peserta didik. Misalnya berkaitan dengan biaya-biaya serta fasilitas yang dimiliki. &lt;br /&gt;e. Kemasyarakatan&lt;br /&gt;Paradoks lainnya berkaitan dengan stigma baru yang mendera lembaga-lembaga pendidikan agama. Dewasa ini lembaga pendidikan Islam mendapat citra baru, yakni mengajarkan radikalisme. Padahal kalau diperiksa tidak semua pesantren mengajarkan pendidikan dengan orientasi yang mengarahkan peserta didik berbuat radikal. Islam agama damai dan menyejukkan (hanif) mesti tetap menjadi pesan pokok pengajaran mulai dari tingkat ibtidaiyah sampai perguruan tinggi. Radikalisme dalam pengajaran biasanya memunculkan radikalisme dalam tindakan. Tantangan lain di bidang kemasyarakatan adalah konformisme. Konformisme adalah merasa puas dengan keadaan sekarang. Sikap cepat puas masyarakat terhadap suatu lembaga pendidikan membuat daya kreatifitas suatu lembaga pendidikan Islam menjadi gundul. Dalam artian, pendidikan Islam dapat kehilangan “roh” dinamis dan cenderung bergerak lamban. &lt;br /&gt;Selain hal di atas, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap suatu lembaga pendidikan juga menjadi factor berkembang atau tidaknya suatu lembaga pendidikan Islam. contoh faktualnya: asumsi publik bahwa lembaga pendidikan Islam merupakan lembaga pendidikan kelas dua setelah lembaga pendidikan umum. Persepsi ini bukan tanpa alasan. Realitas praktisnya, lembaga pendidikan Islam cenderung mengandalkan dasar-dasar agama saja sebagai bekal kehidupan peserta didik di masyarakat. padahal, hal tersebut tidaklah cukup. Perlu adanya elaborasi nilai-nilai Islam yang disinergikan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, sehingga mampu menciptakan peserta didik yang mumpuni dari segi sosial kemasyarakatan namun tetap terintegral dengan nilai-nilai ajaran Islam.&lt;br /&gt;Pendidikan dasar agama masih menjadi andalan, sebagai bekal mengajarkan pendidikan agama lebih lanjut kepada masyarakat, akan tetapi hal ini saja tidak cukup. Harus diikuti dengan bekal pengetahuan lainnya yang kontekstual dengan perkembangan sosial. Sekalipun di lembaga tertentu ada pembaruan kurikulum, namun sifatnya masih parsial. Secara keseluruhan kurikulum pendidikan Islam masih konservatif. Implikasinya sangat serius ketika para lulusannya (SDM) menghadapi perubahan di luar dunia pendidikan mereka. Dunia ini jauh lebih kompleks daripada yang mereka pelajari dan bayangkan selama berada di tempat belajar-mengajar tadi. Pluralitas sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat membuat mereka gagap. Indonesia yang mereka diami rupanya sebuah entitas yang berwarna.&lt;br /&gt;f. Sistem nilai&lt;br /&gt;Ketika berbicara mengenai tantangan lembaga pendidikan Islam  pada sistem nilai yang berlaku, maka masalah sebenarnya adalah sejauh mana kontribusi lembaga pendidikan Islam mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mampu dalam mengcover seluruh kehidupannya bernafaskan risalah Islam yang luhur. Sistem nilai sangat berkaitan dengan transformasi sosial-budaya yang berkembang. Saat ini pendidikan Islam (sebagian besar) hanya mampu mendominasi pada tataran teoritik, pendidikan Islam dipandang hanya mampu menghasilkan “ulama” dalam artian tradisional. Kosmologi mediasi ini membuat sumber daya manusia dari lembaga pendidikan Islam kurang “greget”.&lt;br /&gt;Sikap moderasi, di satu sisi, menghendaki pendidikan Islam tidak terjatuh dalam sikap ekstremitas pemikiran maupun tindakan yang bisa mengakibatkan ekses-ekses kontraproduktif bagi masyarakat, negara dan bangsa. Hal ini jelas merupakan sebuah modal sosial-budaya (socio-cultural capital) yang telah menjadikan mereka survive dalam kerasnya percaturan kehidupan, sekalipun dituding oleh “musuh-musuh” mereka dan sejumlah ilmuwan sebagai bentuk sikap oportunistik. Sikap semacam inilah yang dipuji oleh banyak pihak sebagai kelenturan pendidikan Islam dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian, proses pengerdilan, pengeroposan dan pembusukan nilai selalu terjadi dalam proses-proses sosial-budaya. Pembusukan itu terjadi pada pereduksian makna moderasi itu sendiri yang seringkali mengebiri “libido” lembaga pendidikan Islam untuk menjadi yang terbaik dalam seluruh proses kontestasi. Dalam ungkapan yang sederhana, proses pembusukan itu terjadi ketika kosmologi moderasi berubah menjadi mediokrasi, di mana kapasitas produk dari model pendidikan Islam dianggap menempati “kelas dua” karena tidak bisa bersaing dengan produk dari lembaga-lembaga sekuler.&lt;br /&gt;Dalam derajat tertentu, kosmologi moderasi dalam tubuh lembaga pendidikan Islam banyak diilhami oleh doktrin-doktrin Aswaja yang sudah kesohor seperti: filosofi “jalan tengah” (tawassut), berdiri tegak lurus, tidak condong ke kanan maupun ke kiri (i’tidal) dan keseimbangan (tawazun). Sikap-sikap semacam inilah yang belakangan memola dan membentuk karakter kepribadian lembaga pendidikan Islam dalam banyak aspeknya, sekalipun variasi dan pengecualian-pengecualian bisa saja ditemukan di antara mereka. &lt;br /&gt;Lagi-lagi, ancaman pengeroposan karakter lembaga pendidikan Islam bisa saja terjadi jika lembaga pendidiakn Islam tidak dewasa dan bijaksana dalam mengimplementasikan doktrin tersebut. Konsekuensi lebih jauh dari proses pengeroposan dimaksud bisa kita saksikan, misalnya, dalam lemahnya lembaga pendidikan Islam untuk mengambil inisiatif perubahan dalam sejumlah sektor di kehidupan publik. Akibatnya, potensi lembaga pendidikan Islam yang begitu besar tidak terblow-up secara maksimal menjadi sebuah dentuman sosial-intelektual yang menggetarkan urat nadi kehidupan bangsa. Memang ada sejumlah deviasi kasus dan pengecualian, tetapi prosentasenya sangatlah kecil. Dengan kata lain, kosmologi moderasi menciptakan manusia-manusia dengan kualitas sumber daya manusia medioker yang tertinggal dari komunitas lainnya. Doktrin moderasi, pada gilirannya, berakumulasi menjadi mediokrasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-3353489629613616199?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/3353489629613616199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/tantangan-lembaga-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3353489629613616199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3353489629613616199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/tantangan-lembaga-pendidikan-islam.html' title='Tantangan Lembaga Pendidikan Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspek'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-4408055320871662001</id><published>2010-07-29T09:14:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T09:14:15.569-07:00</updated><title type='text'>PEMIKIRAN TASAWUF JUNAID AL-BAGHDADI, ABU YAZID AL-BUSTHAMI, MANSUR AL-HALLAJ</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Latar Belakang&lt;br /&gt; Sebuah konsep merupakan dasar pijakan untuk menentukan arah kemana kita berjalan. Diibaratkan mata air, maka akan membentuk berbagai aliran air dan namun tujuannya satu, yaitu muara. Begitu juga dengan konsep dalam tasawuf yang secara tematis dapat termanifestasikan dalam bentuk kondisi spiritual. Kondisi ini merupakan inti dari segala ibadah yang dilakukan yakni kecintaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Hal inilah yang mendorong penulis untuk membedah pemikiran tasawuf Al-Junaid  Al-Baghdadi, Abu Yazid Al-Busthami, dan Al-Hallaj. Mereka pada masanya telah menambah goresan keanekaragaman bentuk tasawuf. Busthami dengan ajaran al-ittihadnya telah dikembangkan oleh Al Hallaj melalui ajarannya al hulul. Kedua bentuk ajaran ini tidak memiliki banyak perbedaan, karena Al Hallaj meneruskan jejak seniornya Busthami. Ketiga tokoh sufi par excellent ini dibahas secara bersamaan dikarenakan mereka hidup pada masa yang hampir sama, yaitu abad ke 3 dan ke 4 H dan mempunyai benang merah konsep dasar yang sangat populer dengan tema fana. Namun fana mempunyai interpretasi yang multimakna. Orang yang merenungkan apa yang telah disebutkan oleh para sufi tentang fana akan menemukan arti lebih dari satu. Sehingga fana kadang menunjukkan sebuah arti etika saat mereka mendefinisikannya sebagai sifat sebuah jiwa (nafs) atau hilangnya sifat-sifat tercela. Mereka juga beranggapan bahwa fana adalah sirnanya kehendak manusia, dan keberadaannya dalam kehendak Tuhan. Kondisi ini dapat mengacu dalam ayat al-Qur’an yang menyatakan “Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupanya), dan mereka melukai (jari tangannya)”.(QS. Yusuf: 31). &lt;br /&gt;Fana berarti hilang atau hancur. Setelah diri hancur, diikuti oleh ¬al-baqa, yang berarti tetap, terus hidup. al-fana dalam pengertian umum dapat dilihat dari penjelasan Al-Junaid: “hilangnya daya kesadaran kalbu dari hal-hal yang bersifat indrawi karena adanya sesuatu yang dilihatnya. Situasi yang demikian akan beralih karena hilangnya sesuatu yang terlihat itu dan berlangsung terus silih berganti hingga tiada lagi yang disadari dan dirasakan oleh indra”.  Konsep fana inilah yang mendasari serta mendominasi pemikiran tasawuf pada abad ke 3 dan ke 4 H, termasuk pemikiran tasawuf Al-Junaid, Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj. Dari pemaparan di atas, tepat sekali jika ketiga tokoh ini dibahas dalam satu pembahasan secara holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;1. Bagaimana pemikiran tasawuf Al-Junaid  , Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Al-Junaid  &lt;br /&gt;1. Biografi dan Pemikiran Tasawuf Al-Junaid Al-Baghdadi&lt;br /&gt;Al-Junaid   adalah salah seorang sufi terkemuka di samping seorang ahli fiqih. Dalam fiqih beliau bermadzhab kepada Imam Abu Tsaur. Al-Junaid   sudah memberikan fatwa-fatwa hukum dalam madzhab tersebut dalam umurnya yang baru 20 tahun. Beliau lama bergaul dan belajar kepada pamannya sendiri, yaitu Imam Sirri as-Saqthi, lalu kepada al-Harits al-Muhasibi, Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdadi, dan sufi terkemuka lainnya. Di kalangan sufi Al-Junaid   dikenal sebagai pemuka dan pimpinan mereka dengan gelar Sayyid ath-Tha-ifah ash-Shûfiyyah . &lt;br /&gt;Abu Ali ar-Raudzabari berkata: “Saya mendengar Al-Junaid  berkata kepada orang yang mengatakan bahwa ahli ma’rifat dapat sampai kepada suatu keadaan yang tidak lagi baginya untuk berbuat apapun, –Artinya menurutnya orang tersebut boleh meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang telah diwajibkan–, Al-Junaid   berkata kepadanya: “Ini adalah perkataan kaum yang berpendapat segala perbuatan-perbuatan akan gugur. Dan ini bagiku adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Seorang pelaku zina dan seorang yang mencuri jauh lebih baik dari pada orang memiliki pendapat seperti itu. Sesungguhnya, orang-orang yang ‘Ârif Billâh adalah mereka yang mengerjakan seluruh pekerjaan sesuai perintah Allah, karena hanya kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan itu kembali. Andaikan aku hidup dengan umur 1000 tahun, dan aku tidak meninggalkan kebaikan sedikitpun selama umur tersebut, maka kebaikan itu tidak akan dianggap oleh Allah kecuali bila sesuai dengan apa yang telah diperintahkannya. Inilah keyakinan yang terus memperkuat ma’rifat-ku dan memperkokoh keadaanku” .&lt;br /&gt;Sejak kecil, Al-Junaid  terkenal sebagai seorang anak yang cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya. Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun, Al-Junaid  telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna syukur. Kehidupan Al-Junaid  al-Baghdâdî, di samping sebagai seorang sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, ia juga sebagai pedagang barang-barang pecah belah di pasar tradisional. Selesai berdagang, beliau pulang ke rumah dan mampu mengerjakan salat dalam waktu sehari semalam sebanyak empat ratus rakaat.&lt;br /&gt;Al-Junaid  al-Baghdâdî adalah seorang sufi yang mempunyai prinsip tak kenal putus asa. Terbukti, misalnya dalam ibadah, baik di kala sehat maupun sakit, ia senantiasa konsisten melaksanakannya; bahkan, dalam keadaan sakit, ia merasa semakin dekat dengan Allah. Di samping itu, Al-Junaid  memiliki sifat tegas dalam pendirian. Ini terlihat ketika ia menandatangani surat kuasa untuk menghukum mati muridnya sendiri, Husayn ibn Mansur al-Hallaj (w. 309/ 922 M), sufi pencetus al-hulûl. Dalam surat kuasa itu, ia menulis dengan tegas, “Berdasarkan syari’at, ia (al-Hallaj) bersalah, tetapi menururt hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui” .&lt;br /&gt;Dalam masa-masa hidupnya, Al-Junaid menghadapi kendala dalam mengajarkan tasawufnya, terutama dari kaum ortodok. Karena perlawanan mereka terhadap para sufi yang terjadi ketika itu, maka Al-Junaid melakukan praktik-praktik spiritual dan mengajari murid-muridnya di balik pintu terkunci. Dari surat-suratnya atau risalah-risalah singkatnya dan keterangan dari para sufi serta penulis biografi sufi sesudahnya, dapat dipandang bahwa jalan hidup Al-Junaid  merupakan perjuangan yang permanen untuk kembali ke “Sumber” segala sesuatu, yakni Tuhan. &lt;br /&gt;Bagi Al-Junaid, cinta spiritual (mahabbah) berarti bahwa, “Sifat-sifat Yang Dicintai menggantikan sifat-sifat si pencinta”. Al-Junaid  memusatkan semua yang ada dalam pikirannya, semua kecenderungannya, kekagumannya, dan semua harapan dan ketakutannya, hanya kepada Allah SWT . Untuk itulah, dengan paham-paham ketasawufannya, ia sering dipandang sebagai seorang syaikh sufi yang kharismatik di kota Bahgdad. Banyak tarekat sufi yang silsilahnya melalui Al-Junaid. Paham dan amalan tasawuf Al-Junaid  ini banyak digali dari pengalaman-pengalaman ketasawufannya; namun demikian, konsep-konsep pemikiran tasawufnya masih belum tersusun secara sistematis, tetapi lebih banyak dijelaskan lewat ungkapan-ungkapan verbalnya. &lt;br /&gt;Dari ungkapan-ungkapan itulah bisa dipahami konsep tasawufnya. Misalnya, ketika ia menjelaskan tentang tasawuf yang dijalaninya, ternyata ia peroleh dari pengalaman kezuhudan dan kesederhanaannya terhadap dunia. Dalam hal ini, Sai’id Hawwa pernah mengutip pernyataan Al-Junaid, yang mengungkapkan, “Kami tidak mengambil tasawuf dari pembicaraan atau kata-kata, melainkan dari lapar dan keterlepasan dari dunia ini, dan dengan meninggalkan hal-hal yang sudah biasa dan kami senangi”. Sikap hidup fakir dan keterlepasan dari kemewahan dunia menjadi penting dalam kehidupan sufistik menurut pandangan Al-Junaid . &lt;br /&gt;Al-Junaid memandang tasawuf sebagai jalan kearifan manusia dalam menjalankan hidupnya. Dalam hal ini ia pernah ditanya tentang orang yang disebut ârif (sufi) sebagai berikut, “Siapakah orang ârif (sufi) itu?” Ia menjawab, orang ârif adalah orang yang tidak terikat oleh waktu.” Kehidupan tasawuf yang dilakukan seseorang merupakan jalan penyucian hati dan jalan kekhusukan untuk mengingat Dia. Perkataan Al-Junaid yang berhubungan dengan hal ini adalah: “Tuhan menyucikan “hati” seseorang menurut kadar khusuknya dalam mengingat dia. Al-Junaid mengatakan :”Sabar itu meneguk kepahitan tanpa cemberut muka.”  Selain itu, Al-Junaid al-Baghdâdî juga mempunyai pemikiran tentang bast (rasa lapang) dan qabd (rasa kecut). Bast yang dimaksud adalah istilah tasawuf yang berarti suasana kelapangan jiwa melalui harapan atau kegembiraan rohani akan datangnya rahmat Allah. Di kalangan para sufi, bast dan qabd merpakan kelanjutan dari raja’ (harap) dan khauf (takut), yang keduanya merupakan cara untuk meminta perlindungan dari Tuhan. Untuk melihat bagaimana bast dan qabd sebagai kelanjutan dari raja’ dan khauf ini, dapat disimak ungkapan yang dikemukakan Al-Junaid sebagai berikut: “Takut (khauf) kepada Allah membuatku menjadi qabd, dan harap (raja’) kepada-Nya membuatku manjadi bast. Dengan al-haqiqah (hakikat) Dia mempersatukanku dengan eksistensi kemanusiaanku. Jika Dia membuatku qabd dan khauf, Dia menghancurkan eksistensi kemanusiaanku. Apabila Dia membuatku bast dan raja’, Dia mengembalikan eksistensi kemanusiaanku. Jika Dia mengumpulkanku dengan al-haqiqah, Dia menghadirkanku. Jika Dia memisahkanku dengan al-haqq (Tuhan), Dia menyaksikanku dalam eksistensi yang lain. Maka ketika itu aku dalam kedaan gelap gulita, dan menjadi tidak sadarkan diri. Ketika itu Dialah yang Yang Maha Tinggi yang menggerakkanku tanpa mendiamkanku dan Dia yang membuatku takut dan cemas tanpa membuatku merasakan adanya belaian kasih. Ketika eksistensi kemanusiaanku hadir, aku merasakan keberadaanku. Dan ketika eksistensi kemanusiaanku lepas, aku merasa hancur tidak sadarkan diri.” Al-Junaid al-Baghdâdî yang terkenal dengan julukan sayyid at-ta’ifah (sesepuh kaum sufi), menjelaskan bahwa cinta murni itu tercapai setelah adanya proses transformasi sifat-sifat yang dicintai pada diri pencinta secara total .&lt;br /&gt;Dari kutipan-kutipan di atas, maka jelas sekali tasawuf Al-Junaid berlandaskan Al-Quran dan hadits. Ia menjauhi praktek yang bertentangan dengan syariat Islam. Adapun dasar-dasar pemikiran Al-Junaid tentang tasawuf yang dapat penulis analisis adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Seorang sufi harus meninggalkan kelakuan dan sifat-sifat yang buruk dan menjalankan budi pekerti yang baik, sesuai dengan ajaran-ajaran tasawuf yang selalu mengajarkan sifat-sifat baik dan meninggalkan bidu pekerti yang jelek.&lt;br /&gt;2. Ajaran tasawuf adalah ajaran-ajaran yang dapat memurnikan hati manusia dan mengajarkan sifat-sifat baik dan meninggalkan sifat-sifat alamiah yang bisa merusak kesucian jiwa, menahan manusia dari godaan jasmani, mangambil sifat-sifat ruhani, mengingatkan diri pada ilmu hakikat, mengingat Allah SWT. dan rasul-Nya, Muhammad SAW.&lt;br /&gt;3. Memalingkan perhatian dari urusan duniawi kepada urusan ukhrawi. Bagi orang beriman, meninggalkan pergaulan dengan sesama (manusia) masih mudah dan berpaling kepada Allah sulit. Ternyata berpaling dari nafsu lebih sulit lagi. Untuk itu, melawan nafsu adalah sangat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, al-Hujwiri mengutip bahwa Al-Junaid pernah ditanya, “apakah persatuan dengan Tuhan?” dia menjawab, “meniadakan hawa nafsu,” karena di antara semua tindakan ibadah yang diridhai Tuhan, tiada yang lebih besar nilainya dari pada menundukkan hawa nafsu. Menghancurkan gunung lebih mudah bagi seorang manusia dari pada menundukkan hawa nafsunya.” &lt;br /&gt;4. Manusia harus berpegang teguh kepada tauhid, termasuk dalam bertasawuf. Arti tauhid, menurut Al-Junaid, adalah mengesakan Allah SWT. dengan sesempurna-Nya. Bahwa sesungguhnya Allah itu esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak berjumlah dan tidak pula tersusun, dan tak satupun yang menyerupai-Nya, Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat dan Maha Tunggal, dan seterusnya.&lt;br /&gt;5.  orang sufi harus bisa melakukan tiga syarat amalan, yaitu: (a) melazimkan dzikr secara kontinu yang disertai himmah dan dengan kesadaran yang penuh; (b) mempertahankan tingkat kegairahan atau semangat yang tinggi; (c) senantiasa melaksanakan syari’at yang ketat dan tepat dalam kehidupan sehari-hari. Sebab itu, dalam soal berpegang teguh pada syari’at, maka Al-Junaid seperti dikutip Sa’id Hawwa, pernah menuduh orang yang menjadikan wusul (mencapai) Allah sebagai tindakan untuk melepaskan diri dari hukum-hukum syari’ah. Dalam persoala ini dengan tegas ia menyatakan, “Betul mereka sampai, tetapi ke neraka Saqar.” Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab fiqih pernah berkata, “Barang siapa mendalami fiqih tanpa bertsawuf ia fasik, barang siapa yang mendalami tasawuf tanpa mendalami fiqih ia zindiq, dan barang siapa yang melakukan keduanya ia ber-tahaqquq (meraih kebenaran).”&lt;br /&gt;Jadi, tasawuf merupakan hal yang mesti, dapat dijadikan sebagai penyempurna fiqih. Begitu juga fiqih, dapat menjadi koridor tasawuf dan kaidah pengendali amal dalam mengarah kepada-Nya. Jika salah satu dari dua disiplin ilmu tersebut hilang, itu berarti separuh telah tiada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Abu Yazid Al-Busthami&lt;br /&gt;1. Biografi dan Pemikiran Al-Ittihad Abu Yazid Al-Busthami&lt;br /&gt;Al-Busthami adalah thaifur bin Isa bin Sarusyan yang berasal dari daerah Bustam. Kakeknya yang bernama Sarusyan adalah seorang Majusi yang masuk Islam. ia meninggal di Yazid pada tahun 361 H.  Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa Surusyan, juga dikenal dengan Bayazid. Beliau dikenal sebagai salah seorang sufi kenamaan Persia abad ke-III dari Bistam wilayah Qum , lahir pada tahun 874 M dan wafat pada usia 73 tahun .&lt;br /&gt;Al-Bustami tidak meninggalkan karangan atau tulisan tetapi ia terkenal lantaran ucapan-ucapannya. Terkadang ungkapannya dipandang sebagai al-syathahat atau ungkapan ketuhanan misalnya ungkapannya : “Maha suci Aku, Maha suci Aku, betapa besar keagungan-Ku” yang belakangan dikumpulkan dalam kitab al-Luma (buku pancaran sinar) yang ditulis oleh al-Sarraj. Setelah ia wafat para ahli sufi masih banyak mengunjungi makam al-Bustami, misalnya al-Hujwiri, bahkan sejumlah ahli sufi lainnya menaruh hormatterhadap al-Bustami meski bukan berarti mereka menerima kalimat-kalimatnya tanpa koreksi. Pengikut al-Bustami kemudian mengembangkan ajaran tasawuf dengan membentuk suatu aliran tarikat bernama Taifuriyah yang diambil dari nisbah al-Bustami yakni Taifur. Pengaruh terikat ini masih dapat dilihat dibeberapa dunia Islam seperti Zaousfana’, Maghrib (meliputi Maroko, al-Jazair, Tunisia), Chittagong dan Bangladesh. &lt;br /&gt;Mengenai corak pemikiran tasawuf Al-Busthami, Keadaan fana’-baqa’ dan ittihad sebagaimana yang dialami oleh Abu Yazid dalam pengalaman tasawwufnya, merupakan tiga aspek dalam suatu pengalaman sufi yang tejadi setelah tercapainya maqam ma’rifat. Dan hal ini tidak banyak sufi yang mencapai tataran demikian, bahkan kalaupun ada maka tidak akan pernah lepas dari dijumpainya prokontra dari kalangan umat Islam sendiri, terutama dari kalangan mutakallimun, karena perjalanan para sufi pada maqam yang setelah mencapai tingkatan ma’rifat hampir selalu dinyatakan sebagai bertentangan dengan ajaran islam, meskipun upaya demikian dilakukan dalam rangka mendekatkan diri sedekat mungkin pada Sang Pencipta. Dalam perspektif sufi hal ini sangat penting, karena salah satu inti tasawuf adalah perasaan hilangnya seluruh sifat kemanusiaan yang kmudian diganti dengan sifat-sifat ketuhanan. Kondisi ini tercapai dengan sebuah keyakinan bahwa seluruh sifat kemakhlukan manusia merupakan bayang semu yang tidak tetap, sedangkan sifat-sifat tuhan adalah permanen, yang diproses melalui penghilangan kepribadian dan perasaan terhadap semua yang ada disekitarnya terlebih dahulu. Dengan hilangnya semua perasaan dan kehendak pada sesuatu itu, akan hilang pula berbagai keinginan untuk memiliki benda duniawi. Seorang sufi yang hendak bersatu dengan tuhan;ittihad terlebih dahulu harus melalui dengan dua keadaan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu keadaan fana’, yakni, kesirnaan-peleburan; penghancuran perasaan atau kesadaran seseorang tentang dirinya dan makhluk lain disekitarnya, dan baqa’, tetap, kekal, yakni tetap dalam kebajikan dan kekal dalam sifat ketuhanan . &lt;br /&gt;Konsep di atas membawa kepada puncak tasawuf Bayazid yaitu Al-Ittihad. Keadaan ini merupakan suatu tingkatan dalam tasawuf, dimana seorang sufi merasakan dirinya telah bersatu dengan Tuhan, saat yang mencintai dan yang dicintai telah menyatu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang lain dengan kata “hai aku”. Ittihad tidak muncul dengan begitu saja, tetapi harus setelah menenpuh tingkatan fana’-baqa’ yang dapat ditempuh dengan menyadari keadaan dirinya sebagai individu yang terpisah dari Tuhannya, dilanjutkan dengan memperjuangkan tersingkapnya pembatas yang menghalangi pandangan mata hatinya, dengan mengikis sifat-sifat tercela, yang dilakukan secara terus menerus. &lt;br /&gt;Ketika terjadi ittihad secara utuh, Abu Yazid mengatakan dalam syatahatnya : “Tuhan berkata ; semua mereka kecuali engakau adalah makhluk-Ku”, akupun berkata, “Aku adalah Engkau, Engaku adalah aku adalah Engkau”, maka pemilahanpun terputus, kata menjadi satu, bahkan seluruhnya menjadi satu. Dia berkata, “Hai engkau”, aku dengan perantara-Nya menjawab, “Hai aku”. Dia berkata, “Engkau yang satu”. Aku menjawab, “Akulah yang satu”. Dia selanjutnya berkata, “Engkau adalah engaku”. Aku menjawab, “Aku adalah aku”. Kata aku yang diucapkan Abu Yazid bukanlah sebagai gambaran diri Abu Yazid tetapi sebagai gambaran Tuhan, karena saat itu Abu Yazid telah bersatu dengan Tuhan, dengan kata lain, dalam ittihad Abu Yazid berbicara dengan nama Tuhan atau lebih tepat lagi, Tuhan berbicara melalui lidah Abu Yazid .“Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu, karena aku hanyalah hamba yang hina, tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku, karena Engkau Raya Yang Maha Kuasa”. Dia juga menyatakan, “Manusia bertaubat dari dosa-dosa mereka, tetapi aku taubat dari ucapanku “Tidak ada Tuhan selain Allah”, karena dalam hal ini aku memakai alat dan huruf, sedangkan Tuhan tidak dapat dijangkau dengan alat dan huruf”. Semakin larutnya dalam ittihad, di suatu pagi setelah shalat shubuh, Abu Yazid pernah melafalkan kalimat sampai orang lain menganggapnya orang gila dan menjauhinya dengan kalimat, “Sesungguhnya aku adalah Allah, tiada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku, maha suci aku, maha suci aku, maha besar aku” .&lt;br /&gt;Ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan oleh Abu Yazid diatas tidak dapat dilihat secara harfiah, tetapi harus dipandang sebagai ungkapan seorang sufi yang sedang dalam keadaan fana’, seluruh pikiran, kehendak dan tindakannya telah baqa’ dalam Tuhan. Dalam pengalaman tasawuf, keadaan fana’ para sufi berbeda antara satu dengan yang lain. Ada yang kembali kepada keadaan normal sehingga dia tetap menganggap dualitas antara Tuhan dan alam, tetapi ada pula yang betul-betul merasakan fana’ yang kemudian mengantarkan bersatu dengan Tuhan, sehingga tidak ada perbedaan antara Tuhan, dengan alam, atau sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Al-Hallaj&lt;br /&gt;1. Biografi dan Konsep Al-Hulul Mansur Al-Hallaj&lt;br /&gt;Al-Hallaj adalah Abu Mughits al-Husain bin Mansur bin Muhammad al-Baidhawi. Ia adalah salah satu pembesar sufi pada penghujung kurung ketiga dan dipermulaan kurun keempat hijriah. Ia dikatakan al-Hallaj karena bekerja sebagai tukang kapas. Ia lahir sekitar tahun 244 H di Baidha’ Persia. Konon sebelumnya ia adalah seorang Majusi, dan konon juga mengatakan bahwa ia masih keturunan Abi Ayyub. Ia tumbuh di Irak, dan berteman dengan syekh-syekh tasawuf pada masanya seperti Sahl Tustan, Abi Umar Al-Maki, dan Junaid . Ketika masih kecil, ayahnya pindah ke Tustar, kota kecil dikawasan Wasith, dekat Baghdad. Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar ilmu keagamaan. Sejak kecil, al-Hallaj mulai belajar membaca al-Qur’an, sehingga berhasil menjadi penghafal al-Qur’an (hafidz). Pemahaman tasawuf pertama kali ia kenal dan pelajari dari seorang sufi yang bernama Sahl al-Tustari . Karena pengembaraannya yang intens, maka ia dikenal sebagai seorang sufi yang berkelana ke berbagai daerah. Berkelananya ke berbagai daerah, mengantarkan ia dapat berkelana, bertmu, berteman dan bahkan berguru kepada para sufi kenamaan pada masa itu. Menginjak usia 20 tahun, al-Hallaj meninggalkan Tustar menuju kota Basra dan berguru kepada Amr Makki. Untuk memperdalam keilmuannya, seterusnya pindah ke kota Bagdad untuk menemui sekaligus berguru kepada tokoh sufi modern yang termasyhur, yaitu al-Junaid alBaghdadi. Ia digelari al-Hallaj karena penghidupannya yang dia peroleh dari memintal wol . Dalam sumber lain dijelaskan, bahwa disebut al-Hallaj karena dapat membaca pikiran-pikiran manusia yang rahasia, maka terkenal dengan Hallaj al-Asror, penenun ilmu ghaib . &lt;br /&gt;Selanjutnya, al-Hallaj muda pergi ke kota Makkah. Di kota suci ini, ia menetap selama kurang lebih satu tahun. Selama di kota suci ini ia tinggal dan bermukim di pelataran Masjid al-Haram sambil melakukan praktek kesufiannya. Pada situasi dan kondisi seperti inilah, ia mengalami dan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang tiada tara bandingannya. Dalam sebuah pengakuannya, ia telah mengalami pengalaman mistik yang luar biasa, yang pada wacana berikutnya kemudian terkenal dengan istilah hulul . Pada ujung proses merasakan dan mengalami pengalaman spiritual yang luar bisa tersebut, al-Hallaj memutuskan untuk kembali ke kota Baghdad dan menetap di kota ini sambil terus menyebarkan ajaran tasawufnya. Namun demikian, keadaan menentukan lain dan memaksanya menjadi rakyat yang tertindas dari kekejaman penguasa saat itu. Pada tanggal 18 Dzulkaidah 309 H / 922 M ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh pengusa Dinasti Abbasiyah (Khalifah Al-Muktadir Billah) . Motif dan latar belakang penangkapan dan vonis hukuman mati ini adalah bermuara dari tuduhan membawa paham hulul yang dianggap menyesatkan umat. &lt;br /&gt;Konsep hulul yang diusung oleh Mansur al-Hallaj dalam praktek pengalaman tasawufnya sebenarnya berpijak dari kedekatannya dengan Tuhan. Kedekatan berikut dengan segala atribut nuansa spiritualnya bertumpu pada konsep teologi yang masih dalam koridor spiritualitas Islam (Islamic Spirituality). Spiritualitas Islam  yang senantiasa identik dengan upaya menyaksikan Yang Satu, mengungkap Yang Satu, dan Syiah Qaramitah adalah sebuah kelompok Syiah beraliran garis keras yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang dan memusuhi pemerintah Dinasti Abbasiyah sejak abad kesepuluh sampai dengan abad ke sebelas, Spiritualis Islam (Islamic Sprirituality) sebagaimana dijelaskan secara khusus oleh Sayyed Hossein Nasr adalah sebuah pengalaman dan pengetahuan akan keesaan Allah dan realisasinya dalam pemikiran, perkataan, sikap, dan perbuatan, serta berangkat dari kemauan, jiwa, dan kecerdasan yang pada puncaknya adalah menjalani hidup dan melakukan perbuatan yang senantiasa sejalan kehendak Ilahi, mencintainya dengan segenap wujud, dan akhirnya mengenal-Nya melalui pengetahuan integratif dan iluminatif, yang realisasinya tidak akan pernah dapat terpisahkan dari cinta, dan tidak akan mungkin tanpa kehadiran perbuatan yang benar . Mengenali Yang Satu, Tuhan dalam kemutlakan Realitas-Nya yang melampaui segala manifestasi dan determinasi, Sang Tunggal yang ditegaskan dalam al-Qur’an dengan nama Allah .&lt;br /&gt;Ajaran tasawuf al-Hallaj yang terkenal adalah konsep hulul. Tuhan dipahami mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu setelah manusia tersebut betul-betul berhasil melenyapkan sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuhnya. Menurut al-Hallaj bahwa Tuhan mempunyai dua sifat dasar, yaitu al-lahut (sifat ketuhanan) dan al-nasut (sifat kemanusiaan) . Demikian juga manusia juga memiliki dua sifat dasar yang sama. Oleh karena itu, antara Tuhan dan manusia terdapat kesamaan sifat. Argumentasi pemahaman ini dibangun berdasarkan kandungan makna dari sebuah hadits yang mengatakan bahwa: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentukNya” sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Ahamad bin Hambal atau Imam Hambali. Hadits ini memberikan wawasan bahwa di dalam diri Adam as terdapat bentuk Tuhan yang disebut al-lahut. Sebaliknya di dalam diri Tuhan terdapat bentuk manusia yang disebut al-nasut . Berdasarkan pemahaman adanya sifat antara Tuhan dan manusia tersebut, maka integrasi atau persatuan antara Tuhan dan manusia sangat mungkin terjadi. Proses bersatunya antara Tuhan dn manusia dalam pemahaman ini adalah dalam bentuk hulul. Bersatunya antara Tuhan dan manusia harus melalui proses bersyarat, dimana manakala manusia berkeinginan menyatu dengan Tuhannya, maka ia harus mampu melenyapkan sifat al-nasutnya. Lenyapnya sifat al-nasut, maka secara otomatis akan dibarengi dengan munculnya sifat al-lahut dan dalam keadaan seperti inilah terjadi pengalaman hulul .&lt;br /&gt;Pernyataan al-Hallaj bahwa dirinya tetap ada, yang terjadi adalah bersatunya sifat Tuhan di dalam dirinya, sebagaimana ungkapan syairnya : “Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian kelihatan bagi makhluknya dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum”. Dalam syair di atas tampak Tuhan mempunyai dua sifat dasar keTuhanan, yaitu “Lahut” dan “Nasut”. Dua istilah ini oleh al-Hallaj diambil dari falsafah Kristen yang mengatakan bahwa Nasut Allah mengandung tabiat kemanusiaan di dalamnya. Dalam konsep hulul al-Hallaj dimana Tuhan dengan sifat ketuhanan menyatu dalam dirinya, berbaur sifat Tuhan itu dengan sifat kemanusiaan. Penyatuan antara roh Tuhan dengan roh manusia dilukiskan oleh al-Hallaj di dalam syairnya sebagai berikut : ‫“JiwaMu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur dicampur dengan air suci. Dan jika ada sesuatu yang menyentuh Engkau, ia menyentuh aku pula dan ketika itu dalam setiap keadaaan Engkau adalah aku” . &lt;br /&gt;Bahkan didalam syairnya yang lain, al-Hallaj melukiskan dengan sangat jelas bahwa : “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucinta adalah aku. Kami adalah dua roh yang bersatu dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia, dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami” . Tatkala peristiwa hulul sedang berlangsung, keluarlah syatahat (kata-kata aneh) dari lidah al-Hallaj yang berbunyi Ana al-Haqq (Aku adalah Yang Maha Benar). Kata al-Haq dalam istilah tasawuf, berarti Tuhan. Sebagian masyarakat saat itu menganggap al-Hallaj telah kafir, karena ia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Padahal yang sebenarnya, dengan segala kearifan dan kerendahan hati spiritualnya, al-Hallaj tidak mengaku demikian. Perspektif ini dibangun berdasarkan ungkapan syairnya yang lain dengan mengatakan bahwa: ‫“Aku adalah Rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku, aku hanya satu dari yang benar, dibedakanlah antara kami atau aku dan Dia Yang Maha Benar”. Dalam pengertian lain dapat diungkapkan bahwa syatahat yang keluar dari mulut al-Hallaj tidak lain adalah ucapan Tuhan melalui lidahnya . Dengan ungkapan ini, semakin tidak mungkin untuk memahami bahwa maksud al-Hallaj dengan hululnya dalam berbagai syairnya adalah dirinya al-Haq. Jadi karena sangat cintanya kepada Allah menjadikan tidak ada pemisah antara dirinya dengan kehendak Allah, seolah-olah dirinya dan Tuhan adalah satu. Sebagaimana diungkapkan dalam syairnya: “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kesimpulan &lt;br /&gt;Corak tasawuf pada abad ke 3 dan ke 4 H tidak terlepas dari konsep zuhud,  dan fana. Hal ini tercermin dari pemikiran tasawuf tokoh di masa tersebut seperti Al-Junaid, Al-Busthami dengan ittihad, Al-Hallaj dengan Hulul. Banyak kritik terhadap pemikiran tokoh ini terutama konsep ittihad dan hulul. Namun, dalam bagian ini, penulis ingin menyampaikan telaah kritis terhadap konsep-konsep tersebut yang dapat diambil makna positif dalam kehidupan pada masa saat ini dimana orang-orang menyembah budaya materialisme dan mempertaruhkan segala sesuatu di atas uang. Ketercerabutan unsur manusiawi dalam diri manusia ini dapat diimbangi dengan solusi sufistik menjadi alternatif positif dalam realitas kehidupan yang serba dinamis. &lt;br /&gt;Salah satu makna dari kisah simbolis para sufi seperti Al-Junaid, Al-Busthami dan Al-Hallaj adalah kesediaan diri untuk melepaskan segala atribut duniawi sehingga hati hanya terpaut kepada Allah Sang Pencipta. Keterikatan dengan segala sesuatu yang bukan Dia, dapat menghalangi mata batin kita untuk melihat cahaya di dalam kegelapan. Tataran konkritnya: Al-Hallaj memilih jalan sunyi itu. Betapa terkutuknya ia di mata manusia, tetapi betapa agung sakit yang dikunyahnya. Pesan simbolis yang ingin disampaikan adalah melalui posisi “Al-Hallaj” secara substansif bahwa manusia hendaknya melepaskan kungkungan formalisme dan materialisme yang ternyata sangat rentan untuk hilang. “Al-Hallaj” adalah suatu idiom yang menggairahkan untuk menyebut bagian dari dunia dan kehidupan yang menawar, menggugat. Gerakan Al-Hallaj dan Al-Busthami secara metaforik merupakan ancaman serius bagi ketaatan yang selesai, formalisme syariat, dan fanatisme. Yang menentang menomorsatukan selain Allah: ambisi kekuasaan, maniak harta benda, mengumbar nafsu, eksploitasi buta demi kepentingan pribadi yang sepertinya saat ini menjadi: “pasar riuh rendah, jalanan ramai obsesi kita sehari-hari”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah, Taufiq dkk. 2002. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve. &lt;br /&gt;Al-Ghanimi al-Taftazani, Abu Wafa’. 2008. Tasawuf Islam: Telaah Historis dan Perkembangannya. Terj. Subhkan Anshori. Jakarta: Gaya Media Pratama. &lt;br /&gt;Al-Kumayi, Sulaiman.2004. Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym. Semarang: Pustaka Nuun.&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi. 2008. Ensiklopedi Tasawuf. Bandung: Angkasa.&lt;br /&gt;_____________. 2002. Ensiklopedia Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. &lt;br /&gt;Hadi W, M. Abd.. 1979. Dalam pengantar Saleh Abdul Sabur. Tragedi al-Hallaj. Pustaka: Bandung.&lt;br /&gt;Joebar, Ajoeb.1986. Dalam pengantar Ibrahim Gazur I-Ilahi, The Secret of Ana L-Haqq. Jakarta: Rajawali. &lt;br /&gt;Muhammad SQ, Yusuf. 2010. Rahasia Surga: Kisah-Kisah Teladan Ahli Surga. Yogyakarta: Kelompok Penerbit Pinus. &lt;br /&gt;Nasution, Harun.1973. Falsafah dan Mistisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. &lt;br /&gt;_____________. 1973. Islam ditinjau dari berbagai aspek. Jakarta: Bulan Bintang. &lt;br /&gt;Nasr, Sayyed  Hossein. 2003. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi. (tim penerjemah Mizan), Bandung: Mizan.&lt;br /&gt;Simuh.1997. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam.  Jakarta:  Raja Grafindo.&lt;br /&gt;Solihin. 2003. Tasawuf Tematik: Membedah Tema-tema Penting. Bandung: Pustaka Setia.&lt;br /&gt;Syukur, M. Amin.1999. Menggugat Tasawuf. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.  &lt;br /&gt;Team Penyusun Ensiklopedia Islam. 1994. Ensiklopedi Islam, Jilid I. Jakarta, Ikhtiar Baru Van Hoeve. &lt;br /&gt;http://allah-ada-tanpa-tempat.wordpress.com/biografi-kaum-sufi. diakses tanggal 16 Juli 2010 pukul 20.00 WIB&lt;br /&gt;www.sufi-road.blogspot.com/Al-Junaid. diakses tanggal 16 Juli 2010 pukul 20.00 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-4408055320871662001?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/4408055320871662001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/pemikiran-tasawuf-junaid-al-baghdadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4408055320871662001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4408055320871662001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/pemikiran-tasawuf-junaid-al-baghdadi.html' title='PEMIKIRAN TASAWUF JUNAID AL-BAGHDADI, ABU YAZID AL-BUSTHAMI, MANSUR AL-HALLAJ'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-3812543720468091932</id><published>2010-07-29T09:12:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T09:12:07.242-07:00</updated><title type='text'>Fungsi-fungsi Fundamental (spekulatif, kritik, teoritik) dalam Wacana Filsafat Pendidikan Islam</title><content type='html'>Pendidikan Islam saat ini memberikan sinyalemen bahwa kontribusi kultural dan intelektual kaum muslim sebagai kesatuan bangsa muslim terbesar masih jauh di bawah proporsinya (la yahya wa la yamuutu). Hal ini sangat jelas dari aspek performance dan peran pendidikan Islam yang cenderung memunculkan traditional scriptualism; sikap keberagamaan yang cenderung pada legalisme (formalisme syariat), “salaf sentris”, yang akibatnya adalah penciptaan masyarakat yang lebih berpegang teguh pada ortodoksi. Sementara di sisi lain, filsafat mendapatkan porsi yang sedikit secara proporsi. Bahkan lebih ekstrem lagi, sebagian subjek pendidikan Islam kita terjangkiti sikap parokialistik; sikap menolak segala sesuatu yang tidak berasal dari kaum mereka sendiri. Kausalitas konkritnya: seorang santri yang cerdas menimba ilmu dari pesantren, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsawaniyah, Madrasah Aliyah kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi Islam sebut saja misalnya: STAIN, IAIN, UIN. Setelah menyelesaikan sarjana S1, S2, atau S3, mengabdi di lembaga pendidikan Islam yang sejenis. Pola homo-institusi ini sangat mungkin terjadi. &lt;br /&gt;Tanpa menafikan lembaga pendidikan Islam, namun melihat realitas kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, jelas sekali.... sangat sedikit lulusan lembaga pendidikan Islam yang menempati posisi-posisi strategis di dalam pemerintahan, dimana kebijakan suatu bangsa dan negara banyak ditentukan dari bidang pemerintahan, politik, ekonomi. Padahal jelas, alumni lembaga pendidikan Islam mempunyai daya saing ditinjau dari kualitas bahkan memiliki kelebihan baik IQ, EQ, dan SQ (tiga hal yang membuat manusia menjadi dewasa). Kondisi ini terjadi sebagai akibat dari kurangnya peranan pendidikan Islam di Indonesia di masa lalu. Dimana pendidikan Islam di masa lalu (khususnya Indonesia) mempunyai wajah baru namun “orang lama”. Pendidikan Islam terjebak dalam konformitas. Perasaan puas terhadap hegemoni Islam di masa kejayaannya yang membuat lengah dalam menatap masa depan dengan lebih tajam, optimis, dan penuh semangat yang tinggi. Kajian-kajian Islam lebih memfokuskan diri pada rekodifikasi terhadap ilmu-ilmu di masa lalu sehingga kurang kontekstual dengan masa sekarang. Singkatnya, ilmu-ilmu tersebut terasa usang karena yang dilakukan bukannya internalisasi nilai-nilainya, namun sekedar bernostalgia terhadap hegemoni Islam di masa lalu. &lt;br /&gt;Walaupun tak sepenuhnya analisis di atas benar, asumsi-asumsi yang berkembang sangat mempengaruhi secara kultural dan mempengaruhi secara individu. Seperti asumsi: pemerintahan dan politik merupakan “barang haram” untuk disentuh. Asumsi ini berkembang sebagai reses dari historis-kultural dampak negatif dari miss-interpretation terhadap gerakan tasawuf seperti: zuhud, fana. Mengkritik problematika ini, penulis ingin meminjam istilah Nurcholis Majdid, “sekulerasi”. Pembebasan nilai-nilai dari mengukhrowikan dunia. Sekulerasi bukan membuat orang menjadi sekularis. Ide ini relevan dengan kondisi pendidikan Islam yang saat ini: terpinggirkan, terdiskriminasi dengan konotasi terbelakang dan ortodoks, dan orientasi praktik ritual keagamaan dan dikotomis.&lt;br /&gt;Dari kondisi pendidikan Islam di atas, penulis hendak menyampaikan telaah kritis terhadap performance pendidikan Islam. Pertama, masalah materi dan muatan pendidikan Islam. Kecenderungan saat ini, materi pendidikan Islam hanya menekankan dimensi teologis dalam pengertian sempit dan ritual ajaran agama. Kajian-kajian teologis berkutat pada persoalan ketuhanan yang bersifat mistik-ontologis dan tidak berhubungan sama sekali dengan realitas kemanusiaan. Padahal, seperti yang dikatakan Dr. Yusuf Qardhawi: Al-Qur’an adalah kitab manusia, karena al-Qur’an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. Iman sebagai kajian utama dalam pendidikan Islam lebih banyak diorientasikan pada upaya-upaya mempertahankan akidah sehingga tidak membuahkan kekayaan wacana dan pengayaan spiritual, etika dan moral. Sehingga cukup beralasan adanya sinyalemen yang mengatakan bahwa pendidikan Islam masih dalam posisi “cagar budaya” untuk mempertahankan paham-paham keagamaan tertentu. &lt;br /&gt;Kedua, masalah yang berkaitan dengan kerangka metodologi. Pendidikan Islam memang memang seringkali masih terpaku pada model konvensional yang lebih menekankan penggunaan metode ceramah yang cenderung monolog dan doktrinatif, yang lebih mementingkan memori daripada analisis dan dialog. Hal ini terjadi karena pengetahuan yang disampaikan kepada peserta didik bukan dalam bentuk “proses” yang mengapresiasi pemahaman, penalaran, dan pelatihan, melainkan dalam bentuk “produk” yang menekankan hafalan dan mengganggap suatu ilmu telah selesai, final dan mapan. H.A.R Tilaar menyebutnya dengan budaya intelektualisme dan verbalisme. Pendekatan semacam itu dikategorikan sebagai pendekatan doktriner-literal-formal.&lt;br /&gt;Ketiga, masalah dis-integrasi pendidikan Islam, dalam arti dualisme-dikotomis. Pendidikan Islam jarang dikaitkan dengan disiplin keilmuan lainnya. Kecuali penekanan yang tidak proporsional terhadap dimensi teologis dan ritual semata. Parahnya lagi, pendidikan Islam jarang sekali dijelaskan dari sudut pandang disiplin ilmu lain seperti: filsafat, antropologi, psikologi, ekonomi. Bisa disebut pola pendidikan Islam sekedar dipahami sebagai pola “pengajian”, bukan “pengkajian” ataupun studi Islam yang perlu menyertakan disiplin ilmu lain dalam menjelaskan ajaran dan fenomena keagamaannya. Pendidikan Islam masih disajikan secara fragmentaris sehingga belum mampu memadukan hubungan fungsional-integral atau belum memadai dalam memadukan secara harmonis antara pendekatan doktriner dengan pendekatan saintifik sehingga terasa hampa kandungan fungsional-praktisnya.&lt;br /&gt;Pendidikan Islam merupakan bentuk hubungan paling esensial dalam kehidupan manusia sehingga fungsi dan peranannya dalam kehidupan yang terus-menerus berubah akan tetap langgeng, meski banyak gugatan. Fazlur Rahman menyebutnya dengan merosotnya intelektualisme Islam sebagai akibat kemandulan pendidikan Islam. Ada beberapa wacana yang dapat ditawarkan menanggapi permasalahan tersebut. &lt;br /&gt;Pertama, penelusuran jejak masa kejayaan Islam dengan pendekatan filosofis-historis dengan kerangka dasar wawasan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mengkaji langkah-langkah serta metodologi yang digunakan, analisis kondisi sosiologis-psikologis-antropologis saat itu akan membantu pendidikan Islam dalam memahami nilai-nilai strategis yang dapat diambil inti sarinya untuk dikemas secara konstruktif. &lt;br /&gt;Kedua, karena pendidikan Islam terkait erat dengan dimensi praksis-sosial yang senantiasa memiliki dampak sosial dan dituntut untuk responsif terhadap realitas sosial dan tidak terbatas pada lingkup pemikiran teoretis-konseptual, maka-meminjam ide Hassan Hanafi-perlu adanya transformasi dari tataran teologi-normatif  ke tataran rasional-proaktif. Dimana teks-teks atau dogma agama harus dipahami dan mempunyai tanggung jawab sebagai social determinance. Pendidikan Islam sebagai matrik konseptual aktivitas kultural-performatif, yang berkaitan langsung dengan dinamika praksis sosial-budaya, perlu secara progresif mempertegas jati diri keberpihakan pada tindakan penyadaran dan pemberdayaan. Determinasi sosial ini berkaitan dengan budaya. Memahami budaya identik dengan kemajemukan, maka sikap toleransi, terbuka, inklusif sangat diperlukan. Dalam kajian Pendidikan Islam Integralistik, perlu adanya pemaduan secara sinergis-dialektis antara epistemologi bayani, irfani dan burhani dalam struktur hierarkis dalam kerangka humanisasi, liberasi, dan transedensi dengan tujuan menghindari keterjebakan dalam kubangan dualisme dikotomik keilmuan secara berkelanjutan, reduksi spektrum keilmuan, dan diharapkan mampu melakukan kontekstualisasi dinamis-konstruktif seiring akselerasi dinamika sosial-budaya karena formulasi pendidikan Islam yang telah dihasilkan tidak dipandang sebagai produk final, atau sebagai “Ketaatan yang selesai”. Singkatnya Pendidikan Islam dalam kerangka multikultural yang dinamis-integralistik berlandaskan nilai-nilai islami merupakan wacana solusif yang dapat penulis kemukakan dalam membenahi pendidikan Islam yang benar-benar mampu menjadi sentral dari segala aspek kehidupan berbangsa dan  bernegara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-3812543720468091932?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/3812543720468091932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/fungsi-fungsi-fundamental-spekulatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3812543720468091932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3812543720468091932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/07/fungsi-fungsi-fundamental-spekulatif.html' title='Fungsi-fungsi Fundamental (spekulatif, kritik, teoritik) dalam Wacana Filsafat Pendidikan Islam'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-3866331563977274102</id><published>2010-01-19T00:11:00.001-08:00</published><updated>2010-01-19T00:11:23.676-08:00</updated><title type='text'>Peranan Kepala Sekolah Sebagai Supervisor</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt;Pernahkah kita mendengar istilah supervisor? Tentu pernah. Supervisor adalah orang yang memegang jabatan sebagai pengawas, memberikan arahan dan bimbingan serta melakukan kegiatan pembinaan terhadap suatu institusi yang dipimpinnya. Peranan seorang supervisor sangat penting. Dapat dikatakan pula seorang supervisor adalah penanggung jawab kegiatan. Supervisor merupakan individu yang memiliki kecakapan dan memenuhi kriteria-kriteria yang ditetapkan. Artinya supervisor memiliki kelebihan dibandingkan bawahannya. &lt;br /&gt;Dalam suatu organisasi sekolah, kepala sekolah bertindak sebagai supervisor. Diharapkan supervisor mampu melakukan pembinaan dan peningkatan profesi mengajar seperti pengarahan untuk meningkatkan efektivas dan efisiensi belajar mengajar, mengendalikan penyelenggarakan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan, menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancer dan memperoleh hasil dan optimal, menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya, serta memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kekhilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah, sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh (Purwanto, 2002 : 100).&lt;br /&gt;Beberapa pembinaan diatas, diharapkan mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan memberikan bantuan kepada para guru agar mampu membina dirinya sehingga semakin mampu dan terampil menjalankan usaha-usaha yang menunjang proses belajar mengajar. Seorang supervisor, dalam hal ini kepala sekolah, juga mempunyai beberapa jenis karakter sesuai dengan tipe kepemimpinannya. Pada pembahasan akan ditulis ciri-ciri seorang supervisor yang baik, tugas-tugasnya, serta beberapa hal yang perlu diperhatikan kepala sekolah dalam berbagai bidang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;Dari deskripsi diatas, dapat dirumuskan beberapa pertanyaan, antara lain :&lt;br /&gt;1. Apa saja tipe-tipe kepengawasan?&lt;br /&gt;2. Bagaimana ciri-ciri yang baik bagi kepala sekolah sebagai supervisor?&lt;br /&gt;3. Apa fungsi supervisi pendidikan bagi kepala sekolah sebagai supervisor pada organisasi sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tujuan Penulisan &lt;br /&gt;Adapun tujuan dari penulisan makalah ini untuk menambah pengetahuan serta mampu memahami karakteristik seorang kepala sekolah sebagai supervisor yang baik sehingga dapat melaksanakan tungsi-fungsi sebagaimana mestinya. Dan juga mampu melaksanakan pembinaan dengan peningkatan potensi mengajar sehingga dapat diambil langkah-langkah perbaikan untuk mengoptimalkan peranan kepala sekolah sebagai seorang supervisor dalam suatu organisasi sekolah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tipe-Tipe Kepengawasan&lt;br /&gt;Fungsi pokok kepala sekola sebagai supervisor adalah membantu guru-guru dalam mengembangkan potensi-potensi mereka sebaik-baiknya. Akan tetapi, fungsi supervisor ini tidak terlepas dari tipe-tipe kepemimpinan yang dianutnya. &lt;br /&gt;Burton dan Breuckner mengemukakan ada lima tipe supervisi yaitu inspeksi, laissez-faire, coercive, training and guidance dan democratic leadership. (Burhanuddin, 2005:79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Supervisi Sebagai Inspeksi &lt;br /&gt;Jenis ini biasanya diterapkan pada administrasi dan supervisi yang otokratis. Supervisi hanya semata-mata merupakan kegiatan menginspeksi pekerjaan guru atau bawahannya. Inspeksi bukanlah pengawasan yang membantu mengembangkan dan memperbaiki cara dan daya kerja sebagai pendidik dan pengajar. Inspeksi lebih diinterpretasikan sebagai kegiatan-kegiatan mencari kesalahan. Dengan kata lain menentukan konduite. Inilah ciri-ciri kepengawasan zaman kolonial dahulu yang ironisnya hingga kini masih juga terdapat pada dunia pendidikan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Laissez Faire&lt;br /&gt;Tipe ini merupakan kepengawasan yang tidak konstruktif. Ditandai dengan tidak adanya pengarahan dan bimbingan serta koordinasi sehingga membiarkan guru-guru bekerja sekehendaknya. Tipe ini terbentuk oleh perspektif terhadap demokrasi yang salah. Sehingga yang ada hanyalah kepengawasan yang lemah dan tanpa tanggung jawab. Wajar saja jika ketidakharmonisan dalam kerja sama sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Coercive Supervision&lt;br /&gt;Tipe ini hampir sama dengan inspeksi, yaitu lebih bersifat otoriter. Pengawas bersifat memaksakan segala sesuatu yang dianggapnya benar dan baik menurut pendapatnya sendiri. Pendapat guru tidak dihiraukan, guru harus tunduk dan menuruti petunjuk-petunjuk yang dianggap baik oleh seorang supervisor. Mungkin dalam kondisi tertentu tipe ini cocok, seperti bagi guru yang baru mulai belajar dan mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Training and Guidance&lt;br /&gt;Tipe ini lebih baik dari tiga tipe diatas. Tipe ini berlandaskan suatu pandangan bahwa pendidikan itu merupakan proses pertumbuhan bimbingan serta pandangan bahwa orang yang diangkat sebagai guru telah mendapat pre-service di sekolah guru. Jenis ini berorientasi pada latihan (training) dan bimbingan (guidance). Tipe ini baik, namun mempunyai kelemahan yaitu mungkin saja pengawasan, petunjuk, arahan yang diberikan kepala sekolah bersifat kolot, tidak up to date. Kontradiksi ini dapat terjadi sebaliknya, pendapat supervisi itu lebih maju sedangkan pengetahuan guru masih bersifat konservatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Democratic Leadership&lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya, kepengawasan ini bersifat demokratis dan kepemimpinan bersifat kooperatif. Dalam tingkat ini, supervisi bukan lagi pekerjaan yang dipegang oleh satu orang saja, melainkan pekerjaan yang memerlukan koordinasi bersama. Tanggung jawab dibagikan kepada para anggota sesuai tingkat serta kompetensi masing-masing. Salah satu kelebihan tipe ini adalah menemukan cara-cara bekerja yang kooperatif dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ciri-Ciri Seorang Supervisor Yang Baik&lt;br /&gt;Seorang supervisor hendaknya memiliki ciri pribadi sebagai guru yang baik, memiliki pembawaan kecerdasan yang tinggi, pandangan yang luas mengenai proses pendidikan dalam masyarakat, kepribadian yang menyenangkan dan kecakapan melaksanakan human relation yang baik pula. &lt;br /&gt;Dalam lapangan psikologi, menurut tipologi Kant orang yang cocok menjadi supervisor adalah orang yang bertipe temperament phlegmatis. Diantaranya memiliki sifat lamban menjadi panas, tetapi panasnya itu tahan lama, tidak mudah marah. (Suryabrata, 2007:58).&lt;br /&gt;Thomkins dan Backley menyatakan kualitas penting bagi seorang supervisor adalah memiliki intuisi yang baik, kerendahan hati, keramah-tamahan, ketekunan, sifat humor, kesabaran, dan ciri-ciri lain yang menyangkut hubungan antara orang-orang.&lt;br /&gt;Kimball Wiles mengemukakan seorang supervisor berurusan dengan persiapan kepemimpinan yang efektif di dalam staf, harus berusaha memperbaiki sensitivitasnya terhadap perasaan orang lain, hubungan kerjasama yang kooperatif dan harus sering berhubungan di dalam kelompok kerja. (Burhanuddin, 2005:85).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, ciri-ciri supervisor yang baik adalah :&lt;br /&gt;1. Berpengetahuan luas tentang seluk beluk semua pekerjaan yang diawasinya. &lt;br /&gt;2. Menguasai benar-benar rencana dan program yang telah digariskan yang akan dicapai oleh setiap lembaga atau bagian. &lt;br /&gt;3. berwibawa, dan memiliki kecakapan praktis tentang teknik-teknik kepengawasan, terutama human relation.&lt;br /&gt;4. Memiliki sifat jujur, tegas, konsekuen, ramah, dan rendah hati. &lt;br /&gt;5. Berkemauan keras, rajin bekerja demi tercapainya tujuan atau program yang telah digariskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Fungsi-Fungsi Supervisi Bagi Seorang Kepala Sekolah&lt;br /&gt;Fungsi-fungsi supervisi pendidikan yang sangat penting diketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk kepala sekolah, adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam bidang kepemimpinan&lt;br /&gt;a. Menyusun rencana dan policy bersama&lt;br /&gt;b. Mengikutsertakan anggota-anggota kelompok dalam berbagai kegiatan&lt;br /&gt;c. Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan.&lt;br /&gt;d. Membangkitkan dan memupuk semangat kelompok, atau memupuk moral yang tinggi kepada anggota kelompok.&lt;br /&gt;e. Mengikutsertakan semua anggota dalam menetapkan putusan-putusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam hubungan kemanusiaan&lt;br /&gt;a. Memanfaatkan kesalahan yang dialami sebagai untuk dijadikan pelajaran demi perbaikan selanjutnya.&lt;br /&gt;b. Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi anggota kelompok, seperti dalam hal kemalasan, merasa rendah diri dan lain-lain.&lt;br /&gt;c. Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap demokratis.&lt;br /&gt;d. Memupuk rasa saling menghormati diantara sesama anggota kelompok dan sesama manusia. &lt;br /&gt;e. Menghilangkan rasa curiga antara anggota kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dalam pembinaan proses kelompok &lt;br /&gt;a. Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan maupun kemampuan masing-masing.&lt;br /&gt;b. Menimbulkan dan memelihara sikap percaya antara sesama anggota.&lt;br /&gt;c. Memupuk sikap dan kesediaan tolong menolong.&lt;br /&gt;d. Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota kelompok.&lt;br /&gt;e. Bertindak bijaksana dalam menyelesaikan pertentangan diantara anggota kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam bidang administrasi personel&lt;br /&gt;a. Memilih personel yang memiliki syarat dan kecakapan yang dperlukan untuk suatu pekerjaan. &lt;br /&gt;b. Menempatkan personel pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing. &lt;br /&gt;c. Mengusahakan susunan kerja yang menyenangkan dan meningkatkan daya kerja serta hasil maksimal. &lt;br /&gt;5. Dalam bidang evaluasi&lt;br /&gt;a. Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus. &lt;br /&gt;b. Menguasai dan memiliki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriteria penilaian. &lt;br /&gt;c. Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang lengkap, benar dan dapat diolah menurut norma yang ada. &lt;br /&gt;d. Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapatkan gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kesimpulan &lt;br /&gt;Dalam suatu organisasi sekolah, kepala sekolah bertindak sebagai supervisor. Diharapkan supervisor mampu melakukan pembinaan dan peningkatan profesi mengajar seperti pengarahan untuk meningkatkan efektivas dan efisiensi belajar mengajar. Selain itu, ada lima tipe supervisi yaitu inspeksi, laissez-faire, coercive, training and guidance dan democratic leadership. Seorang supervisor hendaknya memiliki ciri pribadi sebagai guru yang baik, memiliki pembawaan kecerdasan yang tinggi, pandangan yang luas mengenai proses pendidikan dalam masyarakat, kepribadian yang menyenangkan dan kecakapan melaksanakan human relation yang baik pula. Fungsi-fungsi supervisi pendidikan yang sangat penting diketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk kepala sekolah terutama dalam bidang kepemimpinan, hubungan kemanusiaan, pembinaan proses kelompok, bidang administrasi personel, bidang evaluasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Saran&lt;br /&gt;Dengan adanya makalah ini diharapkan optimalisasi peranan kepala sekolah dapat dilakukan. Berbagai upaya dari pihak pusat juga sangat diharapkan, karena untuk mencapai tujuan administrasi dan supervisi pendidikan yang mumpuni perlu kerja dan daya usaha dari semua pihak yang meliputi semua unsur pendidikan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burhanuddin, Yusak. 2005. Administrasi Pendidikan. Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MPK. CV Pustaka Setia : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwanto, Ngalim. 2002. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryabrata, Sumadi. 2007. Psikologi Kepribadian. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-3866331563977274102?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/3866331563977274102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/01/peranan-kepala-sekolah-sebagai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3866331563977274102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/3866331563977274102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/01/peranan-kepala-sekolah-sebagai.html' title='Peranan Kepala Sekolah Sebagai Supervisor'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-6308597696093211540</id><published>2010-01-03T05:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T05:45:19.164-08:00</updated><title type='text'>Signifikasi pendekatan Pendidikan Islam Hassan Hanafi dan Nurcholis Madjid dalam konteks global maupun nasional</title><content type='html'>Salah satu faktor kegagalan pendidikan Islam adalah pendidikan Islam yang terlalu menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya. Penekanan lebih pada hubungan formalitas antara hamba dan  Tuhannya. Pada saat yang bersamaan, Islam lebih diajarkan pada tingkat hafalan padahal Islam penuh dengan nilai-nilai yang mesti dipraktekkan. Pendidikan Islam di Bangka Belitung, bahkan yang lebih luas lagi yaitu Indonesia, metode pembelajaran agama Islam yang berkaitan dengan aplikasi nilai-nilai Islam pada tataran praktis kurang mendapat garapan. Sehingga tolak ukur pendidikan Islam juga masih bersifat formalistik dan verbalistik. Pendidikan Islam yang dikembangkan di sekolah dasar bahkan sampai perguruan tinggi masih bersifat indoktrinasi dan pemahaman nilai ala kadarnya daripada penumbuhan jiwa kritis dan pengembangan intelektualisme siswa. Sistem pendidikan Islam yang doktriner ini akan melahirkan peserta didik yang parsial. Karakter yang muncul sebagai hasil sistem yang seperti ini mungkin dapat disebutkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Tidak memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual karena hanya disuguhi aturan-aturan rigid yang mengikat. Sehingga pendidikan agama jauh dari intellectual exercise. Ia hanya akan menerima nilai-nilai yang mengandung unsur relativitas tanpa berusaha berpikir kritis.&lt;br /&gt;b. Menjadi fanatik. Sehingga tidak memiliki pemahaman agama yang terbuka, toleran, dan inklusif. Sistem doktriner akan menumbuhkan kesetiaan secara taken for granted atas agama, konservatisme menjadi sangat kuat sehingga jauh dari jiwa pluralis dan kritis.&lt;br /&gt;Sebagai bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari, banyak ditemukan siswa kita di Bangka Belitung yang akrab dengan DVD porno, hamil di luar nikah, dan banyak lagi kasus-kasus yang mengindikasikan betapa rendah dan rapuhnya fondasi moral dan spiritual anak-anak didik. Hal ini tantangan bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam yang erat kaitannya dengan penanaman dasar-dasar moral dan spiritual. Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, pendidikan Islam kurang menggigit dalam tataran aksi sehingga pendidikan Islam dipahami secara parsial hanya hubungan hamba dengan tuhannya. Singkat kata mereka menjalankan nilai-nilai Islam hanya saat berada di masjid. Selain itu, fanatik suatu kelompok membuat timbulnya ekslusifitas pada masyarakat yang multi kultural.&lt;br /&gt;Dua tokoh besar Filsafat Pendidikan Islam, Hassan Hanafi dan Nurcholis Madjid (Cak Nur) memberikan paradigma baru pendidikan Islam dalam menjawab tantangan kehidupan. Hassan Hanafi yang booming lewat proyek besarnya Al-turats wa tajdid (tradisi dan pembaharuan) menawarkan tiga agenda yang dapat menumbuhkan kembali semangat Islam, rekonstruksi tradisi lama, dialog dengan dunia barat, dan aksi dalam menghadapi realitas dan masyarakat kontemporer. Begitu juga dalam ruang lingkup yang lebih Indonesia, Nurcholis Madjid menawarkan pluralisme agama dan sekulerisasi. Pemikiran dua tokoh ini mempunyai pengaruh yang besar jika dikaitkan dengan wacana multikultural di Indonesia. Kita sendiri menyadari bahwa Indonesia terdiri dari keberagaman. Baik keberagaman suku, agama, ras, adat istiadat. Penyatuan formula Hassan hanafi dan Nurcholis madjid membuat suatu paradigma baru, wacana multikultral dalam aspek pluralisme.&lt;br /&gt;Seperti agenda Hassan Hanafi, kita juga harus melakukan rekonstruksi tradisi lama. Pengenalan terhadap Sang Pencipta tidak hanya dilakukan dengan memikirkan Tuhan. Tanpa dibela Tuhan telah kuat, yang perlu dipahami adalah Islam memang agama Wahyu, namun tidak hanya dipahami sebagai realitas wahyu, tetapi juga realitas sosial. Islam hendaknya diterjemahkan lagi pada tataran rasional-proaktif. Islam yang tidak dapat memberi solusi kepada persoalan kemanusiaan tidak akan punya masa depan yang cerah. Islam harus membuka diri terhadap pluralisme dalam dimensi horizontal sehingga cita-cita utama kemanusiaan dapat diwujudkan, seperti emansipasi manusia dalam bingkai akomodasi antara pemikiran, keilmuan dan nilai-nilai universal Islam dengan pemikiran dan keilmuan barat, tanpa tercerabut dari nilai ajaran agama. Kita hendaknya membongkar kembali tradisi lama menjadi tataran yang lebih praktis, seperti masalah-masalah etika, kemanusiaan, sosial politik dan budaya. Sehingga eksistensi Islam dalam kehidupan dan lingkup dunia yang serba modern lebih mampu menghadapi berbagai persoalan kontemporer saat ini dengan cara dialog dengan seluruh lapisan dunia, baik barat, timur, Kristen, Islam, dalam tataran horizontal (kemanusiaan). Inilah yang dimaksudkan Cak Nur sebagai bingkai pluralisme, bukan pemahaman sempit tentang pluralisme bahwa semua agama itu sama. Pendidikan Islam hendaknya progresif (menerima modernitas) barat tidak dilihat sebagai ancaman, tapi reinventing Islam untuk meluruskan modernitas barat, membuka peluang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara pemahaman Islam yang terbuka, toleran dan inklusif. &lt;br /&gt;Untuk dapat melakukan revolusi teologi ke tataran yang lebih praktis, perlu adanya penulusan-penulusan sejarah dari sejak zaman Rasulullah SAW, khalifah Ar-rasidin, para sahabat, masa keemasan, masa kemunduran, masa resainnance, sampai masa sekarang. Dengan demikian, maka aspek sosiologis dan psikologis dari masing-masing masa dapat ditemukan untuk membangun kembali menjadi formula yang lebih aktif. Umat beragama mesti meninggalkan model dan karakter pemikiran terhadap persoalan horizontal secara ekslusif menuju suatu pemikiran yang inklusif dan harmonis. Di era modern sebagaimana saat ini, dengan adanya membuka diri terhadap kultur yang dibangun oleh pemeluk lintas agama dan tetap mempertahankan substansi ajaran Islam, seseorang akan menjadi kritis baik dalam filsafat, membangun budaya, dan lain-lain. Pemahaman ini penting untuk membangun kebersamaan dan keharmonisan dalam dinamika kehidupan. Namun, kebebasan berfikir dan berkarya hendaknya dilakukan dengan tetap mengacu pada kaidah ajaran Islam. Modernitas (teknologi dan sebagainya), ilmu, tradisi, keyakinan bukanlah suatu hal yang dikotomis. Justru jika dikolaborasi sesuai dengan nilai-nilai Islam akan dapat ditemukan suatu formulasi pendidikan masa depan yang lebih bermakna. Melalui pendidikan yang integralistik dalam mencermati wacana multikultural dalam bingkai pluralisme, pendidikan Islam telah mampu menjadi subjek peradaban dan bukan menjadi objek yang sekedar “pembebek” perkembangan zaman. &lt;br /&gt;Konsep Islam nasionalis (Islam Al Watani) sangat tepat diterapkan di Indonesia. Islam nasionalis adalah Islam yang membela kepentingan nasional, memelihara persatuan dan kesatuan territorial dari ancaman disintegrasi dan sektarianisme. Konsep Islam nasionalis berbentuk solusi rasional problem umat Islam, seperti keadilan sosial, lintas etnik, toleransi beragama, membangun etos kerja yang baik, menolak penjarahan tanah, dan praktik kekerasan berdarah. Inilah Islam modern yang memberikan penafsiran baru terhadap teks-teks ajaran Islam hingga mampu menghadapi tantangan modernitas,  tanpa harus taklid pada barat dan juga ulama klasik Arab. Islam seperti inilah yang mendorong bangkitnya budaya nasional serta melestarikan identitas bangsa Indonesia. Islam yang dibutuhkan bukan Islam yang konservatif yang hanya terbuai dengan syiar-syiar agama dan bukan pula sekuler barat yang belum tentu cocok dengan budaya bangsa Indonesia. Yang dibutuhkan Islam dan Indonesia sesungguhnya sama, yaitu memelihara dua legitimasi dalam satu waktu, yakni territorial dan identitas budaya, serta nasionalisme dan khasanah warisan di satu sis dan legitimasi modernitas yang ditandai dengan keterbukaan, kebebasan, keadian, supremasi hukum di sisi lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-6308597696093211540?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/6308597696093211540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/01/signifikasi-pendekatan-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/6308597696093211540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/6308597696093211540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2010/01/signifikasi-pendekatan-pendidikan-islam.html' title='Signifikasi pendekatan Pendidikan Islam Hassan Hanafi dan Nurcholis Madjid dalam konteks global maupun nasional'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-7209446173027546745</id><published>2009-12-17T06:45:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T06:45:04.512-08:00</updated><title type='text'>Sekolah Bertaraf Internasional: Ancaman dan Peluang Terhadap Pendidikan</title><content type='html'>Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)&lt;br /&gt;Peluang dan Ancaman Terhadap Pendidikan di Bangka Belitung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan &lt;br /&gt;Sekolah Bertaraf Internasional atau disingkat dengan SBI, merupakan salah satu rencana pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan pendidikan Indonesia. Output dari Sekolah Bertaraf Internasional diharapkan mampu memiliki daya saing global di kancah internasional. Sekolah Bertaraf Internasional merupakan upaya para pelaku pendidikan mengejar ketertinggalan dari negara lain. Untuk mendapatkan tawaran pemerintah tersebut, satuan pendidikan harus berjibaku melakukan perubahan agar memenuhi persyaratan yang distandarkan. &lt;br /&gt;Tujuan SBI sebenarnya selaras dengan Tujuan Pendidikan yang tercantum dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang diindikasikan dengan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan memiliki daya saing pada taraf internasional. Selain itu, SBI dituangkan Pada Pasal 50 ayat 3 UU No. 20 Tahun 2003 dikatakan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Selanjutnya pada ayat 7 disebutkan, ketentuan mengenai pengelolaan pendidikan (sekolah bertaraf internasional/SBI) sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pada PP Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/kota disebutkan bahwa penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan pendidikan dan/atau program studi bertaraf internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan kewenangan pemerintah daerah provinsi. &lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, bahasan meliputi dimensi-dimensi pendidikan khususnya pengaruh Sekolah Bertaraf Internasional terhadap pendidikan di Bangka Belitung yang tentunya akan bersinggungan dengan faktor-faktor psikologis, sosiologis dan geografis pendidikan di Bangka Belitung. Seperti yang kita ketahui bahwa Bangka Belitung sebagai provinsi yang belum terlalu matang dalam hal pendidikan tentu akan terjadi kerancuan-kerancuan dalam pengaplikasian program Sekolah Bertaraf Internasional itu sendiri. Fenomena SBI sendiri saat telah mendapat banyak interpretasi yang beragam. Bahkan di beberapa media disebutkan bahwa Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dapat mereduksi identitas bangsa Indonesia, kesenjangan antara si kaya dan si miskin, neo liberalisme, komersialisasi pendidikan dan masih banyak lagi interpretasi yang bernada miring lainnya. Penulis tergerak untuk mengungkapkan beberapa pertanyaan yang mungkin juga ada di pikiran kita semua. Apakah Sekolah Bertaraf Internasional merupakan ancaman terhadap pendidikan di Bangka Belitung seperti yang diberitakan di media nasional? Bagaimana peluangnya terhadap pendidikan di Bangka Belitung? Bagaimana kita menyikapi fenomena ini?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SBI: Peluang dan Ancaman&lt;br /&gt;Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah yang memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan (SNP) serta mempunyai keunggulan yang merujuk pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga lulusannya memiliki daya saing di forum internasional.&lt;br /&gt;Ada beberapa tingkat yang harus dilalui oleh satuan pendidikan agar sampai pada level SBI. Sekolah potensial adalah kategori sekolah yang belum memenuhi SNP (Standar Nasional Pendidikan). Lalu, ada SSN (Sekolah Standar Nasional) yang berarti penyelenggaraan pendidikan di sekolah itu sudah memenuhi SNP. Setelah itu, baru SBI. Di tingkatan SBI pun, satuan pendidikan harus diverifikasi untuk mendapatkan pengesahan sebagai sekolah persiapan RSBI, RSBI, baru SBI. Tersedianya input berupa visi-misi sekolah, kurikulum, pendidik, peserta didik, sarana-prasarana, dana, regulasi, organisasi, peran serta masyarakat, dan budaya sekolah belumlah cukup. Satuan pendidikan harus melakukan inovasi agar tersedia mutu input yang sesuai dengan standar internasional. &lt;br /&gt;Secara umum SBI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pencapaian tujuan pendidikan yang ditandai dengan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan memiliki daya saing pada taraf internasional. Secara khusus SBI akan mengembangkan sekolah yang dapat menghasilkan kompetensi lulusan yang berdaya saing pada tingkat internasional dengan kemampuan yang baik. Program SBI memiliki beberapa tujuan diantaranya berwawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi yang ada, meningkatkan daya saing global. Karakteristik SBI diantaranya adalah:&lt;br /&gt;1. Menerapkan KTSP yang dikembangkan dari standart isi, standart kompetensi kelulusan dan kompetensi dasar yang diperkaya dengan muatan Internasional.&lt;br /&gt;2. Menerapkan proses pembelajaran dalam Bahasa Inggris, minimal untuk mata pelajaran MIPA dan Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;3. Mengadopsi buku teks yang dipakai SBI (negara maju).&lt;br /&gt;4. Menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang ada di dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).&lt;br /&gt;5. Pendidik dan tenaga kependidikan memenuhi standart kompetensi yang ditentukan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).&lt;br /&gt;6. Sarana/prasarana memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP).&lt;br /&gt;7. Penilaian memenuhi standar nasional dan Internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Bertaraf Internasional dapat dipandang sebagai ancaman dan peluang. Dalam bagian ini penulis mencoba menemukan ancaman dan peluang sebagai dampak dari realisasi Sekolah Bertaraf Internasional khususnya terhadap pendidikan di Bangka Belitung. Kita tidak bisa memandang fenomena ini dari satu dimensi saja, baik ancaman maupun peluang. Objektifitas dalam mengupas masalah ini sangat diperlukan dan SBI hendaknya dikaji secara holistik yang meliputi berbagai dimensi. Kata ancaman dan peluang secara literalis merupakan dua kata yang saling berlawanan. Namun dilihat dari sudut pandang fenomena SBI secara kontekstual merupakan dua hal yang saling melengkapi dan mampu menciptakan keseimbangan dalam impelementasi program SBI mencapai tujuan yang diinginkan.  &lt;br /&gt;Telah dipaparkan di atas mengenai apa itu SBI, dari segi kemanfaatannya yang konkret jelas SBI merupakan suatu peluang bagi pendidikan di Bangka Belitung. Hal ini dapat dilihat dari minimnya sekolah-sekolah di Bangka Belitung yang mampu bersaing secara global. Selama ini, untuk menempuh pendidikan yang lebih anak daerah Bangka Belitung harus bersekolah di sekolah favorit di luar daerah di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan kota besar lainnya. Dan memang pada kenyataannya hanya sekolah-sekolah favorit tersebut yang menyediakan pendidikan yang bermutu secara global. Otomatis kesempatan ini hanya dapat dinikmati oleh anak berbakat dan orang kaya. Dengan adanya implementasi SBI di Bangka Belitung, maka pemerataan pendidikan berkualitas dapat dirasakan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini membuka peluang bagi pendidikan di Bangka Belitung untuk berprestasi dan mempunyai kualitas yang sama dengan daerah-daerah lainnya. Pemerataan kualitas ini tentunya juga akan mendukung kualitas pendidikan di Indonesia secara umum. Dengan adanya SBI di setiap kabupaten/kota di Bangka Belitung maka dapat jadi suatu patokan standar bagi sekolah-sekolah di sekitarnya yang dapat dijadikan motivasi dan model untuk melakukan pengembangan-pengembangan yang lebih inovatif. &lt;br /&gt;Hal ini juga tentunya akan berpengaruh kepada para pendidik yang dapat juga dijadikan motivasi untuk meng-upgrade kemampuan mereka. Sebagaimana kita ketahui di Bangka Belitung hanya beberapa persen yang lulus sertifikasi guru, apalagi standar internasional. Dari segi geografis, SBI sangat mungkin diterapkan di Bangka Belitung mengingat masih banyaknya lahan yang dapat dijadikan untuk lokasi SBI, namun dari segi sarana, guru, dan kurikulum masih harus ditingkatkan dan dilakukan upaya secara intens yang dikelola secara professional. Output dari sekolah ini tentunya dapat meningkatkan harkat dan martabat Bangka Belitung di kancah internasional. Apalagi saat ini Pemprov Bangka Belitung berusaha go internasional dari bidang pariwisata dengan program Babel Archi. Para lulusan SBI tentunya mempunyai kompetensi yang mampu bersaing secara global yang akan turut mengharumkan dan mengenalkan nama Bangka Belitung.&lt;br /&gt;SBI memang dikonsepsikan sebagai sekolah unggul, yang diharapkan dapat menjadi faktor penggerak peningkatan kualitas pendidikan di Bangka Belitung yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing daerah. Hal ini dimaksudkan agar terjadi multiplier effect pada pemerataan pendidikan berkualitas, guna menghindarkan konsentrasi sekolah-sekolah bermutu hanya di kota-kota besar atau di Pulau Jawa saja. Penyelenggaraan SBI di Bangka Belitung juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan global akan kebutuhan knowledge dan skills yang memadai dari lulusan setiap satuan pendidikan dan jenjang pendidikan di Bangka Belitung untuk dapat bersaing secara global. Para peserta didik dalam menjawab tantangan ke depan memang memerlukan pengetahuan yang lebih banyak dan keterampilan yang lebih tinggi agar dapat survive dan mampu bersaing, dibandingkan dengan generasi sebelumnya (need to gain more knowledge and master more skills than any generation before), diantaranya: basic skills (science, math, reading), technology skills, communication skills, problem solving skills, information/digital literacy, multicultural/Multilanguage literacy, creative and critical thinking skills, inquiry/reasoning skills, and interpersonal skills. Para siswa SBI juga akan lebih dalam diberikan pengembangan kepribadian yang universal dan rasa nasionalisme yang tinggi, yaitu akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa wirausaha, jiwa patriot dan nasionalisme, dan jiwa inovator. &lt;br /&gt;Namun bila program SBI tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya dan ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan seseorang atau kelompok, maka SBI tentu akan menjadi suatu ancaman terhadap pendidikan di Bangka Belitung. Dimensi internasional dalam pendidikan dapat dijadikan celah oleh pihak asing dalam melakukan visi dan misinya. Sebagaimana kolonialisme, imperialisme, sosialisme, eksistensialisme, dan masih banyak lagi paham lainnya, dimensi ke-internasional-an memaksa kita secara tidak sadar untuk membuka peluang terhadap orang asing (barat yang dianggap sebagai pusat modernisasi). Bukti nyata bahwa selama ini segala macam kemajuan teknologi berpusat di barat. Setiap kemajuan di indikasikan ke dunia barat. Program SBI yang diusung pemerintah memanfaatkan teknologi sebagai sarana utama, baik media belajar, maupun sistem manajemen sekolah. Sedangkan saat ini kemajuan teknologi adalah kemajuan barat, kemajuan barat adalah modern, begitu yang terjadi saat ini. Dengan adanya pola sentrisme ini, maka akan menjadi celah atau pintu gerbang tol bagi dunia asing untuk melakukan invasi dan melancarkan visi dan misinya yang kadang-kadang sangat bertentangan dengan budaya bangsa kita. Bila kita terus-menerus menjadi follower tanpa adanya niat untuk melakukan inovasi seperti yang dilakukan di negara asing, maka siap-siap saja Bangka Belitung akan diatur secara tidak langsung oleh pihak asing yang memakai kedok pemerintah daerah kita sebagai pelaksana. Bila hal itu terjadi maka sebenarnya kita kembali ke masa penjajahan. Bahkan lebih parah lagi karena kita tidak sadar kita terjajah. Dalam tataran ekstrimnya, seolah-olah kita melambaikan bendera yang bertuliskan “silakan anda datang ke Bangka Belitung dan keruk sumber daya kami”. Hal ini dapat terjadi apabila SBI yang sarat dengan kemajuan dan kolaborasi dengan negara maju namun sumber daya manusia di Bangka Belitung belum siap untuk menerima hal ini. Sehingga yang akan muncul bukan SBI namun sekolah model Amerika, model Jepang, model Inggris, dan ikon dari negara maju lainnya yang tentu saja akan mereduksi kultur kita sebagai bangsa Indonesia. Karena internasional bukan diinterpretasikan secara universal namun secara partikuler yang merujuk ke negara-negara maju tersebut.&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menyikapi SBI sebagai peluang sekaligus ancaman bagi pendidikan di Bangka Belitung. Pertama, Sosialisasi yang utuh tentang konsep penyelenggaraan SBI dan berkesinambungan. Sosialisasi ini mengacu kepada restrukturisasi program SBI. Karena selama ini telah banyak terjadi miss baik informasi maupun pemahaman.&lt;br /&gt;Kedua, adalah pembentukan kembali figur SBI (refigurisasi). Hal ini dimaksudkan agar sekolah memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugasnya, dinamis, proaktif, akomodatif, koordinatif dan mempunyai keinginan dan usaha yang kuat. Innovator yang benar-benar cerdas sangat diperlukan dalam melakukan refigurisasi ini. Pemantapan bahasa, inovasi-inovasi pembelajaran dan kurikulum perlu dilakukan juga. Selain itu perlunya pelatihan professional mengenai ICT (Information and Commnunication Technology) mengingat bidang ini mempunyai dukungan penuh terhadap program SBI. &lt;br /&gt;Ketiga, rekulturisasi. Membangun kembali budaya sekolah yang sarat dengan inovasi, budaya disiplin, mandiri, kreatif, mutu, prestasi, dan berakhlakul karimah serta tidak meninggalkan rasa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia menjadi karakteristik sekolah Indonesia yang mutunya bertaraf internasional. Pemantauan dari pemerintah dan stakeholders yang terkait perlu dilakukan. Harus ada regulasi yang ketat dari pemerintah agar invansi dari pihak luar yang dibawa oleh para pengajar asing. Sehingga tidak membunuh karakter nasional kita dalam persaingan internasional. Sehingga manusia multidimensional seperti yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional dapat benar-benar tercapai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Pada hakikatnya visi Sekolah Bertaraf Internasional mempunyai tujuan yang cemerlang bagi pendidikan di Bangka Belitung. Berbagai manfaat dapat dirasakan jika program SBI ini dapat diimplementasikan dengan baik serta dapat perhatian dan dukungan dari segala stakeholders baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi Bangka Belitung, pemerintah daerah, pihak sekolah dan seluruh warga Bangka Belitung. Sekolah Bertaraf Internasional adalah sekolah nasional yang dikembangkan segala potensinya yang mempunyai daya saing internasional, bukan sekolah model negara maju sehingga indentik dengan sekolah Amerika, sekolah Inggris, sekolah Jerman dan model-model sekolah negera maju lainnya. Dengan demikian, maka SBI adalah sekolah nasional Indonesia yang mempunyai level internasional. SBI akan menjadi ancaman bagi Bangka Belitung jika dimensi internasional direferensikan dengan suatu negara maju. Internasional adalah mampu bersaing dan bersama-sama dengan segala bangsa di dunia untuk membangun masyarakat dunia melalui pendidikan yang salah satunya diwujudkan dengan program SBI. Akhir kata, Semoga pendidikan Bangka Belitung semakin maju dan berkualitas. Hal ini merupakan tugas kita semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-7209446173027546745?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/7209446173027546745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/12/sekolah-bertaraf-internasional-ancaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/7209446173027546745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/7209446173027546745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/12/sekolah-bertaraf-internasional-ancaman.html' title='Sekolah Bertaraf Internasional: Ancaman dan Peluang Terhadap Pendidikan'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-435039860580865095</id><published>2009-11-05T01:20:00.001-08:00</published><updated>2009-11-05T01:20:42.549-08:00</updated><title type='text'>KEGIATAN PENDUKUNG BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Dalam kegiatan bimbingan dan konseling khususnya di sekolah, kegiatan pendukung mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam pencapaian tujuan bimbingan dan konseling itu sendiri. Kegiatan pendukung mempunyai urgensi tersendiri dalam lapangan bimbingan dan konseling. Dimana kegiatan pendukung ini menopang aspek-aspek lainnya seperti, layanan-layanan bimbingan dan konseling yang telah mempunyai peranan tersendiri. Kegiatan pendukung pada umumnya tidak selalu ditujukan secara langsung untuk memecahkan atau mengentaskan masalah klien, namun dari kegiatan ini diharapkan diperolehnya data dan keterangan lain serta kelancaran dan keberhasilan kegiatan layanan terhadap klien (peserta didik). Kegiatan pendukung ini secara general dilaksanakan tanpa adanya kontak langsung (direct contact) dengan sasaran layanan di sekolah.&lt;br /&gt;Ruang lingkup kegiatan pendukung ini diantaranya adalah: aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus. Selain kegiatan pendukung tersebut, perlu adannya pendekatan dan teknik bimbingan dan konseling yang mempunyai fungsi tersendiri dalam pencapaian tujuan dari kegiatan bimbingan dan konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Apa saja kegiatan pendukung bimbingan dan konseling di sekolah?&lt;br /&gt;2. Apa pendekatan dan teknik bimbingan dan konseling?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KEGIATAN PENDUKUNG BIMBINGAN DAN KONSELING&lt;br /&gt;A. Aplikasi Instrumentasi&lt;br /&gt;Aplikasi instrumentasi merupakan kegiatan pendukung layanan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang klien, keterangan tentang lingkungan yang lebih luas, pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrumen baik dengan tes maupun non tes .&lt;br /&gt;Aplikasi instrumentasi dilakukan untuk memperoleh data tentang kondisi tertentu atas diri klien (dalam hal ini peserta didik) yang dilakukan baik secara individual maupun kelompok. Kegiatan ini dilakukan agar konselor mempunyai pemahaman yang baik tentang diri klien sehingga akan mempermudah untuk melakukan tindakan selanjutnya (follow up) terhadap apa yang menjadi sasaran dan tujuan bimbingan dan konseling tersebut.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal ini, Tohirin menyebutkan bahwa ada dua komponen dalam aplikasi instrumentasi, yaitu materi instrumen dan bentuk instrumen. Materi instrumen seperti : kondisi fisik klien (jasmani dan kesehatan), kondisi dasar psikologis (bakat, minat, potensi dasar, dan sikap), kondisi dinamik fungsional psikologis, kondisi hubungan sosial, kondisi atau kegiatan dan hasil belajar, kondisi keluarga dan lingkungan, kondisi arah pengembangan karier, serta permasalahan potensial yang dialami siswa. Bentuk instrumen meliputi, tes dan non-tes .&lt;br /&gt;Pada umumnya materi aplikasi instrumentasi ini meliputi:&lt;br /&gt;1. Kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;2. Kondisi mental dan fisik siswa, pengenalan terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;3. kemampuan pengenalan lingkungan dan hubungan sosial.&lt;br /&gt;4. Tujuan, sikap dan kebiasaan, keterampilan, dan kemampuan belajar.&lt;br /&gt;5. Informasi karier dan pendidikan.&lt;br /&gt;6. Kondisi keluarga dan lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Himpunan Data&lt;br /&gt;Himpunan data merupakan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik.  &lt;br /&gt;Himpunan data merupakan tindak lanjut dari aplikasi instrumentasi. Data yang dihimpun melalui kegiatan ini kemudian diklasifikasi secara sistematik, analisis, dan dilakukan interpretasi terhadap data tersebut sehingga menjadi bermakna. Data yang dihimpun dapat berupa data pribadi, data kelompok, data umum yang dikemas dalam berbagai himpunan seperti tulisan, angka, rekaman audio, video, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Konferensi Kasus&lt;br /&gt;Kasus dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi yang mengandung permasalahan tertentu. Dalam Tohirin (2007:236), konferensi kasus merupakan forum terbatas yang dilakukan oleh konselor guna membahas suatu permasalahan dan arah pemecahannya (problem solving). Dengan adanya kegiatan pendukung konferensi kasus ini, diharapkan adanya bahan atau keterangan, keputusan-keputusan (judgement) yang dapat membantu mengentaskan masalah yang dialami klien (dalam hal ini peserta didik). Konferensi kasus dapat dihadiri oleh orang lain selain konselor dan klien yang yang mempunyai signifikasi terhadap masalah yang dialami klien. Konferensi kasus diadakan untuk memperoleh data yang lebih akurat dari kegiatan himpunan data. Dengan adanya peserta lain dalam mengatasi masalah klien, diharapkan kerjasama yang baik antara peserta sehingga ditemukan ide-ide dan pemecahan yang lebih cerdas bagi kepentingan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kunjungan Rumah&lt;br /&gt;Kunjungan rumah bisa bermakna upaya mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan individu atau siswa yang menjadi tanggung jawab konselor dalam pelayanan bimbingan dan konseling.  &lt;br /&gt;Dalam kegiatan ini, ada beberapa keterangan yang berhubungan dengan siswa dapat dihimpun:&lt;br /&gt;1. Kondisi rumah tangga dan orang tua&lt;br /&gt;2. Fasilitas belajar yang ada di rumah&lt;br /&gt;3. Hubungan antar-anggota keluarga&lt;br /&gt;4. Sikap dan kebiasaan anak di rumah&lt;br /&gt;5. Berbagai asumsi dan opini orang tua dan anggota keluarga lainnya terhadap anak&lt;br /&gt;6. Komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan anak dan pengentasan masalah anak &lt;br /&gt;Kunjungan rumah dapat mempererat hubungan antara konselor dan pihak orang tua serta klien, sehingga terjadi suatu hubungan yang dinamis dan harmonis. Hal ini akan sangat berpengaruh dan membantu dalam pengentasan masalah yang dialami peserta didik. Selain itu, konselor dapat memberikan saran kepada pihak orang tua dalam upaya memecahkan masalah yang dialami peserta didik. Dengan demikian, maka tercipta suatu keadaan yang kondusif untuk pengembangan potensi peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Alih Tangan Kasus&lt;br /&gt;Alih tangan kasus adalah kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. &lt;br /&gt;Dalam kasus-kasus tertentu, misalnya peserta didik mengalami gangguan kejiwaan, maka perlunya penanganan dari pihak psikiater. Hal inilah yang melandasi kegiatan alih tangan kasus. Bahwa seorang konselor harus menggunakan prinsip follow up reference, dimana kasus-kasus yang tidak teratasi atau harus ditangani oleh pihak lain yang memiliki kompetensi di bidang tertentu. Konselor hendaknya menyerahkan masalah atau kasus kepada orang yang berkompetensi atau berprofesi di bidang yang tepat. Pihak terkait ini dapat berupa seorang psikiater, dokter, ahli agama dan lain-lain sesuai dengan masalah yang dialami peserta didik. Dengan kata lain, seorang konselor dituntut bijaksana dalam suatu masalah. Artinya, permasalahan yang tidak teratasi atau perlu ditangani oleh ahli hendaknya memindahkan penanganan kasus kepada pihak-pihak lain dalam upaya pengentasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PENDEKATAN DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING&lt;br /&gt;1. Pendekatan Bimbingan dan Konseling&lt;br /&gt;Kegiatan bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas – tugas profesionalnya, seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan sehingga kegiatan dapat berjalan dengan efektif. Adapun pendekatan bimbingan dan konseling menurut Dr. DYP Sugiharto, M.Pd adalah sebagai berikut: pendekatan behaviorisme, gestalt, psikoanaliss, rational emotive therapy (RET), dan trait and factor . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pendekatan Behaviorisme&lt;br /&gt;Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/ dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Karakteristik pendekatan ini adalah : Berfokus pada tingkah laku yang tampak, Cermat dan operasional dalam merumuskan tujuan konseling, Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik, Penilaian obyektif terhadap tujuan konseling. Tujuan bimbingan dan konseling menurut pendekatan behaviorisme ini adalah Menghapus/ menghilangkan tingkah laku mal-adaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Prinsip kerja teknik bimbingan dan konseling behavioral dapat dilakukan dengan memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien, mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan, memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung), merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Pendekatan ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya: Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulatif, dan mengabaikan hubungan antar pribadi, Lebih terkonsentrasi kepada teknik, Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor, Konstruksi belajar yang dikembangkan dan digunakan oleh konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis yang harus diuji, Perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk tingkah laku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pendekatan Gestalt&lt;br /&gt;Konsep dasar pendekatan ini yaitu: Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan, Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut, Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. &lt;br /&gt;Tujuan pendekatan ini antara lain: Klien dapat berubah dari ketergantungan terhadap  lingkungan/ orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya, Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight secara penuh, Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya, Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself),   meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat bertingkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. &lt;br /&gt;Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal terdiri dari: Penekanan Tanggung Jawab Klien, konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. Orientasi Sekarang  dan Di Sini, konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan sekarang, masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Orientasi Eksperiensial, konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya, sehingga klien mampu mengintegrasikan kembali dirinya. &lt;br /&gt;Keterbatasan dari pendekatan ini adalah pendekatan gestalt cenderung kurang memperhatikan faktor kognitif, Pendekatan gestalt menekankan tanggung jawab atas diri sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab pada orang lain, menjadi tidak produktif bila penggunaan teknik-teknik gestalt dikembangkan secara mekanis, Dapat terjadi klien sering bereaksi negatif terhadap sejumlah teknik gestalt karena merasa dirinya dianggap anak kecil atau orang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pendekatan Psikoanalisis&lt;br /&gt;Konsep dasar pendekatan ini adalah: Manusia cenderung pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik, manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatn irasional, motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah oleh peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi pada masa lalu dari kehidupannya. Tingkah laku manusia: (1) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan insting-instingnya, (2) dikendalikan oleh pengalaman-pengalaman masa lampau dan ditentukan oleh faktor-faltor interpersonal dan intrapsikis.   &lt;br /&gt;Tujuan bimbingan dan konseling menurut pendekatan ini adalah membantu klien untuk membentuk kembali struktur karakternya dengan mejadikan hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari oleh klien. Secara spesifik:  membawa klien dari dorongan-dorongan yang ditekan, (ketidaksadaran) yang mengakibatkan kecemasan kearah perkembangan kesadaran intelektual, menghidupkan  kembali  masa  lalu klien dengan menembus konflik yang direpres, memberikan kesempatan kepada klien untuk menghadapi situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya. Teknik-teknik konseling psikoanalisis diarahkan untuk mengembangkan suasana bebas tekanan.&lt;br /&gt;Keterbatasan pendekatan ini adalah Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan, terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang, Cenderung meminimalkan rasionalitas, Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dan konsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yang menentukan tingkah laku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pendekatan Rasional-Emotif&lt;br /&gt;Konsep dasar pendekatan ini adalah Manusia pada dasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irrasional. Ketika berpikir dan bertingkah-laku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkah-laku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang  disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi, baik yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irrasional. Berpikir irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatief serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.&lt;br /&gt;Albert Ellis menerapkan teori ABC (Antecedent Event, Belief, Concequence). Antecedent Event. Segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu, peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain seperti perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, seleksi masuk bagi calon karyawan.  Belief, Keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi individu thp suatu peristiwa. Concequence, Konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang dalam hubungannya dengan antecendent event.&lt;br /&gt;Tujuan dari pendekatan ini adalah Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irrasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis, menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pendekatan Trait and Factor&lt;br /&gt;Konsep dasar dalam pendekatan ini adalah manusia merupakan sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Perkembangan kemajuan individu mulai dari masa bayi sampai dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Telah banyak dilakukan usaha untuk menyusun kategori individu atas dasar dimensi sifat dan faktor. Manusia berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik atau buruk, makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta menolak kejahatan, menjadi manusia seutuhnya tergantung pada hubungannya dengan orang lain.&lt;br /&gt;Tujuan bimbingan dan konseling berdasarkan pendekatan ini adalah Membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia, membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelamahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir, membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian. &lt;br /&gt;Keterbatasan pendekatan ini adalah Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa-siswa yang memiliki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri, pandangannya terlalu menekankan kepada pengendalian konselor dan hasil yang dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi klien, Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa-siswa yang memiliki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri, pandangannya terlalu menekankan kepada pengendalian konselor dan hasil yang dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling&lt;br /&gt;a. Teknik Memahami individu melalui Tes dan Non Tes&lt;br /&gt;Tes dan non tes merupakan bentuk dari alat evaluasi. Insrument evaluasi ini hendaknya mempunyai kriteria sebagai berikut: validitas, reliabilitas, objektifitas, prraktikabilitas. Dalam kegiatan bimbingan dan konseling, tes dapat berupa tes hasil belajar, tes kemampuan khusus, tes minat, tes perkembangan vokasional, dan tes kepribadian. Bentuk non tes dapat berupa angket tertulis, wawancara, observasi, otobiografi, anektotal record (laporan singkat tentang berbagai kejadian atau prilaku siswa), skala penilaian, dan sosiometri (alat untuk mengumpulkan data tentang hubungan sosial dan tingkah laku sosial siswa).&lt;br /&gt;b. Teknik Membantu individu&lt;br /&gt;Sofyan S. Wilis (2004) menuliskan ada beberapa teknik yang dapat dilakukan diantaranya:&lt;br /&gt;A. Perilaku Attending&lt;br /&gt;Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat :&lt;br /&gt;1. Meningkatkan harga diri klien.&lt;br /&gt;2. Menciptakan suasana yang aman&lt;br /&gt;3. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. &lt;br /&gt;Contoh perilaku attending yang baik :&lt;br /&gt;Kepala : melakukan anggukan jika setuju&lt;br /&gt;Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum&lt;br /&gt;Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.&lt;br /&gt;Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan.&lt;br /&gt;Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.&lt;br /&gt;Contoh perilaku attending yang tidak baik :&lt;br /&gt;Kepala : kaku&lt;br /&gt;Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot.&lt;br /&gt;Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling.&lt;br /&gt;Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.&lt;br /&gt;Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Empati&lt;br /&gt;Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati.&lt;br /&gt;Terdapat dua macam empati, yaitu :&lt;br /&gt;Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” Saya mengerti keinginan Anda”.&lt;br /&gt;Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Refleksi&lt;br /&gt;Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu :&lt;br /&gt;Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ….”&lt;br /&gt;Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…”&lt;br /&gt;Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Eksplorasi&lt;br /&gt;Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu :&lt;br /&gt;Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….”&lt;br /&gt;Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”.&lt;br /&gt;Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Menangkap Pesan (Paraphrasing)&lt;br /&gt;Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor.&lt;br /&gt;Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien; (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan ; (3) memberi arah wawancara konseling; dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. &lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik, akan tetapi saya tidak mengambilnya. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ”&lt;br /&gt;Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Pertanyaan Terbuka (Opened Question)&lt;br /&gt;Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.&lt;br /&gt;Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Pertanyaan Tertutup (Closed Question)&lt;br /&gt;Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi; (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu; dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.&lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.&lt;br /&gt;Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.&lt;br /&gt;Klien : ” Empat ”&lt;br /&gt;Konselor: ” Sekarang berapa ? ”&lt;br /&gt;Klien : ” Sebelas ” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Dorongan minimal (Minimal Encouragement)&lt;br /&gt;Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…, ya…., lalu…, terus….dan…&lt;br /&gt;Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. &lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan)&lt;br /&gt;Konselor: ” ya…”&lt;br /&gt;Klien : ” nekad bunuh diri”&lt;br /&gt;Konselor: ” lalu…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Interpretasi&lt;br /&gt;Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.&lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga, karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.”&lt;br /&gt;Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Karena tantangan masa depan makin banyak, maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Membantu orang tua memang harus, namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Mengarahkan (Directing)&lt;br /&gt;Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.&lt;br /&gt;Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Saya tak dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.”&lt;br /&gt;Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya, bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K. Menyimpulkan Sementara (Summarizing)&lt;br /&gt;Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan; (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap; (3) meningkatkan kualitas diskusi; (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan, kita sudah sampai pada dua hal: pertama, tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas; kedua, namun masih ada hambatan yang akan hadapi, yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi, dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Memimpin (leading)&lt;br /&gt;Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling .&lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Tapi bagaimana ya?”&lt;br /&gt;Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Fokus&lt;br /&gt;Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Pada umumnya dalam wawancara konseling, klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Misalnya dengan mengatakan :&lt;br /&gt;” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”.&lt;br /&gt;Ada beberapa yang dapat dilakukan, diantaranya :&lt;br /&gt;Fokus pada diri klien. Contoh : ” Tanti, Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”.&lt;br /&gt;Fokus pada orang lain. Contoh : ” Roni, telah membuat kamu menderita, Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?”&lt;br /&gt;Fokus pada topik. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”.&lt;br /&gt;Fokus mengenai budaya. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Konfrontasi&lt;br /&gt;Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan, ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan, dan sebagainya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur; (2) meningkatkan potensi klien; (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi; konflik, atau kontradiksi dalam dirinya.&lt;br /&gt;Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati, yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat; (2) tidak menilai apalagi menyalahkan; (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati.&lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien : ” Saya baik-baik saja”.(suara rendah, wajah murung, posisi tubuh gelisah).”&lt;br /&gt;Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Menjernihkan (Clarifying)&lt;br /&gt;Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas dan agak meragukan. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas, dan dengan alasan-alasan yang logis, (2) agar klien menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.&lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.”&lt;br /&gt;Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah, ibu, atau saudara-saudara Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Memudahkan (facilitating)&lt;br /&gt;Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Contoh :&lt;br /&gt;” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Diam&lt;br /&gt;Teknik diam dilakukan dengan cara attending, paling lama 5 – 10 detik, komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir; (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit; (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.&lt;br /&gt;Contoh dialog :&lt;br /&gt;Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu”&lt;br /&gt;Konselor :”…………..” (diam)&lt;br /&gt;Klien :” Saya..harus bagaimana.., Saya.. tidak tahu..&lt;br /&gt;Konselor :”…………..” (diam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Mengambil Inisiatif&lt;br /&gt;Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang parisipatif. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat; (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan; (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;” Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan kembali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Memberi Nasehat&lt;br /&gt;Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai.&lt;br /&gt;Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab, dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Pemberian informasi&lt;br /&gt;Sama halnya dengan nasehat, jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pun konselor mengetahuinya, sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia, saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.upi.com di internet”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Merencanakan&lt;br /&gt;Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action), perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;” Nah, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Menyimpulkan&lt;br /&gt;Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini, terutama mengenai kecemasan; (2) memantapkan rencana klien; (3) pemahaman baru klien; dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya, jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta&lt;br /&gt;H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.&lt;br /&gt;Prayitno. (2001). Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.&lt;br /&gt;Tohirin. (2007). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;www.konselingindonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-435039860580865095?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.konseling-indonesia.com' title='KEGIATAN PENDUKUNG BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/435039860580865095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/11/kegiatan-pendukung-bimbingan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/435039860580865095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/435039860580865095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/11/kegiatan-pendukung-bimbingan-dan.html' title='KEGIATAN PENDUKUNG BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-7428374201314475229</id><published>2009-10-17T06:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T06:15:02.090-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt;Pendidikan Islam, khususnya di Indonesia mempunyai peranan penting dalam sejarah perjalanan pendidikan.di Indonesia secara global. Untuk itu, perlunya kita mengetahui informasi dan sejarah mengenai hal ini secara komprehensif. &lt;br /&gt;Fase demi fase dalam perjalanan pendidikan Islam di Indonesia tentunya telah membawa kita pada perkembangan pendidikan pada saat ini. Sejarah pendidikan di Indonesia secara garis besar akan memberikan tiga point penting bagi masyarakat Indonesia. Pertama, kita dapat mengetahui dan memahami fakta-fakta pertumbuhan dan perkembangan sejarah pendidikan Islam. Kedua, dapat melakukan studi komparatif terhadap manfaat dari proses pendidikan yang dapat dijadikan acuan-acuan dalam pemecahan problematika pendidikan Islam pada saat ini. Ketiga, dapat menumbuhkan sikap positif terhadap inovasi-inovasi di dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia. &lt;br /&gt;Dari pemaparan di atas, sejarah mengandung kekuatan-kekuatan yang dapat menimbulkan semangat dan dinamisme serta lahirnya nilai-nilai baru dalam perkembangan kehidupan manusia. Hal ini sangat beralasan mengingat pendidikan Islam sendiri berpedoman pada Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat teladan, semangat, serta perbaikan keadaan. &lt;br /&gt;Mengingat luasnya pembahasan masalah sejarah pendidikan Islam di Indonesia ini, maka makalah ini kami batasi dengan cara periodisasi secara singkat dengan tetap diarahkan kepada ide-ide, konsep-konsep, institusi dan operasionalisasi pendidikan Islam di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rumusan Masalah&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia?&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimana perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam di Indonesia?&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Proses Masuknya Islam di Indonesia&lt;br /&gt;Ada tiga teori mengenai masuknya Islam di Indonesia yaitu teori Gujarat, teori Persia, dan teori Mekah (Rukiati, dkk, 2006:23).&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Teori Gujarat &lt;br /&gt;Teori ini dicetus oleh Snouck Hurgronje, dalam bukunya L’Arabiee et les Indes Neederlandaises ia menyebutkan bahwa bangsa Arab kurang berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia, hubungan Indonesia-India telah lama terjalin dan inskripsi tertua tentang Islam terdapat di Sumatera dengan Gujarat. &lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Teori Persia&lt;br /&gt;Di Indonesia teori ini dikembangkan oleh P.A. Hoesein Djajadiningrat yang lebih menekankan pada aspek kebudayaan yang hamper sama dengan Persia seperti peringatan 10 Muharram sebagai hari peringatan Syiah atas kematian syahidnya Husain, adanya kesamaan ajaran Syaikh Siti Jenar dengan ajaran sufi Iran Al-Hallaj, dan lain-lain (Rukiati, 2006:26).&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Teori Mekah &lt;br /&gt;Hamka menyatakan dalam Seminar Sejarah Masuknya Agama Islam ke Indonesia, di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 bahwa Islam masuk pada abad ke-7 Masehi (Rukiati, 2006:24). Analisis Hamka terhadap Mahzab Syafi’I yang berpengaruh besar di Indonesia, peninggalan mata uang Arab yang tersebar di kota-kota Eropa, Afrika, Asia. Analisis lainnya bahwa pada abad ke-7 M terdapat perkampungan Arab di pantai barat Sumatera. &lt;br /&gt;Hal ini juga sejalan engan Ketetapan Majelis Musyawarah yang ditujukan kepada Ketua Seminar Masuknya Islam di Indonesia bahwa yang pertama memasukkan islam ke Indonesia adalah para syarif Alawiyin dari Hadramaut yang bermahzab Syafi’I (Al-Aydrus, 1996:55).&lt;br /&gt;Teori yang ketiga ini merupakan teori yang mempunyai bukti-bukti yang kuat, hal ini akan sejalan apabila masuknya islam di Indonesia dibenturkan dengan sejarah nasab para Syarif Alawiyin ini, diantaranya kitab Al-Jawahir As-Saniyyah fi Nasabah Al-Itrah Al Huseiniyyah oleh Abul HAsan Ali bin Abu Bakar bin Syeikh As-Saqqof dan kitab Al-Masyra ‘Al-Rawi yang di dalamnya disebutkan nama-nama ulama Syarif Alawiyin Hadramaut yang masuk ke Indonesia (Al-Aydrus, 1996:58).&lt;br /&gt;Hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa dearah Indonesia yang mula-mula di masuki Islam ialah daerah Aceh.(Taufik Abdullah, 1983: 4). Berdasarkan kesimpulan seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan pada tanggal 17 – 20 Maret 1963, yaitu: &lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, dan langsung dari Arab.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Daerah yang pertama kali didatangi oleh Islam adalah pesisir Sumatera, adapun kerajaan Islam yang pertama adalah di Pasai.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam Indonesia ikut aktif mengambil peranan dan proses penyiaran Islam dilakukan secara damai. &lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keterangan Islam di Indonesia, ikut mencerdaskan rakyat dan membawa peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.(Taufik Abdullah, 1983: 5)&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masuknya Islam ke Indonesia ada yang mengatakan dari India, dari Persia, atau dari Arab. (Musrifah, 2005: 10-11). Dan jalur yang digunakan adalah: &lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran &lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dakwah, yang dilakukan oleh mubaligh yang berdatangan bersama para pedagang, para mubaligh itu bisa dikatakan sebagai sufi pengembara. &lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang muslim, mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia, yang menyebabkan terbentuknya inti sosial yaitu keluarga muslim dan masyarakat muslim.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam.&lt;br /&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesenian. Jalur yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa adalah seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Periode Kekuasaan Kerajaan-Kerajaan Islam&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Islam di Sumatera&lt;br /&gt;Terdapat beberapa kerajaan Islam di Sumatera seperti kerajaan Perlak yang merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia, Samudera Pasai (Abad ke 10 M) yang raja pertamanya Al Malik Ibrahim bin Mahdum, Aceh Darussalam (1511-1874), kerajaan Siak yang raja pertamanya Abdul Jalili Rachmad Syah (1723-1746). Masa kejayaan pendidikan Islam di Aceh yaitu pada masa pemerintahan Iskandar Muda seperti munculnya ulama-ulama besar. Salah satunya Syekh Abdur Rauf adalah ulama yang menterjemahkan&amp;nbsp; Al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu yang bernama Tarjamahul Mustafid bil Jawi (Rukiati, 2006:39)&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Di Aceh&lt;br /&gt;Pada zaman Samudera Pasai terdapat sistem pendidikan yang berlaku diantaranya: Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah fiqih Mahzab Syafi’I, berjalan secara informal berupa majelis ta’lim dan halaqah, tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama, dan biaya pendidikan bersuimber dari Negara. Pada kerajaan Aceh Darussalam juga terdapat lembaga pendidikan diantaranya:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Balai Seutia Hukuma&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tempat pengembangan ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Balai Seutia Ulama&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengurus masalah pendidikan dan pengajaran.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Balai Jama’ah Himpunan Ulama&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tempat ulama dan sarjana untuk bertukar pikiran membahas masalah pendidikan.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meunasah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; setingkat SD. Menulis dan membaca huruf arab, ilmu agama, bahasa jawi/melayu, akhlak, dan sejarah Islam.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rangkang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; merupakan masjid, pendidikannya setingkat MTs dengan materi bahasa arab, ilmu bumi, hisab, akhlak, fiqih.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dayah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; merupakan setingkat MA dengan materi fiqih, bahasa arab, tauhid, tasawuf, ilmu bumi, sejarah, ilmu pasti dan faraid. &lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dayah Teuku Cik&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; merupakan setingkat akademi dengan materi fiqih, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, bahasa dan sastra arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq, filsafat. (Rukiati, 2006:32).&lt;br /&gt;Jenjang pendidikan yang ada di Kerajaan Aceh Darussalam diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain: &lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sebagai tempat belajar Al-Qur’an &lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam.&lt;br /&gt;Fungsi lainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai tempat ibadah sholat 5 waktu untuk kampung itu.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai tempat sholat tarawih dan tempat membaca Al-Qur’an di bulan puasa.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tempat kenduri Maulud pada bulan Mauludan.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tempat menyerahkan zakat fitrah pada hari menjelang Idhul Fitri atau bulan puasa&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tempat mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampung.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tempat bermusyawarah dalam segala urusan &lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Letak meunasah harus berbeda dengan letak rumah, supaya orang segera dapat mengetahui mana yang rumah atau meunasah dan mengetahui arah kiblat sholat. (M. Ibrahim, 1991: 76)&lt;br /&gt;Selanjutnya sistem pendidikan di Dayah (Pesantren) seperti di Meunasah tetapi materi yang diajarkan adalah kitab Nahu, yang diartikan kitab yang dalam Bahasa Arab, meskipun arti Nahu sendiri adalah tata bahasa (Arab). Dayah biasanya dekat masjid, meskipun ada juga di dekat Teungku yang memiliki dayah itu sendiri, terutama dayah yang tingkat pelajarannya sudah tinggi. Oleh karena itu orang yang ingin belajar nahu itu tidak dapat belajar sambilan, untuk itu mereka harus memilih dayah yang agak jauh sedikit dari kampungnya dan tinggal di dayah tersebut yang disebut Meudagang. Di dayah telah disediakan pondok-pondok kecil mamuat dua orang tiap rumah. Dalam buku karangan Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, istilah Rangkang merupakan madrasah seringkat Tsanawiyah, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, dan akhlak. Rangkang juga diselenggarakan disetiap mukim. (Hasbullah, 2001: 32).&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan di Minangkabau &lt;br /&gt;Islam masuk kira-kira tahun 1250 M Untuk jalannya pendidikan Islam, didirikan balai adat, masjid, air tepian, pasar. Perkembangan Islam di Minangkabau cukup pesat. Pada tahun 1803, tiga orang anak Minangkabau melaksanakan ibadah haji di Mekah dan mempelajari ajaran wahabi. Pada tahun 1909-1930, lahirlah madsarah seperti sekolah adabiyah di Padang oleh Syaikh Abdullah Ahmad dan sekolah tinggi Islam oleh Mahmud Yunus pada 9 Desember 1940.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Islam di Jambi &lt;br /&gt;Adapun pesantren/madrasah yang ada di Jambi pada masa ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pesantren Nurul Iman, didirikan pada tahun 133 H oleh H. Abd. Samad dan sistem pengajarannya masih menggunakan sistem halaqah.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Madrasah Sa’adatud Darain yang didirikan oleh H. Ahmad Syakur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Madrasah Nurul Islam yang didirikan oleh Kamas H. Muh. Saleh.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Madrasah Jauharain, didirikan oleh H. Abd. Majid pada tahun 1340.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Madrasah As’ad, didirikan oleh K.Abd. Kadir pada tahun 1952. (Rukiati, 2006:38).&lt;br /&gt;Sistem pendidikan yang sama juga berlaku untuk wilayah Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Islam di Jawa&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masa Kerajaan Demak (1500-1550 M)&lt;br /&gt;Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.&lt;br /&gt;Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah. Pada masa ini terdapat kitab-kitab agama Islam yang kita kenal primbon, berisi catatan tentang ilmu agama, do’a, obat-obatan, ilmu ghaib, dan sebagainya. Terdapat juga Suluk Sunan Bonang, Suluk Sunan Kalijaga, Wasita Jati Sunang Geseng. Kitab ini berbentuk diktat dan didikan dan ajaran mistik yang ditulis tangan. Penyiaran Islam dilakukan dengan cara propaganda tingkah laku dan perbuatan, serta secara berangsur-angsur dalam menjalankan syari’at. Selain itu, d itempat-tempat sentral didiriakn masjid yang dipimpin oleh seorang badal yang merupakan sumber ilmu dan pusat pengajaran dan pendidikan. Wali suatu daerah dikenal dengan panggilan sunan. (Rukiati, 2006:41). Peyebaran Islam pada saat ini cukup pesat disebabkan penyebarannya mencakup segala sendi kehidupan misalnya filsafat hidup, kesenian, kesusilaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan sebagainya dibenturkan dengan konsep-konsep pendidikan Islam.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masa Kerajaan Mataram (1575-1757 M)&lt;br /&gt;Penyebaran Islam dari Demak dilanjutkan ke Pajang yang kemudian ke Mataram. Jawa Timur dan Mataram berhasil dipersatukan pada masa Sultan Agung. Penyebaran Islam dilakukan dengan akulturasi Islam ke dalam kebudayaan lama yang bercorak Indonesia asli dan Hindu, seperti:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gerebeg disesuaikan dengan Idul Fitri dan maulid yang dikenal dengan gerebeg poso dan mulud.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gamelan sekaten yang hanya dibunyikan pada gerebeg mulud di halaman masjid.&lt;br /&gt;Selain itu, di ibukota didirikan masjid Gede yang dikepalai oleh penghulu dengan 40 orang pegawai. Di tiap kota didirikan masjid kewedanaan yang dipimpin oleh Naib dengan 11 orang pegawai dan di tiap desa didirikan masjid desa yang dikepalai oleh seorang modin dengan bantuan 4 orang pegawai. Di masjid ini dilakukan pengajian Al-Qur’an, pokok-pokok ajaran Islam seperti cara ibadah. Pendidikan Islam di tanah Jawa kemudian menyebar di Bandar-bandar seperti Sunda Kelapa, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya dan sekitarnya (Rukiati, 2006:43).&lt;br /&gt;Selain itu, penyebaran agama Islam di Jawa tidak lepas dari peranan penting para wali yang dikenal dengan wali songo. Wali songo ini terdiri dari sembilan wali dengan gelar sunan yaitu:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maulana Malik Ibrahim, menyebarkan Islam di daerah Jawa Timur tepatnya di Gresik.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Ampel (Raden Rahmat) yang memusatkan dakwahnya di Ampel Surabaya.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), menyebarkan agama Islam di Jawa Timur, Tuban.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Giri (Raden Paku), melakukan penyebaran di Giri.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Drajat (Syaripudin), memusatkan dakwahnya di Sedayu, Jawa Timur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Kudus (Jafar Shidiq), menyebarkan Islam di daerah Kudus.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Kalijaga (R.M. Syahid), menyebarkan ajaran Islam di Demak.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Muria (Raden Prawoto) putra Sunan Kalijaga yang dalam dakwahnya lebih mencurahkan pada ajaran tasawuf.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sunan Gunung Jati (Fatahillah atau Syekh Nurullah) menyebarkan ajaran Islam di daerah Jawa Barat, yaitu daerah Cirebon. (Rukiati, 2006:45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Islam di Maluku&lt;br /&gt;Penyebaran Islam di Maluku dibawa oleh para mubalig dari Jawa. Raja yang terkenal yaitu Zainal Abidin (1486-1500). Penyebaran di Maluku mendapat tantangan yaitu orang-orang yang masih animisme dan misi Katolik dari Portugis oleh Fransiscus Xaverius (1546) sehingga keadaan di Maluku terbagi ke dalam:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maluku Utara, yang mayoritas Islam.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maluku Selatan, yang minoritas Islam.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maluku Tengah, penyebaran Islam di daerah ini seimbang. Terdapat sebuah madrasah di Ambon yaitu Madrasah Mahasinul Akhlak. (Rukiati, 2006:46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan&lt;br /&gt;Di Kalimantan, Islam masuk melalui Pontianak yang disiarkan oleh bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke-18. Di hulu Sungai Pawan, di Ketapang, Kalimantan Barat ditemukan pemakaman Islam kuno. Angka tahun yang tertua pada makam-makam tersebut adalah tahun 1340 Saka (1418 M). Jadi, Islam telah ada sebelum abad ke-15 dan diperkirakan berasal dari Majapahit karena bentuk makam bergaya Majapahit dan berangka tahun Jawa kuno. Di Kalimantan Timur, Islam masuk melalui Kerajaan Kutai yang dibawa oleh dua orang penyiar agama dari Minangkabau yang bernama Tuan Haji Bandang dan Tuan Haji Tunggangparangan. Di Kalimantan Selatan, Islam masuk melalui Kerajaan Banjar yang disiarkan oleh Dayyan, seorang khatib (ahli khotbah) dari Demak. Di Kalimantan Tengah, bukti kedatangan Islam ditemukan pada masjid Ki Gede di Kotawaringin yang bertuliskan angka tahun 1434 M.&lt;br /&gt;Ada juga yang mengatakan bahwa Islam masuk pada abad 15 M oleh mubalig dari Jawa yang merupakan pengaruh dari Sunan Giri dan Sunan Bonang. Perkembangan Islam tumbuh sejak berdirinya kerajaan Islam di Bandar oleh Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera). Di Kalimantan juga pada tahun 1716 M terdapat ulama besar yaitu Syeikh Arsyad Al-Banjiri (Rukiati, 2006:46) dan pada masa ini juga terdapat madrasah-madrasah yaitu: &lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pesantren/Madrasah di Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;Madrasah tertua di daerah ini adalah Madrasatun Najah Wal Fatah di Sei BAkau Besar Mempawah yang didirikan pada tahun 1918 M. madrasah lainnya:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Madrasah Perguruan Islam di Sambas (1922 M)&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Madrasah Al-Raudhatul Islamiyah di Pontianak (1936)&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Persatuan madrasah-madrasah Islam (PERMI) Indonesia Pontianak yang didirikan pada tahun 1954 M dengan maksud:&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyatukan nama-nama madrasah dengan nama yang sederhana, yaitu Madrasah Islam Al-Ibtidaiyah (SRI) dan Madrasah Islam Tsanawiyah (SMIP).&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyatukan leerplan&amp;nbsp; dari kitab-kitabnya.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mendirikan satu ikatan sebagai federasi.&lt;br /&gt;Selain itu, pada tanggal 15 Oktober 1946 di Banjarmasin didirikan Sekolah Menengah Pertama, pada tahun 1928 juga telah didirikan Sekolah Normal Islam Amuntai&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkumpulan Ikatan Madrasah-Madrasah Islam (IMI) pada tahun 1945.&lt;br /&gt;Perkumpulan ini mempunyai tujuan dan maksud, yaitu:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menciptakan adanya pendidikan dan pengajaran Islam&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Memperluas berdirinya perguruan-perguruan Islam&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Memperbaiki organisasi dan leerplan perguruan-perguruan Islam yang telah ada agar sesuai dengan hajat masyarakat. (Rukiati, 2006:48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Islam di Sulawesi&lt;br /&gt;Islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo. Hal masuknya Islam ke Sulawesi ini tercatat pada Lontara Bilang. Menurut catatan tersebut, raja pertama yang memeluk Islam ialah Kanjeng Matoaya, raja keempat dari Tallo yang memeluk Islam pada tahun 1603. Adapun penyiar agama Islam di daerah ini berasal antara lain dari Demak, Tuban, Gresik, Minangkabau, bahkan dari Campa. Di Maluku, Islam masuk melalui bagian utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Diperkirakan Islam di daerah ini disiarkan oleh keempat ulama dari Irak, yaitu Syekh Amin, Syekh Mansyur, Syekh Umar, dan Syekh Yakub pada abad ke-8.&lt;br /&gt;Syekh As’ad di Singkang salah seorang yang berjasa dalam perkembangan pondok/pesantren. Sistem pengajarannya sama dengan sistem pengajaran yang ada di Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Madrasah-madrasah di Sulawesi diantaranya adalah Madrasah Amiriah Islamiah di Bone (Sulawesi Selatan tahun 1933). Pelindung utama madrasah ini adalah Raja Bone, Andi Mappankjuki. Ilmu yang diajarkan tidak ilmu agama saja, melainkan juga pengetahuan umum. Madrasah ini mempunyai tiga bagian, yaitu: Ibtidaiyah (50% ilmu agama dan 50% pengetahuan umum), Tsanawiyah (60% ilmu agama dan 40% pengetahuan umum), Mu’alimin (80% ilmu agama dan 20% pengetahuan umum). (Rukiati, 2006:51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejarah Pendidikan Islam di Nusa Tenggara&lt;br /&gt;Islam masuk ke Nusa Tenggara seiring dengan penaklukan daerah Bone (1606 M), Bima, dan Buton (1626 M) oleh kerajaan Goa. Dengan ditaklukkannya daerah tersebut maka penyebaran Islam sampai ke Nusa Tenggara yang akhirnya menyebar dari Lombok, Bima, Sumbawa, Buton. &lt;br /&gt;Pada tahun 1943 didirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah oleh K.H. Muhammad Zainudin. Madrasah ini mempunyai bagian yaitu: Tahdliryah, Ibtidaiyah, Mu’alimin, SMI, dan PGA. (Rukiati, 2006:53). Pada akhir 1372 H, tepatnya tanggal 15 Jumadil Akhir (1 Maret 1953 M) Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah dengan seluruh cabangnya diorganisasikan dengan nama Nahdlatul Wathan (NW) yaitu organisasi pendidikan dan social yang berpusat di Pancor (Lombok Timur). (Rukiati, 2006:54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam pada Zaman Penjajahan Belanda dan Jepang&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam di Zaman Penjajahan Belanda&lt;br /&gt;Pendidikan selama penjajahan Belanda dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar, yaitu pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie). Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial.&lt;br /&gt;Kondisi pendidikan di zaman VOC juga tidak melebihi perkembangan pendidikan di zaman Portugis atau Spanyol. Pendidikan diadakan untuk memenuhi kebutuhan para pegawai VOC dan keluarganya di samping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah terlatih dari kalangan penduduk pribumi. VOC memang mendirikan sekolah-sekolah baru selain mengambil alih lembaga-lembaga pendidikan yang sebelumnya berstatus milik penguasa kolonial Portugis atau gereja Katholik Roma. Secara geografis, pusat pendidikan yang dikelola VOC juga relative terbatas di daerah Maluku dan sekitarnya. Di Sumatera, Jawa dan Sulawesi, VOC memilih untuk tidak melakukan kontak langsung dengan penduduk, tetapi mempergunakan mediasi para penguasa lokal pribumi. Jikalaupun ada, itu hanya berada di pusat konsentrasi pendudukannya yang ditujukan bagi para pegawai dan keluarganya.&lt;br /&gt;Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Dasar&lt;br /&gt;Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. &lt;br /&gt;(2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekolah Latin &lt;br /&gt;Diawali dengan sistem numpang-tinggal (in de kost) di rumah pendeta tahun 1642. &lt;br /&gt;(3)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)&lt;br /&gt;Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. &lt;br /&gt;(4)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Academie der Marine (Akademi Pelayanan)&lt;br /&gt;Berdiri tahun 1743, dimaksudkan untuk mendidik calon perwira pelayaran dengan lama studi 6 tahun. &lt;br /&gt;(5)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekolah Cina&lt;br /&gt;Didirikan untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. &lt;br /&gt;(6)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir abad ke-18, setelah VOC mengalami kebangkrutan, kekuasaan Hindia Belanda akhirnya diserahkan kepada pemerintah kerajaan Belanda langsung. Pada masa ini, pendidikan mulai memperoleh perhatian relatif maju dari sebelumnya.&lt;br /&gt;Beberapa prinsip yang oleh pemerintah Belanda diambil sebagai dasar kebijakannya di bidang pendidikan antara lain:&lt;br /&gt;(1) Menjaga jarak atau tidak memihak salah satu agama tertentu; (2) Memperhatikan keselarasan dengan lingkungan sehingga anak didik kelak mampu mandiri atau mencari penghidupan guna mendukung kepentingan kolonial; (3) Sistem pendidikan diatur menurut pembedaan lapisan sosial, khususnya yang ada di Jawa.; (4) Pendidikan diukur dan diarahkan untuk melahirkan kelas elit masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung supremasi politik dan ekonomi pemerintah kolonial. Jadi secara tidak langsung, Belanda telah memanfaatkan kelas aristokrat pribumi untuk melanggengkan status quo kekuasaan kolonial di Indonesia (Najamuddin, 2005:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam di Zaman Penjajahan Jepang&lt;br /&gt;Didorong semangat untuk mengembangkan pengaruh dan wilayah sebagai bagian dari rencana membentuk Asia Timur Raya yang meliputi Manchuria, Daratan China, Kepulauan Filiphina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo China dan Rusia di bawah kepemimpinan Jepang, negera ini mulai melakukan ekspansi militer ke berbagai negara sekitarnya tersebut. Dengan konsep “Hakko Ichiu” (Kemakmuran Bersama Asia Raya) dan semboyan “Asia untuk Bangsa Asia”, bangsa fasis inipun menargetkan Indonesia sebagai wilayah potensial yang akan menopang ambisi besarnya. Dengan konteks sejarah dunia yang menuntut dukungan militer kuat, Jepang mengelola pendidikan di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan di masa pendudukan Jepang sangat dipengaruhi motif untuk mendukung kemenangan militer dalam peperangan Pasifik.&lt;br /&gt;Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang dapat diikhtisarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda. (2) Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun. (3) Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian. (4) Pendidikan Tinggi.&lt;br /&gt;Guna memperoleh dukungan tokoh pribumi, Jepang mengawalinya dengan menawarkan konsep Putera Tenaga Rakyat di bawah pimpinan Soekarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur pada Maret 1943. Konsep ini dirumuskan setelah kegagalan the Triple Movement yang tidak menyertakan wakil tokoh pribumi. Tetapi PTR akhirnya mengalami nasib serupa setahun kemudian. Pasca ini, Jepang tetap merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan mereka. Upaya Jepang mengambil tenaga pribumi ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem pendidikan mereka di Manchuria dan China yang menerapkan sistem Nipponize (Jepangisasi). Karena itulah, di Indonesia mereka mencobakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun patut dicatat bahwa pada menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang untuk menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya Sendenbu (propagator Jepang) untuk menanamkan ideologi yang diharapkan dapat menghancurkan ideologi Indonesia Raya.&lt;br /&gt;Jepang juga memandang perlu melatih guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain: (1) Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu; (2) Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang; (3) Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang; (4) Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta (5) Olaharaga dan nyanyian Jepang. &lt;br /&gt;Setelah menguasai Indonesia, Jepang menginstruksikan ditutupnya sekolah-sekolah berbahasa Belanda, pelarangan materi tentang Belanda dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Termasuk yang harus ditutup adalah HCS, sehingga memaksa peranakan China kembali ke sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di bawah koordinasi Hua-Chino Tsung Hui, yang berimplikasi pada adanya proses resinification (penyadaran dan penegasan identitas sebagai keturunan bangsa China). &lt;br /&gt;Sementara itu terhadap pendidikan Islam, Jepang mengambil beberapa kebijakan antara lain: (1) Mengubah Kantoor Voor Islamistische Zaken pada masa Belanda yang dipimpin kaum orientalis menjadi Sumubi yang dipimpin tokoh Islam sendiri, yakni K.H. Hasyim Asy’ari. Di daerah-daerah dibentuk Sumuka; (2) Pondok pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan pemerintah Jepang; (3) Mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah yang mengajarkan latihan dasar seni kemiliteran bagi pemuda Islam di bawah pimpinan K.H. Zainal Arifin; (4) Mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta di bawah asuhan K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta; (4) Diizinkannya ulama dan pemimpin nasionalis membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA) yang belakangan menjadi cikal-bakal TNI di zaman kemerdekaan; dan (5) Diizinkannya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) terus beroperasi, sekalipun kemudian dibubarkan dan diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menyertakan dua ormas besar Islam, Muhammadiyah dan NU. Lepas dari tujuan semula Jepang memfasilitasi berbagai aktivitas kaum muslimin ketika itu, nyatanya hal ini membantu perkembangan Islam dan keadaan umatnya setelah tercapainya kemerdekaan.&lt;br /&gt;D.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam Zaman Kemerdekaan&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam Zaman Kemerdekaan I (1945-1965)&lt;br /&gt;Setelah merdeka, pendidikan agama mendapat perhatian yang cukup serius dari pemerintah. Hal ini tampak pada bantuan terhadap lembaga yang dianjurkan oleh Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) tanggal 27 Desember 1945. Badan ini menyebutkan bahwa madrasah dan pesantren pada hakekatnya adalah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat akar dalam masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah mendapat perhatian dan bantuan material dari pemerintah. (Rukiati, 2006:65).&lt;br /&gt;Peristiwa penting adalah integrasi pelajaran agama dan pelajaran umum. Keberadaan madrasah sudah diakui dan sederajat dengan SMP dan SMA umum yang dikelola oleh Depdikbud, jauh sebelum ditetapkan UU No. 2 Tahun 1989. hal ini bias dilihat dengan adanya SKB 3 Menteri antara Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1976. selanjutnya diikuti oleh SKB 2 Menteri, antara Menteri Agama Nomor 0.45/1984 dengan Menteri P dan K Nomor 0299/V/1984, tentang pembukuan Kurikulum sekolah umum dan kurikulum madrasah. Dalam hal tersebut dinyatakan bahwa lulusan madrasah dapat dan boleh melanjutkan ke sekolah-sekolah umum yang lebih tinggi. (Rukiati, 2006:69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam Zaman Kemerdekaan II (dimulai tahun 1965)&lt;br /&gt;Masa ini adalah masa peralihan dari orde lama ke orde baru. Pada masa ini adanya peluang dan kesempatan untuk berkembangnya pendidikan Islam secara terintegrasi dalam Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Th. 1989 dilihat dari beberapa pasal:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasal 1 ayat 2. Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasal 4 tentang Tujuan Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasal 10 tentang pendidikan di dalam keluarga&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasal 11 tentang pentingnya pendidikan keagamaan&lt;br /&gt;Dari hal di atas dapat diasumsikan bahwa kesuksesan pendidikan nasional tidak lepas dari peranan pendidikan agama. Hingga saat ini hal ini telah diwujudkan dengan adanya sekolah MI, MTs, MA, dan Universitas Islam yang tentunya memberikan peranan penting dalam dinamisasi pendidikan Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peranan Organisasi Islam di Indonesia&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nahdlatul Ulama&lt;br /&gt;Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 35 juta. NU seringkali dikategorikan sebagai Islam traditionalis, salah satunya karena sistem pendidikan pesantrennya. Pesantren adalah sekolah agama Islam yang dikelola oleh para kiai NU, dan biasanya menyediakan penginapan bagi murid-muridnya. Pesantren pada umumnya mengajarkan cara membaca dan menulis Al-Quran dalam bahasa Arab, menghapal ayat-ayat suci Al-Quran, pelajaran agama Islam lainnya, dan juga ilmu dan pengetahuan umum.&lt;br /&gt;Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1928 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.&lt;br /&gt;Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.&lt;br /&gt;Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi di Mekkah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bidah. Gagasan kaum Wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah maupun PSII di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermazhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.&lt;br /&gt;Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925. Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa K.H. Hasyim Asy'ari, K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya melakukan walk out.&lt;br /&gt;Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah.&lt;br /&gt;Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermazhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah dan peradaban yang sangat berharga.&lt;br /&gt;Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah daftar Ketua Rais Aam (pimpinan tertinggi) Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama: KH Mohammad Hasyim Asy'arie 1926 - 1947, KH Abdul Wahab Chasbullah 1947 - 1971, KH Bisri Syansuri 1972 - 1980, KH Muhammad Ali Maksum 1980 - 1984, KH Achmad Muhammad Hasan Siddiq 1984 - 1991, KH Ali Yafie (pjs) 1991 - 1992, KH Mohammad Ilyas Ruhiat 1992 - 1999, KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz 1999 - sekarang &lt;br /&gt;Tujuan Organisasi Nahdlatul Ulama adalah Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Usaha Organisasi Nahdlatul Ulama, yaitu:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan. &lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa. &lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan. &lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat. &lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Muhammadiyah&lt;br /&gt;Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad s.a.w. Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi.&lt;br /&gt;Gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Akan tetapi, ia juga menampilkan kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang ekstrem.&lt;br /&gt;Dalam pembentukannya, Muhammadiayah banyak merefleksikan kepada perintah-perintah Al Quran, diantaranya surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Ayat tersebut, menurut para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya.&lt;br /&gt;Sebagai dampak positif dari organisasi ini, kini telah banyak berdiri rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;Berdasarkan situs resmi Muhammadiyah, Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912. Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), daerah pengaruh Muhammadiyah masih terbatas di karesidenan Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia. &lt;br /&gt;Daftar Pimpinan Muhammadiyah Indonesia antara lain: KH Ahmad Dahlan 1912-1922, KH Ibrahim 1923-1934, KH Hisyam 1935 - 1936, KH Mas Mansur 1937 - 1941, Ki Bagus Hadikusuma 1942 - 1953, Buya AR Sutan Mansur 1956, H.M. Yunus Anis 1959, KH. Ahmad Badawi 1962 - 1965, KH. Faqih Usman 1968, KH. AR Fachruddin 1971 - 1985, KHA. Azhar Basyir, M.A. 1990, Prof. Dr. H. M. Amien Rais 1995, Prof. Dr. H.A. Syafii Ma'arif 1998 - 2005, Prof. Dr. HM Din Syamsuddin 2005 - 2010. &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pendidikan Islam di Indonesia dari masa ke masa selalu mengalami kemajuan dan kerkembangan. Situasi dinamis ini bermula dari sejarah masuknya Islam yang dibawa oleh para Syarif Alawiyin dari hadramaut. Pertumbuhan pendidikan Islam berkembang seara terus-menerus hingga masa kerajaan Islam yang masuk melalui Sumatera. Pada zaman penjajahan Belanda maupun Jepang pendidikan Islam mengalami kemajuan yang lambat. Hal ini disebabkan oleh intervensi penuh dari pihak penjajah. Namun pendidikan Islam kembali menemukan jiwanya pada masa kemerdekaan hingga saat ini terbukti oleh betapa berpengaruhnya organisasi Islam serta lembaga-lembaga Islam lainnya, serta peranan pesantren. Hal ini juga didukung oleh sekolah-sekolah Islam hingga Universitas Islam saat ini.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah, Taufik. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: CV. Rajawali. 1983&lt;br /&gt;Najamuddin. Perjalanan Pendidikan di Tanah Air. Jakarta: Rineka Cipta. 2005.&lt;br /&gt;Al-Aydrus, Muhammad Hasan. Penyebaran Islam di Asia Tenggara. Asyraf Hadhramaut dan Peranannya. Jakarta: Lentera. 1997.&lt;br /&gt;Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2001&lt;br /&gt;Ibrahim, M. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: CV. Tumaritis. 1991&lt;br /&gt;Mustofa.A, aly, Abdullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Untuk Fakultas Tarbiyah. Bandung: CV. Pustaka Setia. 1999.&lt;br /&gt;Rukiati, K. Enung. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung: Pustaka Setia. 2006.&lt;br /&gt;http://dahlanforum.wordpress.com.Agama Islam di Indonesia. Tanggal 16 Oktober 2009 pukul 14.00&lt;br /&gt;www.nanpunya.wordpress.com.penyebaran islam di Indonesia. Tanggal 16 Oktober 2009 pukul 14.00&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama. Tanggal 16 Oktober 2009 pukul 14.00&lt;br /&gt;http://www.muhammadiyah.or.id. Tanggal 16 Oktober 2009 pukul 14.00&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-7428374201314475229?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/7428374201314475229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/10/sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/7428374201314475229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/7428374201314475229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/10/sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia.html' title='Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-4758609206950726233</id><published>2009-10-10T06:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T06:53:44.158-07:00</updated><title type='text'>FOTOGRAFI</title><content type='html'>&lt;b style="background-color: black; color: white;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/StCOeoC96BI/AAAAAAAAACA/Za_dr8uKK8A/s1600-h/camera.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="168" src="http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/StCOeoC96BI/AAAAAAAAACA/Za_dr8uKK8A/s200/camera.jpg" width="168" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="background-color: black; color: white;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kata Fotografi diambil dari Yunani yaitu kata Fotos yang berarti sinar atau cahaya, dan Grafos yang bararti gambar. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses pembuatan lukisan dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="background-color: black; color: white;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Prinsip fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa). &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Pada umumnya semua hasil karya fotografi dikerjakan dengan kamera, dan kebanyakan kamera memiliki cara kerja yang sama dengan cara kerja mata manusia. Seperti halnya mata, kamera memiliki lensa, dan mengambil pantulan cahaya terhadap suatu objek dan menjadi sebuah image. Tetapi, sebuah kamera dapat merekam sebuah image kedalam sebuah film dan hasilny tidak hanya bisa dibuat permanen tetapi dapat pula diperbanyak, dan diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan mata, hanya dapat merekam image kedalam memori otak dan tidak bisa dilihat secara langsung kepada orang lain. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Untuk menghasilkan ukuran cahaya yang tepat untuk menghasilkan bayangan, digunakan bantuan alat ukur lightmeter. Setelah mendapat ukuran cahaya yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur cahaya tersebut dengan mengatur ASA (ISO Speed), diafragma (aperture), dan penggunaan filter. (&lt;i&gt;berbagai sumber)&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-4758609206950726233?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.focusnusantara.com' title='FOTOGRAFI'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/4758609206950726233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/10/fotografi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4758609206950726233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/4758609206950726233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/10/fotografi.html' title='FOTOGRAFI'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/StCOeoC96BI/AAAAAAAAACA/Za_dr8uKK8A/s72-c/camera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744645639757086349.post-135655716549533859</id><published>2009-10-09T06:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T06:16:45.037-07:00</updated><title type='text'>इन्फोर्मासी Komputer</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pengertian Komputer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kata komputer berasal dari bahasa Latin yaitu Computare yang artinya menghitung. Dalam bahasa Inggris disebut to compute. Secara definisi komputer diterjemahkan sebagai sekumpulan alat elektronik yang saling bekerja sama, dapat menerima data (input), mengolah data (proses) dan memberikan informasi (output) serta terkoordinasi dibawah kontrol program yang tersimpan di memorinya. Jadi cara kerja komputer dapat kita gambarkan sebagai berikut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;1. Input Device, adalah perangkat-perangkat keras komputer yang berfungsi untuk memasukkan data ke dalam memori komputer, seperti keyboard, mouse, joystick dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;2. Prosesor, adalah perangkat utama komputer yang   mengelola seluruh aktifitas komputer itu sendiri. Prosesor terdiri dari dua bagian utama, yaitu ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Control Unit (CU), merupakan komponen utama prosesor yang mengontrol semua perangkat yang terpasang pada komputer, mulai dari input device sampai output device.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Arithmetic Logic Unit (ALU), merupakan bagian dari prosesor yang khusus mengolah data aritmatika (menambah, mengurang dll) serta data logika (perbandingan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;3. Memori adalah media penyimpan data pada komputer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Memori terbagi atas dua macam, yaitu ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Read Only Memory (ROM), yaitu memori yang hanya bisa dibaca saja, tidak dapat dirubah dan dihapus dan sudah diisi oleh pabrik pembuat komputer. Isi ROM diperlukan pada saat komputer dihidupkan. Perintah yang ada pada ROM sebagian akan dipindahkan ke RAM. Perintah yang ada di ROM antara lain adalah perintah untuk membaca sistem operasi dari disk, perintah untuk mencek semua peralatan yang ada di unit sistem dan perintah untuk menampilkan pesan di layar. Isi ROM tidak akan hilang meskipun tidak ada aliran listrik. Tapi pada saat sekarang ini ROM telah mengalami perkembangan dan banyak macamnya, diantaranya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;· PROM (Programable ROM), yaitu ROM yang bisa kita program kembali dengan catatan hanya boleh satu kali perubahan setelah itu tidak dapat lagi diprogram.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;· RPROM (Re-Programable ROM), merupakan perkembangan dari versi PROM dimana kita dapat melakukan perubahan berulangkali sesuai dengan yang diinginkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;· EPROM (Erasable Program ROM), merupakan ROM yangdapat kita hapus dan program kembali, tapi cara penghapusannya dengan menggunakan sinar ultraviolet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;· EEPROM (Electrically Erasable Program ROM), perkembangan mutakhir dari ROM dimana kita dapat mengubahdan menghapus program ROM dengan menggunakan teknikelektrik. EEPROM ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Random Access Memori (RAM), dari namanya kita dapat artikan bahwa RAM adalah memori yang dapat diakses secara random. RAM berfungsi untuk menyimpan program yang kita olah untuk sementara waktu (power on) jika komputer kita matikan, maka seluruh data yang tersimpan dalam RAM akan hilang. Tujuan dari RAM ini adalah mempercepat pemroses data pada komputer. Agar data yang kita buat tidak dapat hilang pada saat komputer dimatikan, maka diperlukan media penyimpanan eksternal, seperti Disket, Harddisk, flash disk, PCMCIA card dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;4. Output Device, adalah perangkat komputer yang berguna untuk menghasilkan keluaran, apakah itu ke kertas (hardcopy), ke layar monitor (softcopy) atau keluaran berupa suara. Contohnya printer, speaker, plotter, monitor dan banyak yang lainnya. Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa prinsip kerja komputer tersebut diawali memasukkan data dari perangkat input, lalu data tersebut diolah sedemikian rupa oleh CPU sesuai yang kita inginkan dan data yang telah diolah tadi disimpan dalam memori komputer atau disk. Data yang disimpan dapat kita lihat hasilnya melalui perangkat keluaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Komponen-Komponen Komputer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Komputer terdiri dari tiga komponen utama yang tidak dapat dipisahkan, yaitu ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;1. Hardware (perangkat keras), Merupakan peralatan fisik dari komputer yang dapat kita lihat dan rasakan. Hardware ini terdiri dari ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Input/Output Device (I/O Device) Terdiri dari perangkat masukan dan keluaran, seperti keyboard dan printer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Storage Device (perangkat penyimpanan) Merupakan media untuk menyimpan data seperti disket, harddisk, CD-I, flash disk dll.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Monitor /Screen Monitor merupakan sarana untuk menampilkan apa yang kita ketikkan pada papan keyboard setelah diolah oleh prosesor. Monitor disebut juga dengan Visual Display Unit (VDU).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Casing Unit adalah tempat dari semua peralatan komputer, baik itu motherboard, card, peripheral lain dan Central Procesing Unit (CPU).Casing unit ini disebut juga dengan System Unit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Central Procesing Unit (CPU) adalah salah satu bagian komputer yang paling penting, karena jenis prosesor menentukan pula jenis komputer. Baik tidaknya suatu komputer, jenis komputer, harga komputer, ditentukan terutama oleh jenis prosesornya.Semakin canggih prosesor komputer, maka kemampuannya akan semakin baik dan biasanya harganya akan semakin mahal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;2. Software (perangkat lunak), merupakan program-program komputer yang berguna untuk menjalankan suatu pekerjaan sesuai dengan yang dikehendaki. Program tersebut ditulis dengan bahasa khusus yang dimengerti oleh komputer. Software terdiri dari beberapa jenis, yaitu ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Sistem Operasi, seperti DOS, Unix, Linux, Novell, OS/2, Windows, Adalah software yang berfungsi untuk mengaktifkan seluruh perangkat yang terpasang pada komputer sehingga masing-masingnya dapat saling berkomunikasi. Tanpa ada sistem operasi maka komputer tak dapat difungsikan sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Program Utility, seperti Norton Utility, Scandisk, PC Tools, dll.Program utility berfungsi untuk membantu atau mengisikekurangan/kelemahan dari system operasi, misalnya PC Tools dapat melakukan perintah format sebagaimana DOS, tapi PC Tools mampu memberikan keterang dan animasi yang bagus dalam proses pemformatan. File yang telah dihapus oleh DOS tidak dapat dikembalikan lagi tapi dengan program bantu hal ini dapat dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Program Aplikasi, seperti GL, MYOB, Payroll dll. Merupakan program yang khusus melakukan suatu pekerjaan tertentu, seperti program gaji pada suatu perusahaan. Maka program ini hanya digunakan oleh bagian keuangan saja tidak dapat digunakan oleh departemen yang lain. Biasanya program aplikasi ini dibuat oleh seorang programmer komputer sesuai dengan permintaan / kebutuhan seseorang / lembaga/ perusahaan guna keperluan interennya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Program Paket, seperti Microsofr office, Adobe fotoshop, macromedia studio, open office dll Adalah program yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat digunakan oleh banyak orang dengan berbagai kepentingan. Seperti MS-office, dapat digunakan oleh departemen keuangan untuk membuat nota, atau bagian administrasi untuk membuat surat penawaran dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;    * Bahasa Pemrograman, PHP, ASP, dBase, Visual Basic, dll.Merupakan software yang khusus digunakan untuk membuat program komputer, apakah itu sistem operasi, program paket dll. Bahasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;pemrograman ini biasanya dibagi atas 3 tingkatan, yaitu ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;o Low Level Language, bahasa pemrograman generasi pertama,bahasa pemrograman jenis ini sangat sulit dimengerti karena instruksinya menggunakan bahasa mesin. Biasanya yang mengerti hanyalah pembuatnya saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;o Midle Level Language, merupakan bahasa pemrograman tingkat menengah dimana penggunaan instruksi sudah mendekati bahasa sehari-hari, walaupun begitu masih sulit untuk di mengerti karena banyak menggunakan singkatansingakatan seperti STO artinya simpan (singkatan dari STORE) dan MOV artinya pindah (singkatan dari MOVE).Yang tergolong kedalam bahasa ini adalah Assembler, ForTran (Formula Translator).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;o High Level Language, merupakan bahasa tingkat tinggi yang mempunyai cirri mudah dimengerti, karena menggunakan bahasa sehari-hari, seperti BASIC, dBase, Visual Basic, VB.Net dll.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;3. Brainware (User),&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;User adalah personel-personel yang terlibat langsung dalam pemakaian komputer,seperti Sistem analis, programmer, operator, user, dll. Pada organisasi yang cukup besar, masalah komputerisasi biasanya ditangani oleh bagian khusus yang dikenal dengan bagian EDP (Electronic Data Processing), atau sering disebut dengan EDP Departemen, yang dikepalai oleh seorang Manager EDP.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744645639757086349-135655716549533859?l=oktarizal-drianus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/feeds/135655716549533859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/10/komputer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/135655716549533859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744645639757086349/posts/default/135655716549533859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oktarizal-drianus.blogspot.com/2009/10/komputer.html' title='इन्फोर्मासी Komputer'/><author><name>Octarizal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07023048446258669362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4nrKgg9b0B4/Ss9BO1u94QI/AAAAAAAAABc/wh2ruCyNaLg/S220/5215_1021725999872_1726884190_40581_1362257_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
